Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Pembentukan Bakamla Bakal Kandas

Posted: 16 Sep 2014 12:47 AM PDT

Penguatan Badan Koordinasi Keamanan Laut menjadi Badan Keamanan Laut sudah digulirkan sejak empat tahun lalu. Proses penguatan melalui revisi UU 6/1996 tentang Perairan Indonesia tersebut justru terancam gagal ketika akan dibahas di DPR. 


Perubahan pasal 24 ayat 3 UU Perairan Indonesia dengan menghilangkan kata 'koordinasi' pada Bakorkamla menjadi Bakamla merupakan basis dari penguatan kewenangan lembaga tersebut. Selama ini, Bakorkamla membawahi 12 instansi yang juga memiliki otoritas masing-masing dalam penegakan hukum maupun menjaga kedaulatan dan keamanan di laut. Ketika diubah menjadi Bakamla, setiap langkah operasi keamanan laut seluruh instansi terkait berada dalam satu komando. Model Bakamla adalah single agency, multi task.

DPR pada 18 Juni 2014 sudah sepakat memasukkan draf RUU Perairan Indonesia sebagai RUU inisiatif dari pemerintah dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2014. Dengan demikian, RUU ini seharusnya dibahas sebelum masa jabatan anggota DPR 2009-2014 berakhir pada 30 September ini.


Namun, menurut sumber Jurnal Maritim di lingkungan pemerintahan, ada kendala yang bisa membuat proses revisi UU 6/1996 makin berlarut-larut. Dari empat kementerian yang harus meneken draf RUU Perairan Indonesia, hanya Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, Kementerian Pertahanan serta Kementerian Hukum dan HAM yang sudah memaraf. Hanya Menko Polhukam yang belum memberikan persetujuan. Belum diketahui dengan pasti alasan dari Menko Polhukam belum meneken draf RUU tersebut. Padahal, Menko Polhukam notabene adalah Ketua Bakorkamla!

"Presiden SBY ternyata tidak bertanggung jawab membentuk Bakorkamla kalau memang benar Menko Polhukam sebagai Ketua Bakorkamla belum paraf revisi UU Perairan yang mencantumkan dasar pebentukan Bakamla," ujar Direktur National Maritime Institute Indonesia (Namarin) Siswanto Rusdi kepada Jurnal Maritim di Jakarta, Senin (15/9).

Siswanto pun menyatakan keheranannya. Presiden Yudhoyono sebagai penggagas Bakorkamla pada 2005 justru di akhir masa jabatan sepertinya enggan membesarkan Bakorkamla seperti tecermin dari sikap Menko Polhukam. Jangan ada kesan, pembentukan Bakorkamla sekadar menghabiskan anggaran negara, padahal setiap gerak operasi keamanan laut harus terintegrasi dan efisien. Itu bisa dibuktikan dengan keberadaan Bakamla.

Meski ada sinyalemen revisi UU 6/1996 bisa kandas, pembentukan Bakamla bisa dilakukan dengan menyelipkan klausul keamanan laut di RUU Kelautan. Saat ini RUU Kelautan sedang membahas Daftar Inventarisasi Masalah (DIM).

Siswanto Rusdi mengingatkan, jika RUU Perairan Indonesia gagal disahkan oleh DPR periode sekarang, maka naskah RUU itu dimulai kembali dari "nol". Mengingat kondisi partai-partai Koalisi Merah Putih menguasai parlemen, sulit bagi pemerintahan Jokowi-JK untuk mengajukan UU itu.

"Ke depannya kalau tidak ada keamanan laut yang jelas, maka Indonesia Poros Maritim Dunia dipastikan gagal," jelas Siswanto.

Peluang lain yang paling memungkinkan, menurut Siswanto adalah menggunakan UU 17/2008 tentang Pelayaran sehingga Jokowi dapat membuat Peraturan Pemerintah untuk memperkuat kewenangan Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan. (JN)

TNI Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Terjun Payung Militer

Posted: 16 Sep 2014 12:44 AM PDT

Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Terjun Payung Militer ke-38 Conseil International Du Sport Militaire (CISM) yang akan berlangsung di Solo, Jawa Tengah, dari 17 September sampai dengan 28 September 2014. Acara olahraga militer ini akan diselenggarakan oleh Komite Olahraga Militer Indonesia (KOMI) yang merupakan bagian dari agenda CISM atau Dewan Olahraga Militer Internasional.


Menurut Brigjen TNI Endang Sodik, MBA selaku Ketua Pelaksana yang kesehariannya menjabat sebagai Pa Sahli Tk. II Kawasan Eropa dan AS Sahli Bid. Hubint Panglima TNI, kejuaraan  dunia terjun payung militer ini akan melibatkan 50 negara dari 135 negara anggota CISM serta mengundang delegasi dari 11 negara sebagai pengamat antara lain : Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, Hongkong, Jepang, Laos, Macau, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, dan Singapura.

"Kejuaraan Dunia Terjun Payung Militer ke-38  mengikuti Peraturan CISM dan Peraturan Terjun Payung CISM (edisi 2014) dan akan mempertandingkan sejumlah kategori termasuk Akurasi, Formasi Skydive, dan Style" tutur Brigjen TNI Endang Sodik.


Lebih lanjut Brigjen TNI Endang Sodik mengatakan, Kategori Akurasi akan dipusatkan di Stadion Manahan Solo, sedangkan Formasi Skydive dan  Kategori Gaya akan digelar di Alun-alun Selatan dan Bandara Adi Soemarmo. "Kota Solo telah dipilih sebagai tempat penyelenggaraan kejuaraan karena lalu lintas udara dianggap tidak padat dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya seperti  Jakarta, Bali, Yogyakarta atau Surabaya, selain itu juga untuk mempromosikan kota Solo", imbuhnya.

Adapun tujuan kejuaraan ini, dalam konteks pembinaan prestasi diarahkan guna meningkatkan prestasi atlet Terjun Payung TNI, memperbesar peran TNI dalam membantu meningkatkan prestasi olahraga nasional, yang menjadi bagian sumber atlet andalan nasional, sekaligus meraih hasil yang optimal di ajang internasional guna mencapai rahian prestasi di masa yang akan datang. Sedangkan dalam kaitan kelembagaan diarahkan untuk peningkatan citra Indonesia dan TNI dalam membangun persahabatan, serta integrasi dan promosi Indonesia, khususnya promosi Kota Solo yang berdimensi budaya dan pariwisata.

Conceil Internationale Du Sport Militaire (CISM) yang didirikan pada tanggal 18 Februari 1948 adalah salah satu organisasi multidisiplin terbesar di dunia. Organisasi ini menyelenggarakan berbagai acara olahraga untuk angkatan bersenjata dari 135 negara-negara anggota. Tentara dan pasukan militer dapat bertemu dalam suatu arena kompetisi olahraga melalui CISM. Hal ini sesuai dengan filosofi dan cita-cita yang ditetapkan dalam pernyataan misi CISM pada tahun 1998, ditandatangani oleh semua negara anggota.

Tujuan utama CISM adalah untuk memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia dengan menyatukan angkatan bersenjata melalui olahraga,  dengan motto "Friendship Through Sport'' and ''Game for Peace'' – From Positive Initiatives to Systemic Integrated Programs",  yang memiliki 3 (tiga) tujuan pokok, persahabatan dan perdamaian, prestasi olahraga dan promosi. (MPI)

Autentikasi : Koordinator Bidang Humas KOMI, Letkol Inf Ketut Murda

Produksi Senjata Tank, Pindad Gandeng CMI Belgia

Posted: 16 Sep 2014 12:40 AM PDT

PT Pindad (Persero) menggandeng Cockerill Maintenance & Ingenierie SA Defence (CMI) untuk mengembangkan sistem persenjataan kendaraan tempur atau tank. Perusahaan asal Belgia tersebut mengikat perjanjian kerjasama jangka panjang dengan PT Pindad.




Kesepakatan Pindad dan CMI ini tertuang dalam sebuah nota kesepahaman yang ditandatangani di hanggar produksi panser Anoa milik Pindad, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (15/9/2014).

"Kesepakatan ini membawa dampak positif bagi pengembangan Pindad tak hanya sebagai perakit sistem persenjataan. Tetapi sekaligus meningkatkan kemampuan teknologi kami dan membawa Pindad masuk ke dalam global supply chain pasar turret global bersama CMI," ucap Drektur Utama Pindad Sudirman Said.


Pindad sebagai produsen alat utama sistem persenjataan (alutsista) asal Indonesia ini siap bekerjasama dengan CMI dalam mengembangkan sistem senjata atau turret untuk kaliber 90 mm dan 105 mm. Turret tersebut guna melengkapi persenjataan sejumlah tank produksi Pindad seperti Anoa dan Komodo.




Selama sepuluh tahun terakhir, Pindad sudah merintis kerjasama dengan CMI. Kedua perusahaan tersebut telah melakukan serangkaian proses pertukaran data, assessment, serta penjajakan teknologi dan potensi pasar. Dalam kerjasama ini, selanjutnya membentuk komite untuk menyusun transfer of technology dan pelatihan secara teknis dari pihak CIM.

"Pindad memperoleh kesempatan mengirimkan beberapa putra putri terbaik negeri ini untuk belajar sistem persenjataan di CMI," ujar Sudirman.

Executive Vice President CMI James Caudle yang mewakili perusahaan menyebut pihaknya sudah lama hadir di lingkup alutsista TNI. Selama ini perlengkapan persenjataan TNI AD akrab dengan brand 'Cockerill' buatan CMI.

"Kami percaya kerjasama ini bisa meningkatkan potensi besar Indonesia dalam sistem persenjataan dan mendukung terbentuknya ketahanan nasional yang tangguh," ucap James.

Nota kesepahaman dengan Pindad ini, sebagai langkah awal untuk kerjasama jangka panjang dalam bidang perakitan dan teknologi sistem persenjataan.

"Tentunya nanti menguntungkan Pindad dan ketahanan Indonesia di masa depan," tutur James. (Detik)

Rawan Pelanggaran TNI AU Bangun Radar Pemantau Perbatasan di Nunukan

Posted: 15 Sep 2014 09:29 PM PDT

Sebentar lagi "mata dan telinga" militer Indonesia akan bertambah tajam sejalan pembangunan instalasi radar bergerak di Pulau Nunukan, Kalimantan Utara.

Arah hadap instalasi radar itu sengaja ditujukan ke perbatasan Indonesia dengan negara bagian Sabah, Malaysia Timur itu, untuk mencegah pelanggaran kedaulatan ruang udara nasional. 


Rawan Pelanggaran TNI AU Bangun Radar Pemantau Perbatasan di Nunukan
Dokumentasi pesawat tempur Sukhoi Su-30MKI Flanker Skuadron Udara 11 TNI AU menggiring pendaratan pesawat asing Boeing B-737 pada Latihan Sriti Gesit di Pangkalan Udara Utama TNI AU Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel

Asisten Operasi Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Sudipo Handoyo, kepada wartawan, setiba di Bandara Nunukan, Senin, menyatakan, "Radar itu diupayakan beroperasi pada November 2014."

Untuk menempatkan instalasi strategis itu, diperlukan lahan 10 Hektare walau radarnya adalah radar bergerak (mobile radar), yang juga berarti dia bisa bersifat mobil yang dapat dipasang dimana saja.


Selain instalasi radar --umumnya setingkat detasemen (Satuan Radar TNI AU) yang dipimpin seorang mayor senior atau letnan kolonel-- instalasi itu juga dilengkapi dua satuan setingkat kompi Korps Pasukan Khas TNI AU dan Artileri Pertahanan Udara.

Selama ini TNI memiliki Komando Pertahanan Udara Nasional yang dipimpin seorang marsekal muda TNI dan penggunanya adalah presiden Indonesia melalui panglima TNI.

Dalam organisasinya, komando yang berkewajiban dan berkewenangan mengintersepsi dan memaksa plus melumpuhkan pelanggar kedaulatan wilayah udara nasional itu dibagi ke dalam empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional yang dipimpin seorang marsekal pertama TNI.


Nunukan rawan pelanggaran batas udara

Markas Besar TNI AU mengakui wilayah batas udara Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, rawan pelanggaran batas udara.

Asisten Operasi Kepala Staf TNI AU, Marsekal Muda TNI Sudipo Handoyo , epada wartawan di Nunukan, Senin, mengungkapkan, "Selama ini TNI AU seringkali mendapat laporan pelanggaran batas wilayah udara oleh pesawat-pesawat Malaysia."

Untuk mencegah dan menindak pelanggaran wilayah udara nasional di Nunukan itu, TNI AU langsung menindaklanjuti dengan membangun instalasi radar bergerak (mobile radar) di sana.

Bukan cuma radar dan piranti pendukung, karena satu satuan setingkat kompi dari Korps Pasukan Khas TNI AU dan Artileri Pertahanan Udara juga ditempatkan. Satuan-satuan itu masih diperkuat satuan peluru kendali permukaan-udara.

Ia menegaskan, apabila suatu saat radar TNI AU itu mendeteksi pelanggaran batas udara oleh pesawat terbang Malaysia, maka pasti ditindak tegas.

Hasil pantauan instalasi radar yang akan dibangun pada lahan seluas 10 Hektare di Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan, itu dapat dicetak untuk membuktikan pelanggaran.

"Bisa dicetak, apabila menyangkal melanggar," kata dia. (AntaraNews)

Unknown Tuesday, September 16, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Jupiter Aerobatic Team (JAT) Latihan intensif siapkan HUT TNI ke-69

Posted: 12 Sep 2014 07:08 PM PDT

Jupiter Aerobatic Team (JAT) mulai awal bulan ini, secara intensif melaksanakan latihan formasi untuk ikut memeriahkan HUT TNI ke 69 di Surabaya, 5 Oktober yang akan datang.  Team Leader Letkol Pnb Fery Yunaldi yang juga merupakan Komandan Skadron Pendidikan 102, Jumat (12/9), menyampaikan bahwa untuk memamerkan kebolehannya pada kegiatan-kegiatan yang akan datang, JAT mempunyai total 18 manuver dan untuk menyelaraskan kinerja, tim telah dan akan melaksanakan latihan dua kali dalam seminggu.


Setelah berulang kali berhasil memukau publik di langit Negeri sendiri maupun Manca negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunai, Tim JAT kebanggaan Kota Yogyakarta dan kebanggaan TNI AU ini Tahun depan juga akan diundang kembali ke Langkawai International Maritime and Aerospce, Malaysia dan juga Di Brunai Darussalam International Defence Exhibition.


Sampai saat ini JAT telah mengharumkan nama TNI AU dan Indonesia berturut-turut dalam event Centennial pf RTAF Founding Father Aviation 2012 di Thailand, Langkawi International Maritime And Aerospace Exhibition 2013 di malysia, Brunai Darussalam internatioanal Defence Exhibition (Bridex) 2013, dan Singapore Airshow 2014. Sedang didalam negeri JAT juga telah unjuk kebolehan di Pembukaan Asian Fair 2011 di Bali, HUT TNI 5 Oktober 2013 di Jakarta, dan Pembukaan Jogja Air Show 2014 dan juga pada peringatan Independece Day di Jakarta beberapa minggu yang lalu.

Penampilan JAT di Surabaya yang akan datang selain untuk mendukung kegiatan HUT TNI ke 69 juga untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas dengan mengadakan static show.

Komandan Lanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Yadi I Sutanandika, MSS menyampaikan bahwa penampilan di dalam dan di luar negeri adalah juga untuk memperkenalkan kepada dunia tentang kemampuan Tim Aerobatik TNI AU untuk tampil di pentas internasional. Sekaligus menunjukkan bahwa bangsa Indonesia juga memiliki putra-putra bangsa yang tidak kalah bersaing dalam kancah kedirgantaraan dunia. "JAT tidak saja milik TNI AU, tetapi juga milik Masyarakat Indonesia dan dikenal dunia Internasional". (TNI AU)

Dirgahayu TNI-AL

Posted: 12 Sep 2014 06:51 PM PDT

Sejarah TNI-AL dimulai tanggal 10 September 1945, setelah masa awal diproklamasikannya kemerdekaan negara Indonesia, administrasi pemerintah awal Indonesia mendirikan Badan Keamanan Rakyat Laut (BKR Laut). BKR Laut dipelopori oleh pelaut-pelaut veteran Indonesia yang pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda) di masa penjajahan Belanda dan Kaigun di masa pendudukan Jepang.

Dirgahayu TNI-AL

Terbentuknya organisasi militer Indonesia yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) turut memacu keberadaan TKR Laut yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.

Sejumlah Pangkalan Angkatan Laut terbentuk, kapal-kapal peninggalan Jawatan Pelayaran Jepang diperdayakan, dan personel pengawaknya pun direkrut untuk memenuhi tuntutan tugas sebagai penjaga laut Republik yang baru terbentuk itu. Kekuatan yang sederhana tidak menyurutkan ALRI untuk menggelar Operasi Lintas Laut dalam rangka menyebarluaskan berita proklamasi dan menyusun kekuatan bersenjata di berbagai tempat di Indonesia. Disamping itu mereka juga melakukan pelayaran penerobosan blokade laut Belanda dalam rangka mendapatkan bantuan dari luar negeri.


Selama 1949-1959 ALRI berhasil menyempurnakan kekuatan dan meningkatkan kemampuannya. Di bidang Organisasi ALRI membentuk Armada, Korps Marinir yang saat itu disebut sebagai Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL), Penerbangan Angkatan Laut dan sejumlah Komando Daerah Maritim sebagai komando pertahanan kewilayahan aspek laut.

Pada 1990-an TNI AL mendapatkan tambahan kekuatan berupa kapal-kapal perang jenis korvet kelas Parchim, kapal pendarat tank (LST) kelas 'Frosch', dan Penyapu Ranjau kelas Kondor. Penambahan kekuatan ini dinilai masih jauh dari kebutuhan dan tuntutan tugas, lebih-lebih pada masa krisis multidimensional ini yang menuntut peningkatan operasi namun perolehan dukungannya sangat terbatas.

Reformasi internal di tubuh TNI membawa pengaruh besar pada tuntutan penajaman tugas TNI AL dalam bidang pertahanan dan keamanan di laut seperti reorganisasi dan validasi Armada yang tersusun dalam flotila-flotila kapal perang, sesuai dengan kesamaan fungsinya dan pemekaran organisasi Korps Marinir dengan pembentukan satuan setingkat divisi Pasukan Marinir-I di Surabaya dan setingkat Brigade berdiri sendiri di Jakarta.

KOMANDO UTAMA

Komando Armada Barat
Komando Armada RI Kawasan Barat atau disingkat Koarmabar adalah salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut. Komando ini bermarkas besar di Jl Gunung Sahari Jakarta Pusat, sedangkan Pangkalannya berada di Tanjung Priok, Jakarta.

Komando Armada Timur
Komando Armada RI Kawasan Timur atau disingkat Koarmatim adalah salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut. Komando ini bermarkas besar di Surabaya, Jawa Timur

Komando Lintas Laut Militer
Komando Lintas Laut Militer atau disingkat Kolinlamil adalah salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut. Komando ini bermarkas besar di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kolinlamil dibentuk sejak tanggal 1 Juli 1961 dengan nama Djawatan Angkutan Laut Militer (DALMIL).

Rencana TNI AL ke Depan
Berdasarkan rencana pengembangan kekuatan periode 2005-2024, struktur operasional TNI-AL akan diubah di mana dua komando armada yang ada sekarang (Komando Armada Kawasan Barat dan Komando Armada Kawasan Timur) akan dilebur menjadi satu armada yang dipimpin laksamana berbintang tiga yang bermarkas di Surabaya.

Armada ini akan membawahi tiga komando wilayah laut (Kowilla) yaitu Kowilla Barat dengan markas direncanakan di Tanjungpinang, Riau, Kowilla Tengah dengan markas di Makassar dan Kowilla Timur dengan markas di Sorong. Pembagian komando operasional ini didasarkan pada karakteristik perairan yang membutuhkan pola operasi dan perangkat yang berbeda serta untuk memudahkan pergeseran pasukan atau logistik.

Marinir juga akan dimekarkan dengan Dankormar yang dipimpin Pati berbintang tiga dengan penambahan satu Pasmar yaitu Pasmar III yang akan bermarkas di Sorong.

Proyek-proyek ke depan dan sedang berjalan, antara lain pembangunan 3 kapal selam jenis Changbogo Class (Lisensi Tipe 209 Jerman) yang selesai pada 2015, pembangunan 1 Fregat Sigma 10514 yang dijadwalkan selesai pada 2017, pembelian 3 MRLF (Multi Role Light Frigate) Nakhoda Ragam Class buatan BAE Inggris yang diterima tahun 2014 (tahap I), pengembangan armada KCR-40 kelas Clurit hingga 2014 sebanyak 8 buah, pembelian 3 KCR Stealth kelas klewang, pembelian 3 FPB-60 dari PT PAL (kontrak sudah ditandatangani), pembelian 11 helikopter anti permukaan dan anti kapal selam (AKS) dan pembelian 5 CN-235 MPA (sedang tahap pembangunan di PT DI). (by Ngurah Rai | JKGR)

NB : hanya coretan seorang tukang sapu dermaga

JALASVEVA JAYAMAHE

55 Tahun Satuan Kapal Selam TNI AL

Posted: 12 Sep 2014 06:47 PM PDT

Sejarah lahirnya Satuan Kapal Selam TNI AL pada awal mulanya didahului dengan pengiriman dua grup/ crew calon awak Kapal Selam Indonesia untuk tugas belajar di Gdinia-Oksiwi-Polandia. Pada tanggal 5 Agustus 1958 dua regu crew calon awak Kapal Selam Indonesia di bawah pimpinan Mayor (Pel) R.P. Poernomo berangkat dari Surabaya dengan kapal berbendera Denmark "HEINRICH JESSEN" menuju Rijeka-Yugoslavia, untuk selanjutnya menggunakan perjalanan darat menuju Gedinia Oksiwi-Polandia. Selama setahun mereka digembleng di sana dan pada tanggal 5 Agustus 1959 calon awak Kapal Selam Indonesia yang pertama ini kembali ke tanah air dari Polandia dengan menggunakan Kapal RI. Morotai.


Tidak lama setelah itu, pada tanggal 7 September 1959, Dua buah Kapal Selam berbendera Uni Soviet yang akan diserahkan kepada pemerintah Indonesia merapat di dermaga ujung Surabaya. Yang kemudian kedua Kapal Selam tersebut diserahkan secara resmi dari pemerintah Uni Soviet kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 12 September 1959, yang diwakili oleh KASAL saat itu, Kolonel (Pel). RE. Martadinata. Kedua Kapal Selam itu di beri nama : RI TJAKRA dengan Komandan Mayor.(Pel).R.P. Purnomo, dan RI NANGGALA dengan Komandan Mayor.(Pel).O.P. Koesno. Hari yang bersejarah ini kemudian setiap tahun diperingati sebagai "HARI LAHIR KORPS HIU KENCANA. setelah sehari sebelumya yaitu pada tanggal 11 September 1959 dilakukan Penyematan Brevet Hiu Kencana tanda Brevet Kapal Selam yang Pertama kali kepada semua awak Kapal Selam yang baru menyelesaikan pendidikannya di Polandia.


Kemudian pada tanggal 14 September 1959, dengan surat keputusan Men/ KASAL No. A. 4/ 2/ 10 diresmikan berdirinya "DIVISI KAPAL SELAM" disingkat DIVKASEL dalam tubuh Komando Armada. Sebagai Komandan Divkasel yang pertama adalah Mayor.(Pel).R.P. Poernomo dan pada tanggal 1 November 1959, dengan surat keputusan Men/ KASAL No. A. 19/ 4/ 1 diresmikan berdirinya "SEKOLAH KAPAL SELAM ANGKATAN LAUT" disingkat SEKASAL dan berkedudukan di Surabaya, dengan Komandannya yang pertama adalah Mayor (Pel).R.P. Poernomo.



Pada tanggal 25 Maret 1961, Dengan kapal berbendera Uni Soviet, KESATUAN LATIHAN KAPAL SELAM disingkat KELAKAS di bawah pimpinan Mayor.(Pel).A.T. Wingjoprajitno berangkat menuju ke Wladiwostok–Uni Soviet untuk mengikuti pendidikan Kapal Selam selama 9 (sembilan) bulan, KELAKAS yang diberangkatkan terdiri dari personil calon Awak Kapal Selam dan personil calon tenaga perbaikan Kapal Selam.

Di tengah-tengah pelatihan tersebut pada akhir tahun 1961, dua buah Kapal Pungut Terpedo Cather Boat/TCB yang dibeli pemerintah Indonesia dari Pemerintah Uni Soviet juga tiba di Indonesia dan diberi nama : RI BUAYA dan RI BIYAWAK.

Pada tanggal 12 Januari 1962, Para personil KELAKAS kembali dari pendidikan dan tiba kembali di Tanah Air dan kedatangannya sangat tepat karena saat itu Negara membutuhkan tenaga mereka dalam rangka Operasi "TRIKORA", dimana tidak lama sesudahnya pada tanggal 29 Januari 1962, pemerintah Indonesia kembali menerima 4 (empat) unit Kapal Selam Type Whiskey Class type RI Nagabanda dari Pemerintah Uni Soviet yang diberi nama : RI Nagabanda, RI Tjandrasa, RI Trisula dan RI Nagarangsang.

Dengan semakin banyaknya Kapal Selam yang dioperasikan, untuk menunjang tugas-tugas operasinya pada tanggal 10 Agustus 1962, bertempat di Dermaga Madura Ujung Surabaya dilakukan Upacara serah terima sebuah Kapal Tender Kapal Selam dari Pemerintah Uni Soviet kepada Pemerintah Indonesia yang kemudian diberi nama RI Ratulangi. Dan tidak hanya itu, pada tanggal 15 Desember 1962 pemerintah Indonesia kembali menerima Kapal Tender Kapal Selam yang kedua yang diberi nama RI Thamrin, selain itu diserahkan juga 6 (enam) Kapal Selam Whiskey class Type RI Wijayadanu yang kemudian diberi nama : RI Wijayadanu, RI Hendrajala, RI Bramastra, RI Pasopati, RI Tjundamani dan RI Alugoro.

Tanpa membuang waktu armada bawah air TNI AL ini terlibat dalam berbagai macam operasi "TRIKORA" dengan salah satu keberhasilannya adalah RI Tjandrasa karena keberaniannya yang luar biasa dalam melaksanakan tugas dalam Operasi Tjakra – II yang telah berhasil menerobos pertahanan Belanda dan mendaratkan regu RPKAD di pantai Irian Barat. Atas keberhasilan ini seluruh awak Kapal Selam RI Tjandrasa pada tanggal 12 April 1963 bertempat di Dermaga Madura Ujung Surabaya oleh Panglima Armada selaku Wakil Panglima Tertinggi menerima penyematan Bintang Sakti.



Kalau Warjagers pernah memasuki sarang Hiu Kencana, pasti menemukan Relief Hiu Kencana, dimana dulu peresmian Relief Hiu Kencana ini dilakukan oleh MENPANGAL saat itu Laksamana Madya (Laut) R.E Martadinata yang bertindak selaku Irup dan Ny. R.E Martadinata berkenan menggunting pita peresmian Relief di WISMA HIU KENCANA.

Sejumlah kegiatan untuk meningkatkan kualitas Korps Hiu Kencana ini pun terus dilakukan, selain kembali mengirim sejumlah Perwira, Bintara dan Tamtama ke Waldiwostok Uni Soviet untuk belajar menjadi instruktur dan tenaga ahli perawatan Kapal Selam pada tahun 1966 juga, diresmikan Ruang latihan serangan torpedo. Ruang latihan ini dipergunakan untuk memahirkan para Komandan, Palaksa dan Perwira navigasi Kapal Selam dalam melakukan serangan torpedo. Dan pada tahun itu juga pada tanggal 9 Desember dilakukan juga Peresmian Stasion Bantu Kapal Selam alias (SIONBAN KS) diresmikan oleh MEN/PANGAL Laksamana. Muljadi. Sionban ini berfungsi sebagai Eselon pelayanan terhadap KS dalam hal pengisian Baterei, aliran listrik dari darat, air suling dan udara tekanan tinggi. Sementara pada tanggal 13 Maret 1967, Berdasarkan Surat Keputusan Pangarsam No. KOARSAM : 5401.1 th. 1967. DINAS PERAWATAN KAPAL SELAM (DISPENKAP) ditingkatkan menjadi Komando Perawatan Kapal Selam (KOWATAKASEL).

Mengutip kata-kata Komandan Satkasel pertama Kolonel (laut) R.P. Purnomo saat terah terima jabatan Komandan KONJENKASEL kepada Letnan Kolonel (Pel). L.M Abdul Kadir pada tanggal 30 September 1963, "Panta Rei, segala-galanya mengalir. Juga sejarah KONJENKASEL akan mengalir terus, mengalir menuju ke muara kejayaan". (by Pocong Syereem | JKGR)

Dirgahayu Satkasel. "Wira Ananta Rudhiro" "Jalesveva Jayamahe"

Unknown Saturday, September 13, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


CIA Ungkap Rekayasa Pembuatan Video Porno Soekarno dan Pramugari Rusia

Posted: 11 Sep 2014 09:06 AM PDT

Sebuah laporan mengungkap sepak terjang agen intelijen Amerika Serikat (CIA) yang membuat video porno presiden pertama Indonesia, Soekarno dengan pramugari cantik Uni Soviet—yang kini bernama Rusia.

CIA Ungkap Rekayasa Pembuatan Video Porno Soekarno dan Pramugari Rusia
CIA pernah membuat video porno Soekarno dan pramugari Rusia yang ternyata dibintangi aktor lain yang mirip Soekarno
Caranya, CIA merekayasa foto-foto Soekarno dan foto pramugari Soviet yang juga agen intelijen itu. Kisah sepak terjang CIA dalam menghadapi Soekarno itu muncul dalam situs kritik sejarah dan kebijakan luar negeri AS, williamblum.org.

Sumber laporan itu berasal dari berbagai pihak, salah satunya dari tulisan petinggi militer AS tahun 1960, Kolonel Truman Smith. Rekasaya video porno dan pramugari Rusia itu dibuat untuk menguatkan karakter Soekarno yang dianggap presiden Flamboyan, yang kala itu sangat "mesra" dengan Soviet.
 


Ide pembuatan video porno ala CIA itu muncul, ketika pramugari cantik berambut pirang itu naik pesawat bersama Sukarno dalam perjalanan ke Uni Soviet. Pramugari yang tidak diungkap identitasnya itu, juga pernah terbang ke Indonesia, yang kala itu menyertai Presiden Soviet, Kliment Voroshilov.

CIA kemudian membuat laporan, bahwa Soekarno terlibat skandal dengan pramugari yang memang seorang agen yang dijadikan alat untuk menjebak Soekarno. Laporan itu menyebut, Soekarno menyerah pada kontrol Soviet.

"Ini membentuk dasar (cerita) dari penerbangan mewah itu," tulis Smith. "Kami sebenarnya memiliki cerita yang cukup sukses dengan tema ini. Itu muncul di media di seluruh dunia, dan ketika Round Table, media triwulanan Inggris pada edisi Maret 1958, menganalisis pemberontakan Indonesia. Soekarno ditulis telah diperas oleh mata-mata perempuan Soviet sebagai salah satu alasan yang menyebabkan pemberontakan."

Laporan itu kemudian menginspirasi petugas CIA di Washington untukmembuat film porno, dengan modal beberapa foto Soekarno dan gadis Rusia yang disebut-sebut favorit Soekarno itu.

Ketika sensor film porno (oleh Kepala Kepolisian Los Angeles) gagal, muncul beberapa gambar yang seolah-olah itu adalah Soekarno. Salah satu cirinya, berkepala botak dan agak gelap. Sedangkan di wanita Rusia berparas cantik dan berambut pirang.

CIA yang tak puas dengan hasil film itu, akhirnya memproduksi film sendiri. Mereka membayar sejumlah aktor film porno yang mengenakan masker wajah mirip Soekarno yang didatangkan dari Indonesia.

Film untuk menjatuhkan citra Soekarno itu diproduksi untuk CIA oleh mantan agen FBI Robert Maheu, dan Howard Hughes. Film ini dibintangi Maheu seorang aktor yang mirip Soekarno. Namun, nasib akhir dari film, yang berjudul "Happy Days", itu belum dilaporkan.


Sumber : SindoNews

Ingin Jadi Jadi Poros Maritim Indonesia Harus Miliki Armada Perang Yang Tangguh

Posted: 11 Sep 2014 08:46 AM PDT

Apa saja anasir yang diperlukan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia? Itulah salah satu yang jadi pembahasan focus group discussion Badan Koordinasi Keamanan Laut yang dimoderatori Konsultan Komunikasi Bakorkamla AM Putut Prabantoro.

Ingin Jadi Jadi Poros Maritim Indonesia Harus Miliki Armada Perang Yang Tangguh
Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo-357 tiba di Dermaga Pelabuhan Belawan

Mengangkat tema 'Penjaga Poros Maritim dengan Sistem Deteksi Dini' di Batam, Rabu (10/9/2014), Putut mempertanyakan apa itu penjaga? Apa itu sistem deteksi dini? Pertanyaan ini sekaligus ingin meneguhkan bagaimana peran Bakorkamla menjadi bagian dalam doktrin poros maritim dunia.

Mengawali acara, Kalakhar Bakorkamla Laksdya Desi Albert Mamahit menyampaikan Indonesia dengan dua pertiga luas wilayahnya lautan, harus memperlakukan khusus berkaitan dengan keamanan laut dalam konteks concert of civilization.


"Untuk mewujudkan negara maritim besar dan menjadikan poros maritim dunia, Indonesia wajib mewujudkan laut aman dari ancaman pelanggaran wilayah dari pihak luar, aman dari bahaya navigasi pelayaran, aman dari eksploitasi ilehal sumber daya alam serta pencemaran lingkungan, dan aman dari tindakan pelanggaran hukum," ujarnya.

Unsur dukungan berupa armada niaga, armada kedinasan (Bakamla), armada logistik (poros laut), armada angkatan laut, serta angkatan pekerja maritim, dipercaya mampu memperkuat sektor kelautan menuju penguatan poros maritim yang terkoneksi secara terpadu.

Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia Edy Prasetyono menilai untuk menjadi poros maritim dunia, Indonesia salah satunya harus menjadi referensi dunia maritim, budaya dan ilmu pengetahuannya.

Ia menyayangkan, saat ini sangat sedikit sekali sarja HI kelautan yang dimiliki oleh Indonesia. Edy tak menyangkal jika orang-orang yang berbicara soal kedaulatan kelautan itu-itu saja. Salah satu yang ia sebutkan adalah Hasyim Djalal.

"Hal lainnya adalah pada kewajiban adanya pengembangan lebih besar. Paling tidak ada armada perang. Dari mana mau jadi poros maritim dunia tanpa ada armada perang," ungkap Edy.

Ia menggarisbawahi armada perang di laut memang tidak bisa dibangun dalam hitungan pendek, bisa lima sampai 10 tahun. Karena tidak ada negara ekonomi maju tanpa penguatan armada maritim yang tidak memiliki armada perang.

Pembangunan armada perang adalah membangun sistem sehingga butuh waktu lama. Minimal, untuk merealisasikan itu Indonesia setidaknya butuh anggaran pertahanan sampai dua persen dari produk domestik bruto.

"Memang syarat menjadi poros maritim luar biasa berat. Tapi setidaknya pemerintahan Jokowi-JK akan menjadikan landasan ke depannya. Dan posisi Bakamla (perubahan dari Bakorkamla nanti) bukan pada karakter keamanan sempit saja," terangnya.

Menurut Edy, posisi Bakorkamla yang sedang berjuang menjadi Bakamla tak cukup hanya pengamanan laut. Karena karakter laut Indonesia berbeda. "Aspek keamanan akan selalu berhimpitan dengan pertahanan. Maka Indonesia harus memperlakukan laut secara spesial," ungkapnya.  (Tribun)

Konflik Laut Cina Selatan Berpengaruh Terhadap Indonesia

Posted: 11 Sep 2014 08:43 AM PDT

Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Laksda Desi Albert Mamahit mengingatkan, Indonesia harus siap diri menghadapi manuver pengancam kedaulatan NKRI bukan saja di darat tapi pada saatnya berimbas pada keamanan laut.

Konflik Laut Cina Selatan Berpengaruh Terhadap Indonesia
Kalakhar Bakorkamla Laksda Desi Albert Mamahit (kanan)

Ia mencontohkan bagaimana konflik Laut Cina Selatan telah menghadirkan kompetisi antarbangsa, yang cenderung mengarah pada perebutan pengaruh. Persaingan ini tak sebatas global tapi juga regional kawasan ASEAN dan nasional.

Konflik Laut Cina Selatan adalah konflik klaim wilayah tumpang tindih antara beberapa negara ASEAN dengan Tiongkok dan Taiwan. Klaim kepemilikan Tiongkok atas kepulauan Paracell dan Spratly. Negara ASEAN seperti Vietnam mengklaim Paracell dan sekitarnya. Sedangkan Brunei, Filipina dan Malaysia mengklaim Spratly dan sekitarnya.


"Ini menjadi rumit negara ASEAN yang terlibat konflik dengan Tiongkok. Pun menjadi susah menyatukan suara dan kekuatannya meski solidaritas ASEAN selalu didengungkan," ujar Mamahit dalam FGD menyoal 'Penjaga Maritim dengan Sistem Deteksi Dini' di Batam, Rabu (10/9/2014).

Indonesia jauh dari wilayah yang diklaim. Tapi di sekitar kepulauan Natuna milik Indonesia berdekatan dengan lokasi konflik yang tak masuk klaim Tiongkok. Ini masih diperdebatkan karena Tiongkok belum jelas mengklaim tentang laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di sekitar kepulauan Natuna.

"Apapun itu jelas merupakan sebuah potensi ancaman nyata bagi Indonesia. Cepat atau lambat, mau tidak mau, Indonesia akan terkena dampak konflik Laut Cina Selatan baik langsung maupun tidak langsung," terang Mamahit.

Sementara laut yang merupakan dua pertiga wilayah Indonesia ke depan diproyeksikan sebagai sumber kesejahteraan masyarakat, yang selama ini belum digarap maksimal. Sehingga mensinergikan keamanan dan kesejahteraan sebuah keharusan. (Tribun)

Ilham Habibie Tak Khawatir Pesawat R80 Bersaing dengan N219

Posted: 11 Sep 2014 02:50 AM PDT

Proyek pembuatan pesawat R80 yang digagas oleh BJ Habibie dan anaknya Ilham Habibie melalui PT Regio Aviasi Industri, akan dikerjakan dengan kerjasama PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Ilham Habibie Tak Khawatir Pesawat R80 Bersaing dengan N219
Ilham Habibie

Meski PTDI kini tengah mengerjakan sejumlah proyek pesawat lainnya seperti N219, RAI tak khawatir keduanya akan menjadi saingan.

"Kalau sampai overlap sih sepertinya kecil ya. Karena antara N219 dan R80 ini kan berbeda. Segi teknologi berbeda," ujar Komisaris RAI Ilham Habibie pada wartawan, usai pertemuan dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata, Bandung, Rabu (10/9/2014).


Ia menyebutkan, beberapa perbedaan antara N219 dan R80 yang akan dijualnya itu. "R80 terbang sampai di ketinggian 25 ribu kaki. Di ketinggian tersebut tekanan udara masih bisa diatur," katanya.

Dari sisi prosesnya pun menurut Ilham, antara N219 dan R80 tidak berbarengan, sehingga bisa dikerjakan tanpa saling mengganggu. "N219 sudah sangat intensif dan sebentar lagi asuk proses akhir desain. Sangat dimungkinkan dua-duanya dilakukan sekaligus," tutur Ilham.


3 Maskapai Tertarik Pesan 145 Unit R80 Buatan Habibie


Meski belum selesai dibuat, namun peminat pesawat R80 yang dirancang mantan presiden BJ Habibie sudah cukup banyak.

Ilham Habibie, Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang juga anak dari BJ Habibie menyebut, sudah ada pesanan sebanyak 145 unit R80 dari 3 maskapai.

Hal itu diungkapkan Ilham pada wartawan usai peremuan dengan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata, Bandung, Rabu (10/9/2014).

"Dari 7 maskapai, sudah 3 yang menandatangani LoI (Letter of Intent), bahwa mereka akan membeli pesawat sebanyak 145 unit," ujar Ilham. Ia menyebut, dua dari tiga maskapai tersebut yaitu Nam Air dan Kalstar.

Selain yang sudah menyatakan ketertarikannya pada R80, Ilham mengatakanm nantinya akan lebih banyak lagi kebutuhan pesawat sejenis R80.

"Dengan kondisi bandara yang ada, sulit untuk menambah jadwal penerbangan. Maka membeli pesawat dengan kapasitas lebih besar adalah jalan keluarnya," katanya.

R80 yang disebut pesawat generasi penerus N250 ini punya kapasitas seat 80-90, sementara N250 sebelumnya berkapasitas 50-60 seat. (Detik)

Lapan 'Curi Ilmu' dari Organisasi Antariksa Asia Pasifik

Posted: 11 Sep 2014 02:41 AM PDT

Lapan 'Curi Ilmu' dari Organisasi Antariksa Asia Pasifik

Teknologi keantariksaan sudah menjadi tren di berbagai negara. Mereka berlomba-lomba untuk meningkatkan kemampuan di bidang ini, termasuk Indonesia.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pun tak ingin tinggal diam melihat tren global ini. Bersama organisasi keantariksaan Asia Pasifik-- Asia-Pasific Space Cooperation Organization (APSCO)-- Lapan menyelenggarakan International Training Course on Global Navigation Satellite System (GNSS) Technology and its Application di All Sedayu Hotel Jakarta, dari 26 Agustus-3 September 2014. Melalui pelatihan tersebut, diharapkan para ilmuwan dan peminat antariksa bisa saling bertukar ilmu, khususnya sistem navigasi satelit global.


"Kerja sama pelatihan ini meliputi semua aspek keantariksaan, khususnya di sistem navigasi satelit global beserta teknologi dan pemanfaatannya," ujar Kepala Lapan Thomas Djamaluddin saat konferensi pers di All Sedayu Jakarta, Selasa 26 Agustus 2014.
Teknologi keantariksaan sangat bermanfaat untuk berbagai kegiatan, seperti penginderaan jauh terkait mitigasi bencana. "Terkait teknologi untuk satelit itu mudah, aeronautika lumayan, roket itu yang sulit. Diharapkan melalui kerja sama dengan APSCO, kita bisa mengembangkannya," ungkapnya.

Menurut Thomas, pelatihan ini akan mengkaji mengenai proses dan teknis ketika satelit harus dikirim ke antariksa. Tidak hanya terkait dengan wahana yang disematkan di ujung roket, tapi juga mengenai jalur atau lintasan terbang, serta bagaimana mengimplementasikan penghematan.

Ketika ditanya seberapa lama kerja sama Lapan dengan APSCO, Thomas mengungkapkan hal ini merupakan seperti paguyuban saja. "Begitu juga dengan budget, tidak ada budget khusus untuk kerja sama ini," kata dia.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai negara anggota APSCO yaitu Bangladesh, Tiongkok, Iran, Mongolia, Pakistan, Peru, Thailand, dan Turki. Sedangkan dari Indonesia ada 13 orang yang mewakili Lapan, BIG, BMKG, Kementerian Perhubungan, UI, ITB, IPB, dan Kementerian Pertahanan.

"Bagi Indonesia ini tidak hanya soal aspek teknologi tapi juga sains. Dimana nantinya perwakilan ini mempunyai bekal yang mumpuni, seperti navigasi yang bisa diterapkan menurut bidang pekerjaan masing-masing," kata Agus Hidayat Kepala Biro Kerjasama dan Humas Lapan, ditemui pada kesempatan yang sama. (VivaNews)

Dua Anggota Korps Marinir TNI AL Dianugerahi Label Godzilla Saat Rimpac 2014

Posted: 11 Sep 2014 02:38 AM PDT

Latihan Bersama Multilateral Rim of The Pacific (RIMPAC) 2014 yang berlangsung dari 26 Juni 2014 hingga 1 Agustus 2014 di Hawaii, Amerika Serikat, membawa catatan manis bagi Korps Marinir TNI AL. Sebanyak 226 personel yang dikirim di bawah pimpinan Mayor (Mar) Briand Iwan Prang, menorehkan segudang prestasi selama latihan berlangsung.

"Tentara kita yang terlihat kecil dan seakan-akan tidak mampu dalam mengikuti latihan RIMPAC 2014, tetapi terbukti bahwa kita bukan tentara yunior. Tentara kita dipercaya untuk mengawaki kompi latihan selama RIMPAC berlangsung," kata Briand saat ditemui JMOL sehabis pulang dari Hawaii beberapa waktu lalu.

Menurutnya, itu sudah menjadi tradisi bagi Marinir TNI AL sejak pelatihan ini diselenggarakan. Setiap dihelat sejak 2008, Marinir TNI AL selalu menjadi yang terbaik.


"Dua anggota kita, yaitu Serka (Mar) Riyanto Pane dan Kopda (Mar) Subiyanto menerima penghargaan berupa tradisi label prajurit tertangguh. Menurut tradisi di US Marine, label itu berlambang Godzilla," ujarnya.

Label bergambar hewan dinosaurus (Godzilla) itu melambangkan ketangguhan, keperkasaan, dan kekuatan. Pemberian label telah menjadi tradisi bagi US Marine setiap mengadakan pelatihan untuk peserta latihan yang dianggap tertangguh selama pelatihan berlangsung.

"Ada lagi yang membuat kagum tentara negara lain, yaitu saat latihan, tentara kita tengah menjalankan ibadah puasa. Ini yang membuat mereka kaget, betapa tangguhnya tentara kita," pungkasnya.

Selama kurang lebih 37 hari, latihan RIMPAC berlangsung. Korps Marinir TNI AL dipusatkan di Kaniohe Bay (Marine Corps Base Hawaii).

Porsi latihan yang diberikan antara lain non-Combatant Evacuation Operation (NEO), Fire Support Coordinatio Exercise (FSCEX), Combine Marksman Program (Live Fire), Operasi Amfibi/Transition MAGTF C2Ashore, Support Experimentation, Command Post Exercise (CPX), AAV Integration Exercise, Parameters in Raid Combat mechanical and Cooperation Infantry tank Exercise, Small Arms Shoot, Main Battery Shoot, Interoperability with Coalition Force, Amphibious Raids Cooperation, Night Helicopter Deck Landing, Combine Marksman Program, Transition MAGTF C2 Ashore dan Support Exsperimentation, dan Command Post Exercise (CPX). (JMOL)

Prajurit Kopassus Cantik ini Miliki Prestasi di Terjun Payung

Posted: 11 Sep 2014 02:25 AM PDT

Tak semua prajurit Kopassus bertampang gahar. Ada juga yang cantik dan ramah seperti Serda Dessy Alvionita (22). Perempuan asal Kutai Barat, Kaltim ini sudah 3 tahun mengabdi di Kopassus dan dia kini memiliki pretasi di bidang terjun payung.

Serda Dessy Alvionita

"Pertandingan military parasuting championship di China tahun 2013 mendapat peringkat ke 5 dari 42 negara. Rekor 375 penerjunan dan paling tinggi 10 ribu feet," terang Dessy saat ditemui di Mabes TNI Cilangkap, Senin (21/4/2014).

Dessy merupakan salah satu penerjun perempuan yang beraksi di hari Kartini dan ulang tahun wanita TNI. Dengan mulus Dessy mendarat di lokasi yang ditetapkan. Berseragam lengkap, Dessy dengan ramah melayani perkenalan dan bercakap-cakap.


"Saya merasa sangat bangga melakukan penerjunan dalam rangka hari Kartini dan ulang tahun Wanita TNI. Ini juga tidak terlepas dari perjuangan dari Ibu Kartini yang mengangkat derajat wanita. Berkat jasanya, cewek juga bisa menempati kedudukan tinggi," terang Dessy anak ketiga dari tiga bersaudara ini.

Dessy mengaku dirinya masih mempunyai cita-cita dan harapan yang tinggi. Dia ingin membuat bangga kesatuannya dan juga negara Indonesia. "Menjadi penerjun yang awet, handal. Dapat membuat bangga kesatuan, negara, dan untuk diri sendiri," terang Dessy yang masih single ini.

"Sebagai penerjun saya merasa enak dan seru walaupun awalnya takut. Tapi kita harus bisa mengatasi rasa ketakutan itu," tambah dia lagi.

Tidak mudah menjadi seorang penerjun, ada latihan khusus yang dijalani. Dessy digembleng seniornya dengan ketat di Batu Jajar. "Melaksanakan pendidikan TBM (terjun bebas militer) 1,5 bulan di Batu Jajar. Tapi nggak semua jadi atlit. Ada yang direkrut untuk training center, PTPAD (persatuan terjun payung Angkatan Darat). Apabila ada pertandingan diseleksi terlebih dahulu," jelas dia.

"Selama jadi penerjun puji Tuhan belum pernah mengalami cidera yang ekstrem, kalau ankle sih pernah," tutup dia. (TNI AD)

Josaphat Sang Profesor Ahli Radar dan Drone yang Berjaya di Negri Sakura [Bagian 2]

Posted: 11 Sep 2014 02:15 AM PDT



Pengembangan Drone atau UAV Seri JX

Suatu saat saya memikirkan cara untuk menguji radar saya,yaitu memasangnya di badan pesawat. Kemudian saya coba diskusi dengan beberapa perusahaan pesawat dan mendapatkan jawaban yang hampir sama, yaitu memasang radar perlu mengubah atau memodifikasi badan pesawat. Modifikasi ini perlu dana sebesar 200 juta yen atau sekitar 20M rupiah. Bagi sebuah laboratorium yang baru memulai kariernya, nilai ini sangatlah besar sekali, kemudian saya balik pikiran daripada memberi dana sebesar itu ke orang lain, lebih baik membuat pesawat atau pesawat tanpa awak (drone/UAV) sendiri. Akhirnya saya pilih membuat pesawat tanpa awak sendiri. Hanya permasalahannya adalah frekuensi yang dipakai oleh synthetic aperture radar (SAR) yang saya buat saat itu adalah L band yaitu 1.27 GHz dengan panjang gelombang sekitar 24 cm. Sehingga memerlukan antenna yang cukup panjang, biasanya 10 lambda atau 2.4 m. 


Agar antenna tersebut dapat dimuat oleh drone, maka bersama anak saya yang masih berumur 4 tahun memikirkan bentuk yang memungkinkan. Agar SAR sensor tidak terlihat dari luar saat mengoperasikan, maka drone dipilih bentuk dimana antenna dipasang didalamnya. Agar gelombang electromagnet yang dipancarkan oleh radar dapat tembus dan terhantar dengan baik, maka bahan untuk badan pesawatpun dipilih campuran kayu balsa dan fiber plastic sehingga diperoleh dielectric constact sekitar 1.3 yang mendekati udara. Akhirnya saya pilih badan drone atau UAV sekitar 5-6 meter dan rentang saya 6 meter untuk menyangga seluruh beban sensor yang akan dibawa. UAV ini diberi nama Josaphat Laboratory Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX), dimana UAV pertama diberi nama JX-1.

Saat itu saya ingin mencoba untuk membantu perusahaan Indonesia untuk ikut mengembangkan UAV saya. Pada saat mengajar ke beberapa Universitas dan instansi penelitian di Indonesia, saya tawarkan pula ke beberapa perusahaan Indonesia. Maksud saya untuk menggerakkan perusahaan kecil dan menengah di Indonesia, khususnya di bidang UAV. Ada beberapa perusahaan yang menyanggupi, walau mereka belum punya pengalaman membuat UAV dengan rentang sayap 6m, kemudian saya pilih satu diantara mereka. Kemudian perlu dipikirkan perusahaan perantara atau pengimport di Jepang, kalau masalah ini tidak terlalu sulit, karena saya sering memasukkan perangkat sensitive untuk radar, UAV dan satelit, cukup berpengalaman. Saat itu saya minta pembuat UAV di Indonesia untuk dapat dilakukan taxing test dan uji terbang pula, sebelum dibawa ke Jepang. Walau akhirnya taxing test dan uji terbang tidak dilakukan oleh perusahaan Indonesia karena mereka belum berpengalaman dalam hal ini. Jujur saat itu saya sangat kecewa, karena bila di Jepang, apa yang kita katakan ke client, maka itu yang harus dilakukan.

anak saya saat memikirkan bentuk yang cocok untuk misi remote sensing

Pembuatan UAVpun terlambat beberapa bulan dan melampaui batas tahun fiscal yang membuat kami kelabakan. Setelah beberapa cara, akhirnya dapat terlewati proses administrasi. Akhirnya UAV dari Indonesia tiba pada tanggal 4 Februari 2011. Setelah kami bongkar bersama rekan-rekan dari Lembaga Antariksa Jepang (JAXA), ternyata produk Indonesia banyak ditemukan jaringan kabel sistem kontrol penerbangan yang tidak tertata rapi, dimana ada konektor yang female-female dll. Jaringan servo motorpun kurang memperhatikan segi keamanan, khususnya kalau diterbangkan di wilayah Jepang. Sistem control ban depan tidak ada dll. Akhirnya jaringan sistem control penerbangan dari Indonesia kami buang semua dan diganti berikut merapikan seluruh sistem didalamnya. Kita tambahkan fungsi flap di sayap utama, berikut memperkuat dan menambah jumlah servo motor di semua sayap, baik sayap utama maupun ekor.

Setelah kami perbaiki dan diskusikan dengan rekan-rekan JAXA dan pilotnya, serta kita simpulkan aman untuk uji mesin, taxing dan terbang,maka kami coba untuk test awal di Lapangan terbang untuk pesawat kecil, Otone Airfield di propinsi Ibaraki pada tanggal 1 November 2011. Bersama mahasiswa dan staff kami yang berjumlah 22 orang, kami bawa UAV ke Otone Airport. Setelah kita lakukan perakitan seluruh pesawat kami, siaplah uji mesin UAV kami. Saat itu kami tersadarkan bahwa baling-baling yang dikirim dari Indonesia bersama UAV kami adalah puller propeller, atau propeller untuk menarik badan pesawat. Sedangkan UAV kami perlu pusher propeller, karena mesin ada di belakang badan UAV. Langsung saya hubungi perusahaan Indonesia untuk menerangkan kondisi ini dan minta diusahakan secepatnya untuk mendapatkan propeller yang tepat. Suatu hal yang sangat sembrono bila terjadi hal demikian di Jepang dan biasanya berpengaruh pada kepercayaan dalam hubungan bisnis di Jepang. Setelah beberapa minggu, akhirnya pusher propeller tiba dan kami siapkan uji mesin dan taxing lagi di Fujikawa Airfield.



Uji terbang kedua pada tanggal 7 Juni 2012 diadakan dilapangan terbang Fujikawa Airfield, propinsi Shizuoka, 3 jam naik mobil dari Chiba. Uji terbang kali ini harus berhasil dan mengejar ketertinggalan waktu 6 bulan yang telah terbuang karena salah propeller. Manual menerbangkan pesawat tanpa awak dengan rentang saya 6 m tidak bisa kita temukan di dalam buku atau referensi lainnya, maka perlu kita buat manualnya tersendiri. Lewat beberapa diskusi,maka ditetapkan beberapa uji dasar, yaitu uji navigasi, uji mesin, uji control ban depan dan rem atau taxing, uji lari hingga kecepatan lebih dari 120 km/jam, uji take off, uji terbang rendah, uji terbang, uji/simulasi landing atau pendaratan dengan terbang rendah, uji pendaratan, uji rem dan taxing setelah pendaratan. Seluruh ujian kami rekam informasi lokasi, ketinggian dll menggunakan IMU, gyro dan GPS kami. Pada tanggal 7 Juni 2012, semua ujian sesuai manual yang kami buat dijalankan dengan baik. Berbagai factor cuaca termasuk kecepatan angin dll, juga kami pertimbangkan saat itu, dan uji terbang pertama JX-1 berhasil dengan baik.



Berdasarkan pengalaman dan maksud baik untuk Indonesia selama ini, tetapi jauh dari harapan, baik kepercayaan, waktu, pelayanan purna pengadaan, kelengkapan, keamanan dll, maka pengembangan JX-2 dan berikutnya dilakukan bersama JAXA dan beberapa perusahaan di Jepang yang lebih mengedepankan kepercayaan, pelayanan, keamanan dll.




Microsatellites Seri GAIA "TANAH AIR"

Sejak tahun 2007 saya membuat Komisi Pengembangan CP-SAR sensor untuk microsatellite. Hampir ratusan usulan saya buat ke pemerintah Jepang dan pemerintah lain, akhirnya pada tahun 2011 setelah mendapat dukungandari Chiba University, wartawan, pengusaha, organisasi dan senator di Parliament Jepang, maka pengembangan CP-SAR onboard Microsatellite didanai 360 juta Yen atau sekitar 36M rupiah oleh Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang. Saya sangat berterimakasih sekali kepada sahabat-sahabat Jepang yang selama ini membantu untuk merealisasikan cita-cita saya sejak kecil, yaitu pengembangan radar berikut satelit yang saya beri nama GAIA atau "Tanah Air". Saya beri nama"Tanah Air" karena selama ini hanya cemoohan pesimis dari banyak orang Indonesia, bahkan rekan-rekan LPND hingga saya meninggalkan Indonesia pada tahun 1998. Sejak saat itu dalam diri saya hanya terpikir untuk membuat sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh pemerintah dan orang Indonesia, dan saya ingin kontribusikan diri untuk dunia. Radar, drone dan microsatellite ini adalah kristal dari usaha dan hidup saya selama ini untuk dunia, serta Indonesia, serta ingin tunjukkan bahwa orang Indonesia tidaklah serendah apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Indonesia sendiri. Mudah-mudahan sesuai rencana atas bantuan pemerintah Jepang, tahun 2016-2017 nanti Tanah Air – I akan meluncur bersama satelit GCOM-C milik JAXA menggunakan roket H-II.

Bus sistem microsatellite yang digunakan oleh Tanah Air – I merupakan bus sistem dasar yang akan digunakan pula untuk microsatellite lainnya yang dikembangkan oleh Josaphat Laboratorium. Selama berkarya di Jepang hingga pensiun pada tahun 2035 nanti, mudah-mudahan 6 unit microsatellite akan saya luncurkan untuk berbagai misi ruang angkasa. Teknologi ruang angkasa ini juga akan diaplikasi untuk pengembangan Stratosphere Drone yang dikembangkan untuk Indonesia, Taiwan dan Jepang saat ini.

Pengembangan CP-SAR untuk microsatellite pertama adalah bersama LAPAN untuk microsatellite bernama LAPAN-A5. Pengembangan ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi saya untuk Indonesia. Bersamaan pengembangan microsatellite ini, saat ini saya bantu pengembangan pengembangan SAR onboard microsatellite untuk ISAS JAXA, Ajou University & KARI-Korea, NSPO-NARLTaiwan, Fudan University-China dan MMU Malaysia. Mudah-mudahan sensor yang dikembangkan ini dapat menyatukan negara-negara di dunia, khususnya wilayah Asia.


Road Map Satelit Lapan

Untuk mendukung program microsatellite yang berpayload 50 hingga 100 kg, maka dibangun ground station (seri Josaphat Laboratory ground station – JG). Ground station pertama dibangun di fasilitas Josaphat Laboratorydalam CEReS Chiba University yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho MEXT) sebesar 70 juta yen atau 7M rupiah. Dukungan ini memperkuat kemampuan kami di bidang eksplorasi ruang angkasa nantinya. JG-1 ini rencana akan selesai December 2014 tepat hari Natal, sehingga dapat menjadi bingkisan tahun baru kami. Kerjasama dengan NSPO Taiwan menghasilkan jaringan ground station di dunia, sehingga kami dapat mengakses satelit kami near realtime, kurang dari 30 menit, sehingga data satelit kami dapat digunakan untuk memprediksi gempa dan cuaca lebih akurat nantinya.

Prof. Josaphat TetukoSri Sumantyo

http://www2.cr.chiba-u.jp/jmrsl/


JKGR

Unknown Friday, September 12, 2014