Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Bahas ISIS Panglima TNI Temui Pemuka Agama

Posted: 10 Sep 2014 02:46 AM PDT

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko bertemu dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) serta ormas Islam lain untuk membahas perkembangan kelompok radikal dan Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) di Indonesia.


Pada pertemuan yang berlangsung di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu pagi, Jenderal Moeldoko mengatakan baru-baru ini bendera ISIS sudah berkibar di sejumlah tempat di Indonesia seperti di Solo, Jambi, Pekanbaru dan Aceh Timur.

"Secara organisasi, ISIS memang belum hadir di Indonesia. Namun, semangat ISIS sudah bisa dirasakan di Indonesia," katanya.

TNI, menurut dia, ingin mendengar masukan dari organisasi masaa Islam seperti Muhammadiyah dan NU untuk mengantisipasi penyebaran pengaruh ISIS di dalam negeri.


"Semangat NU dan Muhammadiyah yang memiliki cita rasa toleransi diharapkan dapat menghentikan paham seperti itu yang dapat mengancam persatuan Indonesia. Kita ingin kelahiran semangat ISIS bisa diantisipasi dan dapat memakamkan pemahaman tersebut agar tak berkembang di Indonesia," ujarnya.

Asisten Teritorial Panglima TNI Mayjen TNI Ngakan Gede Sughiarta mengatakan silaturahim antara Panglima TNI dengan ormas Islam itu untuk membahas perkembangan kelompok-kelompok radikal yang ada di Indonesia.

"Silaturahmi ini untuk mengambil langkah penyelesaian agar kelompok radikal, termasuk ISIS tak berkembang lebih jauh," katanya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan ISIS adalah produk lama, tetapi menggunakan merek baru, dan jika pemahamannya diterapkan maka dapat menimbulkan malapetaka di Indonesia.

"Ada kontinuitas perubahan yang terjadi. Ditarik ke radikalisme Islam," kata Din.

Ia menegaskan, ISIS merupakan embrio fundamentalis Islam yang dapat menimbulkan malapetaka, pertentangan hingga pembunuhan. Semua akan dilakukan untuk mencapai tujuannya.

"Maka bagi kita, kalau tidak mampu dikelola dengan baik, akan terjadi pula pertumpahan darah. Termasuk juga bagi yang suka mengafirkan," ucapnya.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menuturkan masyarakat harus menyuburkan rasa nasionalisme dahulu, baru memperkuat pemahaman agama.

Dia mencontohkan, negara Islam yang hampir 100 persen penduduknya muslim seperti Somalia dan Afganistan bisa berantakan karena tidak ada rasa nasionalisme.

"Negara Islam yang memiliki penduduk muslim 100 persen pun akan berantakan jika tidak ada rasa nasionalisme," ucap Said. (Antara)

SBY Tidak Setuju Ada Penjara Teroris di Sentul

Posted: 10 Sep 2014 02:14 AM PDT

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan menolak berdirinya rumah tahanan di kawasan Sentul, Bogor Jawa Barat. Tepatnya di kawasan International Peace and Security Center (IPSC).



SBY hanya setuju IPSC dijadikan Pelatihan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai tempat kegiatan deradikalisasi teroris. Jika di sana ada penjara khusus teroris maka akan membahayakan kawasan sekitar.

"Di sini sepenuhnya kita niatkan untuk pelatihan melawan terorisme. Boleh saja ada kegiatan deradikalisasi. Kalau ada penghuninya mantan-mantan teroris, harus hati-hati masalah keamanan untuk keseluruhan kawasan," kata Presiden.


Seperti dilansir Situs Kepresidenan, SBY mengujungi IPSC, Senin (8/9). IPSC ini seluas 6,1 hektar. Rencananya, di sana juga akan didirikan rumah tahanan untuk teroris.

Ada 48 kamar yang masing-masing kamar bisa dihuni 3 orang. Tempat itu ditujukan untuk proses deradikalisasi. Kegiatan deradikalisasi akan dilakukan dengan, antara lain mengundang para pemuka agama dan pemuka masyarakat.

Hanya saja, pendirian tahanan itu harus dikaji ulang. "Saya putuskan ide itu bagus, diperlukan MoU. Mari kita pikirkan, tapi tempatnya kita pilih nanti. Mana yang paling bagus supaya tujuan tercapai tanpa ada kerawanan atau celah-celah baru yang menjadi persoalan kita nanti," jelas SBY. (JN)

Sekilas Tentang Josaphat Sang Profesor Ahli Radar dan Drone yang Berjaya di Negri Sakura [Bagian 1]

Posted: 10 Sep 2014 01:24 AM PDT

Awal Pembangunan Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL)

Sejak diangkat menjadi Associate Professor di Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University pada tanggal 1 April 2005, yang terpikir dalam diri saya adalah bagaimana membangun pusat penelitian terlengkap, setidaknya di Jepang untuk bidang microwave remote sensing. CEReS adalah pusat penelitian di bidang penginderaan jarak jauh atau remote sensing di bawah langsung Kementerian Pendidikan dan Teknologi (MEXT) atau Monbukagakusho Jepang yang berada dalam Chiba University. Sehingga saat mendapat surat pengangkatan sebagai Associate Professor langsung mendapatkan nomor pegawai negeri Jepang di bawah Monbukagakusho (MEXT). 


Josaphat Laboratory – Synthetic Aperture Radar (SAR) ground test measurement system with 0.1 mm precision

Saat itu yang terlintas di kepala saya, tahun 1999 lepas PNS Indonesia dan sekarang malah dihargai oleh negara asing menjadi PNS negara lain. Maka saya hidup antara dua negara ini, dimana Jepangpun seperti negara saya sendiri dan malah memberi kesempatan banyak untuk merealisasikan ide-ide yang tidak dapat dilaksanakan di Indonesia, tanah air saya selama ini. Banyak kolega, sahabat, saudara hingga orang tua angkat Jepangpun menganggap saya sebagai bagian mereka, sehingga kehidupan sehari-hari saya dan keluarga seperti biasa. Saya akan tersadarkan sebagai warga negara asing, hanya pada saat melewati imigrasi di bandara Narita atau Haneda saja.



Ide saya selama inipun telah banyak memberi warna pada teknologi Jepang, khususnya bidang antenna untuk mobile satellite communication yang terpasang di perangkat untuk Engineering Test Satellite (ETS-VIII), percobaan pada bullet train atau kereta tercepat Jepang, sistem komunikasi kendaraan yang dapat bergerak dari Wakanai di Hokkaido paling utara Jepang, hingga pulau Ishigaki di Okinawa, paling selatan Jepang. Sesuai dengan nama saya pemberian orang tua saya, "Josaphat" adalah nama raja ke empat kerajaan Yudea yang hanya hidup untuk negerinya, maka sayapun selalu berjuang hidup mati untuk negeri yang menghormati atas karya dan nilai hidup saya, sehingga falsafah hidup saya adalah "Hidup untuk negara, keluarga dan sahabat, sehingga 'Hidup demi kehormatan negara, keluarga dan sahabat' atau  'Live for pride of country, family, and friends' yang ingin tertulis di nisan saya nanti.

Sejak temuan pertama saya, antenna transparent sekitar awal tahun 2002, banyak komunitas Jepang yang tertarik dengan hasil temuan saya. Berbagai dukungan untuk pengembangan penelitian saya, mendorong saya untuk lebih dalam melakukan penelitian bidang antenna. Kemudian saya pusatkan penelitian pada antenna-antenna yang berhubungan dengan aerospace yang biasanya menggunakan polarisasi melingkar atau circular polarization (CP). Maka sejak diangkat menjadi Associate Professor, maka saya lebih pusatkan pada penelitian CP untuk synthetic aperture radar (SAR) sensor yang biasa digunakan untuk keperluan militer sebelumnya dan sejak tahun 1990 mulai berkembang untuk keperluan sipil pula.

Saat diangkat sebagai staff pengajar, saya hanya mendapatkan satu kamar staff dan satu kamar mahasiswa di lantai 2 gedung CEReS. Ruang ini merupakan cikal bakal dariJosaphat Microwave Remote SensingLaboratory (JMRSL) atau Josaphat Laboratory. Dimana kamar mahasiswa masih dipakai bersama dua mahasiswa (Lim dari Korea dan Dash dari India) Prof. Sugimori (nantinya beliau menjadi Direktur CReSOS di UniversitasUdayana).

Hari pertama masuk saat diangkat saya undang Ibu saya, agar tahu tata cara pengangkatan di Jepang dan cara hidup serta kerja staff di Jepang. Walau banyak hal yang aneh bagi Ibu saya, saya kira cukup menarik pula bagi orang awam untuk melihat budaya kerja negara lain. Sejak diangkat langsung tidak perlu tunggu waktu lagi, agar dapat melengkapi fasilitas laboratorium,maka saya siapkan dua proposal ke Monbukagakusho (Kagakukenkyuuhi-Research Grant Aid) di tahun 2005 untuk mendapatkan pendanaan mulai tahun 2006. Saat itu langsung saya apply Young Scientist (A), yaitu Research Grant yang cukup sulit untuk Young Scientist dengan besaran dana 3 milyar rupiahan bila dikurskan ke Rupiah. Topik penelitian saat itu yang saya sampaikan adalah pengembangan sensor CP-SAR untuk pesawat terbang. Dimana CP-SAR sendiri adalah tema original yang belum ada selama ini. Sehingga penelitian ini diterima dan mendapatkan dana sekitar 2.7 milyar rupiah. Maka ini kesempatan saya untuk membangun sebagian dari anechoic chamber atau ruang kedap gelombang electromagnet dilaboratorium saya. Demikian sebagian dana saya gunakan untuk membeli alat ukur dan komponen radar. Bersamaan penelitian radar, saya kembangkan pula beberapa teknik penerapan radar untuk pemetaan perubahan lingkungan akibat bencana alam menggunakan teknik interferometric SAR (InSAR) dan Differential InSAR (DInSAR), sehingga berbagai paper sebagai laporan hasil penelitian ini dimuat di International Journal of Remote Sensing, IEEE TGRS dll.


By : Prof. Josaphat

Pengembangan Synthetic Aperture Radar (SAR)

Sejak kecil saya ingin mengembangkan radar sendiri, berlatar belakang alasan mengapa TNI-AU dan LPND Indonesia tidak bisa membuat radar sendiri saat saya tinggal di komplek TNI-AU Lanud Sulaiman Margahayu tahun 1970-1974 dan Lanud Adisumarmo tahun 1974-1989. Sejak saya belajar di Kanazawa University saat studi di S1 dan S2, maka saya membuat sistem radar sendiri, walau simple yaitu radar bawah tanah atau Ground Penetrating Radar (GPR). Sistem sendiri saya buat saat S1 menggunakan circuit yang sederhana tapi berarus tinggi hingga puluhan ribu Ampere di setiap pulsanya, sehingga dapat menembus lapisan tanah beberapa ratus meter menggunakan loop antenna berdiameter 1 hingga 10 meter. Berangkat dari hasil penelitian ini, saya ingin tahu proses hantaran gelombang di media tanah kering dan lembab atau basah, karena Jepang dan Indonesia mempunyai musim panas / kering dan hujan, sehingga parameter ini perlu diketahui. Maka saya lakukan simulasi penggunakan metoda finite difference time domain (FDTD). Metoda ini pada tahun 1990an baru mulai berkembang, dan baru sedikit peneliti yang memulai penelitian menggunakan metoda ini. Saat itu saya lakukan simulasi hantaran gelombang di dua lapisan,yaitu lapisan udara dan tanah, berikut beberapa jenis obyek yang ada di dalam tanah. Simulasi GPR dengan menggunakan FDTD dilakukan saat S2 hingga lulustahun 1997. Akhirnya saya tulis juga satu buku mengenai metoda FDTD dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit ITB, pada saat saya menjadi dosen tamu di ITB.

Pengembangan GPRpun dilanjutkan di Indonesia pada saatkembali bekerja di BPPT pada April 1997. Saat itu mencoba mengumpulkan dana penelitian dari dalam negeri. Setelah apply beberapa, maka diperoleh pendanaan dari Riset Unggulan Terpadu (RUT) Dewan Riset Nasional (DRN) bersama rekan-rekan dari Teknik Elektro ITB. Kebetulan Indonesia saat itu mulai terjadi krisis moneter dan berujung goyahnya pondasi politik kita, sehingga kondisi keuangan negarapun tidak memungkinkan untuk mensupport penelitian kami. Hasil penelitian awal ini, setidaknya dapat menjadi awal penelitian GPR di Indonesia dan sempat dimuat di Majalah Warta Ekonomi. Hingga saat ini penelitian ini dilanjutkan oleh rekan-rekan di Teknik Elektro ITB setelah saya kembali berkarya di Jepang.

Pada saat kembali ke Jepang akhir tahun 1998, masih tetap ingin merealisasikan cita-cita sejak kecil, yaitu membangun sistem radar yang khas. Pada saat masuk ke program S3, mencari laboratorium yang dapat mengembangkan diri sendiri, maka saya pilih salah satu laboratorium di Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University. Setelah memilih berbagai alternative radar yang tepat untuk bidang remote sensing, maka saya pilih synthetic aperture radar (SAR), dimana sensor ini dapat dioperasikan di siang dan malam hari, serta segala cuaca karena dapat menembus awan, asap dan kabut. Hanya pengembangan SAR sensor ini memerlukan dana yang cukup besar, sehingga pada saat studi di program S3 hanya memusatkan diri pada pengembangan teori, tepatnya hamburan gelombang mikro saja. Pada saat studi di program S3 ini berbagai macam teori hamburan gelombang mikro saya kembangkan berikut penerapannya untuk monitoring lahan gambut, diameter pohon, volume biomass hutan dll. Berbagai paper telah terbit di International Journal of Remote Sensing dll, dimana jumlah paper yang terbit saat itu melebihi syarat sebagai Lecturer. Maka pada saat lulus pada Maret 2002 ditawari oleh bebeberapa Universitas dari Jepang, UK, Amerika dan Israel. Maka saya pilih Chiba University, karena lokasinya sangat dekat dengan Tokyo dan Narita International Airport, agar memudahkan aktifitas saya ke luar negeri.

Pada saat menjadi Lecturer dari tahun 2002 hingga 2005 saya kembangkan berbagai antenna, khususnya antenna berpolarisasi melingkar (circularly polarization atau CP). Saya mengembangkan antenna jenis ini, karenaantenna ini banyak dipakai utk keperluaan misi ruang angkasa dan jarang orangyang dapat mendesain sendiri di dunia pada saat itu. Berbagai antenna saya kembangkan, dan cukup banyak paper yang saya terbitkan di IEEE Transaction on Antenna and Propagation (TAP), IEE Microwave, Antenna and Propagation (MAP) yang sekarang menjadi IET MAP, IEICE dll. Hingga di dunia antenna, orangmengenal nama Josaphat sama dengan CP antenna.


FM-CW radar drone karya mahasiswa/i Prof. Josaphat

Setelah diangkat menjadi Associate Professor pada 1 April 2005, bermodalkan pengetahuan SAR sensor dan image signal processing, GPR, hamburan gelombang mikro berikut penerapannya dan teknologi antenna, maka lengkap seluruh ilmu di kepala saya sebagai modal untuk membangun radar sendiri. Maka pada tahun 2005-2006 saya mengusulkan Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR). Kemudian mendapatkan dana untuk Research Grant Aid (Kakenhi) Young Scientist (A), yaitu dana riset terbesar untuk peneliti muda yang berumur di bawah 40 tahun. Saya coba bangun fasilitas dan CP-SAR sistem untuk pesawat. Kemudian tahun 2009 saya bersama Prof Nishio Fumihiko coba mengusulkan bantuan teknologi ke Pemerintah Malaysia dalam bentuk CP-SAR onboard UAV, dan diterima untuk mengembangkan sistem ini dan tahun 2015 nanti teknologi ini akan diserahkan ke pemerintah Malaysia untuk monitoring semenanjung Malaya dan Sabah menggunakan L band SAR.


Prof. Josaphat TetukoSri Sumantyo

http://www2.cr.chiba-u.jp/jmrsl/

Sumber : JKGR

Unknown Thursday, September 11, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Malaysia Klaim Karang Singa, Bintan

Posted: 10 Sep 2014 12:53 AM PDT

Bintan – Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Malaysia saling mengklaim perairan utara Pulau Bintan, tepatnya di sekitar Karang Singa. Menurut Asisten Operasi Komando Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang Kolonel Laut (P) Fauzi, persoalan tersebut terjadi karena sampai saat ini permasalahan perbatasan wilayah kedua negara belum dibicarakan tuntas.

Malaysia Klaim Karang Singa, Bintan
Karang Singa, Bintan

"Harusnya Karang Singa masuk wilayah Indonesia, jika melihat peta perbatasan wilayah yang dimiliki Indonesia. Tapi Malaysia mengklaim, itu milik mereka berdasarkan garis batas wilayahnya," ungkap Fauzi seperti dilansir Riau Pos (Grup JPNN), Selasa (9/9).

Fauzi pun menyarankan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bintan membangun suar lalu lintas kapal di perbatasan. Sehingga pemerintah Malaysia tahu jika perairan itu masuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Dia juga mengatakan perairan Karang Singa, utara Pulau Bintan sangat berpotensi. Perairan itu dikenal memiliki lumbung ikan.

"Nelayan kita mengakui. Kami harapkan suar, setidaknya nelayan jadi tahu perbatasan Indonesia," katanya.

Kepala DKP Bintan Wan Rudi Iskandar menyambut baik saran tersebut. Dia mengaku akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan kementerian.

"Itu saran yang baik, sebelumnya Pemkab bersama lintas instansi juga sudah membangun tugu batas wilayah di Pulau Sentut Perairan Mapur," sebutnya.

DKP juga berjanji akan meneruskan masukan ini ke Bupati Bintan agar segera ditindaklanjut.

"Kami akan kumpulkan dana. Apakah nanti murni APBD atau dibantu BNPP Bintan atau kementerian,'' ujarnya.

Sementara soal pengamanan wilayah perbatasan, Wan Rudi memohon agar satuan pengamanan terkait turut maksimal menjaga kedaulatan NKRI. (riau pos | jpnn.com | JKGR)

Eurocopter Tiger H61 Akan Meriahkan HUT ke-69 TNI

Posted: 10 Sep 2014 12:51 AM PDT

Ada keterangan menarik hasil wawancara Metro TV dengan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, saat berada di Paris, tanggal 26 Juni 2014. Akankah Helikopter Tiger H61, ikut meramaikan Parade Militer HUT ke-69 TNI ?.

Eurocopter Tiger H61
Eurocopter Tiger H61

Paris, 26/6/2014 – Upacara kebesaran HUT ke-69 TNI akan menjadi ajang pertama bagi 'macan' baru TNI memperkenalkan diri kepada warga Indonesia. Macan itu sedang dalam tahap akhir persiapkan fisik di benua Eropa.

Macan itu adalah helikopter serang Eurocopter Tiger H61. Mereka akan melengkapi helikopter serbu MI 35 dan Apache memperkuat TNI AD. Selain itu ada tiga kapal fregat multifungsi untuk TNI AL yang sedang dibangun di Manchester, Inggris.

"Seluruh alutsista yang baru ini akan ikut dalam peringatan Hari TNI 5 Oktober," kata Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin di Paris, Jumat (26/6/2014).


Wamenhan berkunjung ke Paris bersama rombongan Komite Kebijakan Industri Pertahanan. Selain itu mereka ke Belanda juga untuk memastikan perkembangan seluruh alutsista yang dipesan Indonesia untuk jajaran TNI.

"Saat ini seluruh pesanan itu sudah dalam tahap akhir dan akan segera dikirim secara bertahap ke Indonesia," sambung matan Pangdam Jaya ini.

Sjafrie merasa puas karena selain pembelian alutsista ada banyak tawaran bagi pengembangan kerja sama industri pertahanan. Terutama untuk Pindad yang terbuka peluang bagi pengembangan panser Anoa serta kendaraan tempur dan amunisi lainnya.

Bersama Dirut Pindad Sudirman Said, Wamenhan bertemu juga Presiden Volvo Group, Stefano Chmielewski untuk membicarakan pasokan mesin Renault sebagai sumber tenaga Panser Anoa. "Pindad sudah memproduksi 250 unit panser kebutuhan TNI AD. Sekarang Pindad mempunyai kesempatan untuk memasok 250 unit lainnya dan Renault bersepakat untuk memasok kebutuhan mesinnya," kata Sjafrie (Suryo Pratomo, JKGR, MetroTVNews.com)

Pesawat R80 Akan Terbang Perdana di Bandara Kertajati Jawa Barat

Posted: 10 Sep 2014 12:27 AM PDT

Mantan Presiden RI serta tokoh dirgantara Indonesia, BJ Habibie datang menemui Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) di rumah dinasnya, Gedung Pakuan Bandung, Rabu (10/9/2014). Habibie datang bersama tim dari PT Regio Aviasi Industri (RAI), termasuk anaknya Ilham Habibie.

Pesawat R80 Akan Terbang Perdana di Bandara Kertajati Jawa Barat

Kedatangan Habibie tersebut, untuk memaparkan perkembangan pengembangan pesawat R80 yang tengah dikerjakan RAI. Habibie menyatakan harapannya, pesawat R80 yang ditargetkan selesai pada 2017 itu, bisa melakukan first flight (penerbangan perdana) di Bandara Kertajati di Majalengka.

"Ini kesempatan silaturahmi dan brainstorm soal masa depan industri dirgantara di bumi nusantara," ujar Habibie usai pertemuan yang digelar secara tertutup tersebut.


Habibie memaparkan, kebutuhan pesawat terbang saat ini makin meningkat, seiring dengan pertumbuhan penumpang. Pesawat R80 ini disebutnya sebagai generasi lanjutan N250 hasil rancangannya terdahulu.

"N250 yang terbang perdana pada 10 Agustus 1995 membuktikan, bangsa ini mampu mengembangkan teknologi secanggih apapun," katanya.

Ia mengatakan, pesawat R80 yang sedang dikerjakannya itu memiliki kapasitas 80 seat, dengan teknologi yang lebih canggih. R80 yang dikerjakan bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung ini ditargetkan akan selesai pada 2017, dan akan terbang perdana pada 2018.

"Tahun 2018 nanti akan first flight, lalu 2019 sertifikasi kelaikan udara," jelas Habibie.

Rencana first flight tersebut, dikatakan Habibie, pas dengan pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka. Bandara internasional tersebut juga direncanakan akan mulai beroperasi pada akhir 2017.

"Pemprov Jabar juga sedang persiapkan bandara baru. Nanti kita inginnya R80 itu first flight dari Kertajati, Majalengka," harapnya. (Detik)

60% Komponen Pesawat N219 Buatan Dalam Negeri

Posted: 10 Sep 2014 12:22 AM PDT

Pesawat N219 disebut-sebut bakal menjadi kebangkitan industri pesawat terbang dalam negeri. Ide, model, dan desain pesawat ini dirancang oleh putra-putra bangsa. Begitu juga dengan komponennya yang 60% buatan dalam negeri.


"Jumlah part N219 mencapai 5 ribu part kecil. Sekitar 60 persennya lokal," ujar Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Budi Santoso dalam acara nota kesepahaman PTDI dan LAPAN, serta First Cutting Detail Part Manufacturing N219 di Bandung, Selasa (9/9/2014).

Namun untuk mesin, N219 masih mengimpor. Budi mengatakan, N219 dibuat dengan konsep yang sederhana. "Kami mencoba membuat pesawat yang permesinannya sederhana. Karena kami ingin biaya produksi yang murah. Namun kita bisa mendapatkan keuntungan untuk pengembangan program lainnya," katanya.


Dalam pembuatan komponen, Budi mengingatkan tim produksi untuk serius. "Pengalaman saya dulu, kalau gagal, part dibuang ke tempat sampah. Kami ingin mekanik bisa meyakinkan supaya komposisi komponen sudah betul. Yang produksi juga jangan stres," minta Budi.

Direktur Teknologi PTDI Andi Alisyahbana mencontohkan, komponan kaca pesawat yang biasanya diimpor, bakal dicoba untuk menggunakan barang dalam negeri.

"Kaca yang biasanya impor, kali ini kita akan ajak industri kaca dalam negeri," katanya.


Pemerintah Gelontorkan Rp 400 M Untuk Pesawat N219

Proyek pembangunan dan pengembangan pesawat N219 didukung pemerintah pusat melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dalam bentuk pemberian anggaran sekitar Rp 400 miliar. Alokasi tersebut diberikan untuk pembuatan dua prototipe N219.

Hal itu disampaikan Kepala Lapan Thomas Djamalludin dalam acara penandatanganan nota kesepahaman bersama PT Dirgantara Indonesia serta First Cutting Detail Part Manufacturing N219 di Bandung, Selasa (9/9/2014).

"Anggaran yang diberi pemerintah tahun ini dan tahun depan totalnya sekitar Rp 400 miliar. Itu untuk dua prototipe pesawat N219," kata Thomas.

Dua pesawat tersebut diharapkan sudah bisa dipamerkan pada Hari Teknologi Nasional (Harteknas) pada Agustus 2015.

Besarnya anggaran pengembangan dan pembuatan prototipe pesawat baru seperti N219 akan berat jika ditanggung oleh PT DI. Oleh karena itu, Lapan hadir sebagai jembatan antara industri penerbangan dan pemerintah.

"Lapan sebagai instansi pemerintah yang diamanatkan untuk penelitian dan pengembangan pesawat terbang yang industrinya ada di PT DI mendukung penyediaan pesawat transportasi untuk daerah terpencil dengan keterbatasan landasan," jelasnya.

Lapan, lanjut Thomas, akan ikut dalam pengembangan desain sampai nanti pesawat bisa diproduksi. "Kami akan turut dalam desain, sekaligus membangun SDM (sumber daya manusia)," ujarnya.

Secara spesifik, Thomas belum mengetahui harga jual N219 nantinya. Namun dia menyebutkan, N219 akan lebih kompetitif dibandingkan pesawat-pesawat di kelasnya.

"Dengan kompetitornya pun N219 bisa unggul pemasarannya," tuturnya.


Akan Dipamerkan Agustus 2015

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menandatangani MoU Pembangunan pesawat N-219 di Gedung GPM PT DI, Jalan Pajajaran, Selasa (9/9/2014).

PTDI dan LAPAN akan membangun dan mengembangkan pesawat N-219 yang ditargetkan purwarupanya selesai dan dipamerkan pada Agustus 2015 mendatang.

Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Direktur Utama PTDI Budi Santoso dan Kepala LAPAN Thomas Djamalludin. Pesawat berpenumpang 19 orang ini diharapkan akan menjadi pesawat perintis untuk penerbangan di daerah terpencil.

"Menjadi kebanggaan kami dipercaya pemerintah untuk mengembangkan pesawat baru dengan kerjasama LAPAN. Kami akan memastikan N219 ini dapat tepat waktu, tepat mutu dan tepat biaya," ujar Budi dalam sambutannya usai penandatanganan MoU.

Ia menyebutkan, purwarupa N219 ini ditargetkan bisa keluar hanggar untuk dipamerkan pada Agustus 2015, serta menjalani penerbangan pertamanya (first flight) pada 2016.

"Dan diharapkan N219 bisa masuk pasar pada 2017, setelah memasuki proses sertifikasi," jelasnya.

Sementara itu, Kepala LAPAN Thomas Djamalludin menyatakan, pembangunan N219 ini akan menjadi loncatan untuk LAPAN dalam pengembangan teknologi penerbangan untuk kembali membangkitkan industri dirgantara dalam negeri.

"Program ini akan membuktikan kemandirian kita dalam membuat pesawat transportasi untuk saerah terpencil. Yang terbatas panjang landasan dan kondisi geografisnya. Kami mendukung industri penerbangan dalam negeri yang kuat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," katanya.

Selain penandatanganan MoU, dilakukan First Cutting Detail Part Manufacturing sebagai tanda dimulainya tahap produksi komponen pesawat. Secara simbolis, Thomas didampingi Budi melakukan pemotongan material yang akan digunakan untuk pembuatan komponen sekat jendela di bagian depan pesawat.

Bersama LAPAN, PTDI akan menyelesaikan seluruh proses pengembangan prototipe N219 yang kemudian akan diproduksi massal untuk dipasarkan secara luas. 



Sumber : detik.com

Unknown Wednesday, September 10, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Danlantamal I sambut kedatangan fregat KRI Bung Tomo-357

Posted: 09 Sep 2014 12:10 AM PDT

Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) I Belawan, Laksamana Pertama TNI Pulung Prambudi mengatakan, KRI Bung Tomo-357 merupakan kapal perang terbaru buatan Inggris type fregat ringan atau Multi Role Light Fregate (MRLF).

Sejumlah personil TNI AL menyambut Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo-357 setibanya di Dermaga Pelabuhan Belawan Medan, Sumut, Senin (8/9). KRI Bung Tomo merupakan kapal perang milik TNI AL terbaru buatan Inggris yang mampu bertempur menghadapi serangan atas air, bawah air maupun udara. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana)

"Mempunyai berat 2.300 ton dengan panjang 95 meter, lebar 12,7 meter, serta didukung dengan empat motor pendorong pokok CODAD (Combined Diesel And Diesel) yang mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 31 knots," katanya di Belawan, Senin.

Hal tersebut disampaikan Danlantamal I, saat menyambut kedatangan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo dengan nomor lambung -357 di Dermaga Terminal Penumpang Pelabuhan Belawan.


Selain itu, menurut Prambudi, KRI Bung Tomo-357 juga dilengkapi sistem navigasi, komunikasi dan kendali persenjataan mutakhir yang terintegrasi dengan baik, yaitu Meriam Utama Oto Melara kaliber 76 mm.

Meriam penangkis serangan udara DS 30 B Remsing Kaliber 30 mm, Torpedo anti kapal selam Thales Sensor Cutlass 242, Rudal permukaan ke udara SAM Vertical Bunch Sea Walf dan Rudal Exocet MM 40 Block II.

"Sehingga jenis kapal ini mampu bertempur menghadapi serangan atas air, bawah air maupun serangan udara," ucap jenderal bintang satu itu.

Danlantamal mengatakan, dengan datangnya KRI Bung Tomo-357 dan akan menyusul dua KRI lainnya masuk di jajaran TNI AL untuk memperkuat sistem pertahanan laut Indonesia dalam rangka menjaga keutuhan dan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Komandan beserta seluruh prajurit Lantamal I merasa bangga karena terpilih sebagai Pelabuhan pertama di Indonesia yang disinggahi KRI Bung Tomo-357," kata Prambudi.

Komandan KRI Bung Tomo-357, Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan mengatakan, merupakan kebanggaan mendapat mandat untuk membawa kapal ini ke tanah air dengan aman dan sukses, sekaligus mengemban misi diplomasi angkatan laut, serta sejumlah negara yang disinggahi.

"Keesokan harinya, KRI Bung Tomo -357 akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan akan berakhir di Surabaya, serta direncanakan ikut berpartisipasi memeriahkan HUT TNI yang ke-69 pada 7 Oktober 2014 yang akan berlangsung di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Ujung Surbaya," kata Sofiyan. (Antara)

222 Pesawat TNI Masuk Juanda pada 21 September 2014

Posted: 08 Sep 2014 11:28 PM PDT

Pesawat-pesawat tempur TNI untuk peringatan HUT TNI ke-69 akan masuk Jatim pada 21 September 2014. Pesawat-pesawat itu terdiri dari berbagai jenis dengan jumlah total sebanyak 222 unit.

222 Pesawat TNI Masuk Juanda pada 21 September 2014

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Armatim, Letkol Laut (KH) Drs Abdul Kadir, mengatakan pada 22 September, pesawat-pesawat ini akan langsung latihan gabungan (latgab) dengan TNI AL dan TNI AU.

"Total ada 222 pesawat tempur, 85 di antaranya jenis helicopter," kata Kadir di kantornya, Senin (8/9/2014).


Kadir menuturkan, pesawat-pesawat ini sebagian besar akan ditempatkan di Terminal 1 (T1) dan Terminal 1 (T2) Bandara Juanda. Sementara sebagian kecil akan diparkir di Bandara Abdul Rachman Saleh Malang dan Pangkalan Udara Iswahyudi Madiun.

"Kami juga siapkan hangar khusus karena pesawat ini berbeda dengan pesawat biasa, terutama untuk pesawat Sukhoi dari RUsia dan F5 Tiger yang baru dibeli dari Perancis," sambungnya.

Kadir menerangkan latgab yang berlangsung sampai 4 Oktober ini merupakan semacam gladi kotor pertunjukan parade TNI. Sebelumnya, pada 12 Agustus sampai 21 September nanti, semua elemen berlatih di kesatuannya masing-masing.

"Untuk pesawat, sekarang sedang latihan membentuk formasi. Sama, kami TNI AL juga sedang berlatih sendiri, begitupun TNI AD. Nanti pada 22 September latgab untuk menyatukan rangkaian pertunjukan yang sudah dilatih tadi," ujarnya.

Dijelaskan, selain untuk menyeragamkan, latgab selama 17 hari ini diperlukan untuk menyelaraskan serta mematenkan waktu masing-masing personil.

"Supaya timing-nya tepat," ucap Kadir, yang lanjut mengatakan peringatan HUT TNI ke-69 ini akan dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Latgab ini akan dimulai pukul 09.00 WIB dan maksimal akan selesai pukul 14.00 WIB tiap harinya. Untuk acara puncak, 7 Oktober akan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB dan diperkirakan akan selesai pada pukul 12.00 WIB.

Kadir menuturkan meskipun Bandara Juanda akan dipadati pesawat-pesawat tempur TNI, hal tersebut tidak akan sampai melumpuhkan jadwal penerbangan komersial.

"Kan nanti ada koordinasi. Yang jelas, penerbangan komersial tidak akan lumpuh, apalagi bandara sampai tutup," pungkasnya. (Tribun)

Di Balik Rencana Penutupan Bandara Juanda Untuk Ulang Tahun TNI

Posted: 08 Sep 2014 11:24 PM PDT

Akhir bulan ini sampai awal Oktober 2014, langit di sekitar Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur bakal diramaikan dan dihiasi pesawat- pesawat tempur. Pesawat militer bakal bermanuver dan unjuk kebolehan. Sedangkan pesawat komersil, untuk sementara diminta 'mengalah'.

Bandara Juanda

Rencananya, mulai 26-30 September dan 1-4 Oktober Bandara Juanda bakal dipakai untuk latihan sekaligus acara peringatan HUT TNI. Beredar kabar bandara Juanda bakal ditutup untuk penerbangan komersial.

"Kami saat ini sedang bahas, prinsipnya Angkasa Pura (AP) I tetap mendukung acara tersebut agar dapat terlaksana dengan baik," ujar Juru Bicara PT Angkasa Pura I, Handy Heryudithiawan dalam pesan singkat yang diterima merdeka.com, Senin (8/9).


Dia menegaskan pihaknya masih membahas rencana tersebut. Karena, hal ini harus mempertimbangkan layanan publik yang harus menyesuaikan."Kami masih bahas, ya," katanya.

Pihak TNI sendiri membantah bakal menutup operasional Bandara Juanda dari aktivitas penerbangan komersial. Melalui Juru Bicara Mabes TNI, Mayor Jenderal Fuad Basya, pihak TNI berjanji tidak menutup total bandara dari penerbangan komersial dengan pertimbangan ekonomi. TNI kata dia, tidak ingin ekonomi terhenti dan merugikan masyarakat.

"Tidak benar tutup bandara, ekonomi bisa terhenti," ujar Mayor Jenderal Fuad Basya saat dihubungi merdeka.com, Senin (8/9).

Fuad Basya menegaskan pada tanggal 4 Oktober, TNI akan melakukan gladi bersih. Itupun tidak akan mengganggu aktivitas operasional Bandara Juanda dari penerbangan komersial. Pihaknya, akan mengatur pada jam-jam tertentu pesawat komersil untuk menghindari dulu Juanda. "TNI punya landasannya sendiri. Pesawat tempur terbang dari Malang dan Madiun," ungkapnya.

Merdeka.com merangkum rencana-rencana penggunaan Bandara Juanda untuk latihan TNI. Berikut paparannya.


Penerbangan komersil bakal dihilangkan

Rencananya, mulai 26 September hingga 30 September, pesawat militer akan memenuhi Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, sebagai bagian dari latihan dan rencana gelaran HUT Tentara Nasional Indonesia.

Latihan akan dimulai pukul 07.00 sampai pukul 14.00 WIB. TNI mulai menggelar latihan gabungan pada 1 Oktober sampai 4 Oktober secara penuh, setelah mulai akhir September menggelar latihan parsial. Apabila rencana tersebut, disetujui maka penerbangan dari dan ke Bandara Juanda, bakal dihilangkan saat militer melakukan latihan.

"Kami saat ini sedang bahas, prinsipnya Angkasa Pura I (AP) tetap mendukung acara tersebut agar dapat terlaksana dengan baik," ujar Juru Bicara PT Angkasa Pura I, Handy Heryudithiawan dalam pesan singkat yang diterima merdeka.com, Senin (8/9).


219 pesawat militer penuhi Bandara Juanda

Merdeka.com - Juru Bicara Mabes TNI Mayor Jenderal Fuad Basya menuturkan, sekitar 219 pesawat militer akan memenuhi Bandara Juanda. Rencananya, ratusan pesawat militer tersebut akan memenuhi 10 parking stand di Terminal 1 dan Terminal 2.

Jika pesawat sudah terkumpul di Juanda, maka mulai 26 September hingga 30 September TNI bakal menggelar latihan secara parsial. TNI mulai menggelar latihan gabungan pada 1 Oktober-4 Oktober. Jika sampai ada penundaan penerbangan terutama pada saat puncak peringatan HUT TNI pada 7 Oktober mendatang di Surabaya, TNI mohon maaf. "Ada 200 pesawat yang dilibatkan, tidak semua mendarat dan parkir di Juanda," katanya.


TNI belum sampaikan surat resmi

Merdeka.com - Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub, J.A Barata mengatakan TNI baru menemui otoritas pengelola bandara Surabaya dengan membawa proposal rencana tersebut.

"Karena belum ada surat resmi dari TNI jadi belum tahu jadi atau tidak," ujarnya saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Senin (8/9).

Namun, lanjutnya, keputusan tetap harus keluar dari kementerian dan mabes TNI. "Kita menunggu kejelasan dari pihak TNI. Kita akan rapatkan dalam 1-2 hari ini," tuturnya.


Penumpang diarahkan naik kereta

Merdeka.com - Rencana penutupan Bandara Internasional Juanda, Surabaya masih belum jelas. Sebab, Kementerian Perhubungan menyatakan pihak TNI belum memberikan surat resmi penggunaan Bandara Juanda untuk latihan. Kemenhub berniat mengadakan rapat bersama pemangku kepentingan untuk menindaklanjuti rencana ini.

Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub, J.A Barata mengatakan, jika rencana ini disetujui maka pemerintah mempertimbangkan mengarahkan penumpang untuk menggunakan moda transportasi kereta. Selain itu juga, pemerintah akan menata ulang slot penerbangan pada hari itu.


Pesawat komersil diminta berputar dulu

Merdeka.com - Tentara Negara Indonesia (TNI) mengaku tidak bakal melakukan penutupan total Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur pada akhir bulan mendatang dan pada tanggal 7 Oktober saat puncak peringatan HUT TNI. Pihaknya, akan melakukan pengaturan penggunaan bandara.

Paling tidak, ketika ada latihan, pesawat diminta untuk memutar dahulu. "Kami sudah atur sedemikian rupa," ujar Juru Bicara Mabes TNI Mayor Jenderal Fuad Basya saat dihubungi merdeka.com, Senin (8/9). 




Sumber : Merdeka

Satkopaska Koarmabar Latihan Pengamanan RIG

Posted: 08 Sep 2014 08:51 PM PDT

Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) melaksanakan Latihan Geladi Tugas Tempur (Gelagaspur) setingkat K-2 dengan melaksanakan kegiatan Latihan pembebasan sandera di RIG Arjuna, Blanakan, Subang, Jawa Barat, Sabtu (6/9).

Satkopaska Koarmabar Latihan Pengamanan RIG

Latihan tersebut dipimpin langsung Komandan Satkopaska Koarmabar (Dansatkopaskaarmabar) Kolonel Laut (P) Tjatur Soniarto, selaku Perwira Penyelenggara Latihan (Papelat) yang didampingi Perwira Operasi (Pasops) Satkopaskaarmabar, Letkol Laut (P) Henricus Prihantoko selaku Perwira Pelaksana Latihan (Palaklat).


Dalam latihan tersebut, prajurit Satkopaska Koarmabar melaksanakan latihan pembebasan sandera dan pengamanan pengeboran minyak lepas pantai (RIG) dari sabotase musuh.Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas kemampuan individu-individu sehingga diharapkan tim yang akan terbentuk menjadi pasukan yang solid. Selain itu juga guna mengasah kemampuan dan kerjasama tim dalam melaksanakan operasi di lapangan. (Koarmabar)

Ingin Punya Senjata Api, Ini Syaratnya

Posted: 08 Sep 2014 08:17 AM PDT

Aksi pencopet yang menodong dan meletuskan senjata api di Mal Gandaria City, Jakarta Selatan, pada Minggu 7 September 2014 kemarin, menambah daftar panjang penyalahgunaan senjata api di kalangan masyarakat sipil.

Ingin Punya Senjata Api, Ini Syaratnya

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto, mengatakan masyarakat sipil memang diperbolehkan untuk memiliki senjata api. Tetapi, proses memiliki benda berbahaya itu harus melalui proses yang ketat.

Menurut Rikwanto, prosedur untuk memiliki senjata api terlebih dulu dilihat dari sisi urgensinya. Selain itu, mengacu pada Peraturan Kapolri Nomor 82 Tahun 2004 tentang Siapa Saja yang Boleh Memiliki Senjata Api di kalangan sipil.


"Masyarakat sipil yang ingin memiliki senjata api hanya golongan tertentu saja. Seperti direktur utama, menteri, pejabat pemerintahan, pengusaha utama, komisaris, pengacara, dan dokter," ujar Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Senin 8 September 2014.

Kata Rikwanto, calon pemilik senjata api, minimal selama tiga tahun wajib memiliki keterampilan menembak. "Kami juga akan menguji dari tes psikologi, tes kesehatan," katanya.

Tak sampai di situ, lanjut Rikwanto, calon pemilik juga harus secara resmi mendapatkan surat izin dari instansi, atau kantor yang bertanggung jawab atas kepemilikan senjata api.

"Kalau semua lulus, nanti pemakaian senjata api tersebut hanya untuk membela diri saja. Senjata api yang diizinkan, yaitu senjata api peluru tajam, peluru karet dan peluru hampa," ujar Rikwanto.

Ketika masyarakat sipil sudah mendapatkan izin memiliki senjata api, lanjut Rikwanto, pemilik harus secara berkala memperpanjang surat izin kepemilikan. Surat izin itu harus diperpanjang tiap satu tahun sekali.

"Hal ini dilakukan agar pemilik tidak serta-merta lepas begitu saja memiliki senjata api, prosedurnya harus tetap ditaati," kata Rikwanto. (VivaNews)

Unknown Tuesday, September 9, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


HUT TNI, Bandara Juanda Tunggu Keputusan Jakarta

Posted: 08 Sep 2014 12:25 AM PDT

Pejabat sementara General Manager PT Angkasa Pura I, Sukirman, membenarkan info bahwa Bandar Udara Juanda akan digunakan dalam perayaan hari jadi ke-69 TNI yang mengambil lokasi Surabaya, Jawa Timur, pada tahun ini. Namun belum jelas seperti apa pengaruh penggunaan bandara ini oleh TNI terhadap layanan penerbangan sipil.

Sejumlah aksi the Jupiter Team dengan enam pesawat fix-wing KT-1 dalam peringatan HUT TNI AU ke-67 Tahun 2013 di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Selasa (9/4). Peringatan HUT TNI AU ke-67 tahun 2013 ini dimeriahkan dengan parade pasukan upacara, atraksi "marching band" Akademi Angkatan Udara, penerjunan "free fall", aksi penanggulangan teror oleh Korpaskhas, aksi the Jupiter Team dengan enam pesawat fix-wing KT-1 dan aksi the Pegasus Team dengan lima helikopter Colibri EC-120B. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

Sukirman mengatakan perwakilan PT Angkasa Pura I masih terlibat dalam rapat koordinasi ihwal rencana perayaan hari ulang tahun TNI tersebut di Jakarta pada hari ini, Senin, 8 September 2014. "Tunggu saja hasil keputusannya nanti," katanya.

Namun Sukirman memastikan bakal ada persiapan gladi kotor dan bersih. Adapun rencana penutupan ataupun pengalihan rute akan segera disampaikan, terutama kepada para pengguna Bandara Juanda. "Kalau sampai hari ini masih normal," katanya.


Sebelumnya, Otoritas Bandara Wilayah III Surabaya mengabarkan rencana penutupan Bandara Juanda pada 1-4 Oktober dan 7 Oktober 2014. Perayaan nasional HUT TNI setiap 5 Oktober pada tahun ini akan dipusatkan di Bandara Juanda.

Rencananya, akan ada 219 pesawat militer terlibat dalam perayaan. Pada 26-30 September 2014 akan ada 10 parking stand di Terminal 1 dan 2 untuk pesawat militer. Lalu pada 1-4 Oktober dan 7 Oktober 2014, pukul 07.00-14.00 WIB, aerodrome Juanda ditutup bagi penerbangan sipil.  (Tempo)

Presiden setuju ada penjara khusus napi teroris

Posted: 08 Sep 2014 12:53 AM PDT

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa dia setuju ada penjara khusus untuk narapidana kasus terorisme.

"Saya putuskan, idenya bagus, diperlukan, tetapi tempatnya dimana kita pikirkan nanti," katanya saat meninjau lokasi fasilitas deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) di Kawasan Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin.

Presiden setuju ada penjara khusus napi teroris

Ia mengemukakan hal itu menanggapi keinginan Kepala BNPT Ansyaad Mbai mengenai perlunya penyediaan sel khusus untuk narapidana kasus terorisme karena ada kekhawatiran terjadi rekrutmen teroris di dalam penjara, yang sasarannya bukan hanya narapidana, tapi juga sipir.
 

Menurut Ansyaad, kepala lembaga masyarakat mengharapkan para narapidana kasus terorisme dipisahkan dari narapidana perkara laih.

Presiden menyatakan sepakat dengan ide pemisahan penempatan narapidana kasus terorisme di dalam penjara.

Namun ia tidak setuju kalau sel-sel untuk para narapidana kasus terorisme dibangun di Kawasan Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia karena kawasan itu merupakan kawasan untuk pendidikan dan pelatihan untuk pasukan perdamaian maupun umum sehingga justru dapat menimbulkan kerawanan baru.

Presiden Yudhoyono meminta penjara khusus untuk narapidana kasus terorisme dibangun di tempat lain yang lebih aman dan tidak menimbulkan kerawanan baru.

Ia juga mengingatkan bahwa penjara itu nantinya tidak akan seperti Penjara Guantanamo, tempat Amerika Serikat memenjarakan para teroris.

"Kita jelas bukan seperti Guantanamo, jelas bukan sekali. Kita mendukung human rights (hak asasi manusia)," kata Presiden.

Saat memberikan penjelasan tentang fasilitas BNPT di Kawasan Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia,
Ansyaad mengatakan bahwa ada 48 sel khusus untuk narapidana kasus terorisme dan setiap sel bisa diisi tiga narapidana.

Ia menjelaskan pula bahwa saat ini ada 28 lembaga pemasyarakatan yang menjadi tempat memenjarakan narapidana kasus terorisme.


Banyak Lapas Keberatan Terima Napi Teroris

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mengungkapkan bahwa banyak lembaga pemasyarakatan di Indonesia yang keberatan menerima narapidana terorisme. Sebab, mereka khawatir para napi teroris itu memengaruhi napi lainnya.

BNPT telah memiliki Pusat Pelatihan dan Penanggulangan Terorisme dan Deradikalisasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Balai itu merupakan pusat pembinaan napi teroris, sehingga tidak dicampur dengan napi non teroris di lembaga pemasyarakatan umum.

"Kalau di lapas itu malah menyebarkan radikalisme, di sini memang pusat pelatihan dan interaksi," kata Kepala BNPT, Ansyad Mbai, ketika bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Pusat Pelatihan dan Penanggulangan Terorisme dan Deradikalisasi, Senin 8 September 2014.

Menurut Ansyad, selain ditakutkan bisa menulari napi lain, napi teroris juga bisa membuat para sipir merasa terancam. Sebab, banyak lapas yang keberatan diisi napi teroris.

Para ulama yang kerap didatangkan untuk memberikan pencerahan pun waktu singgahnya menjadi relatif singkat, jika para napi tersebut dipisah-pisahkan. Dengan pembinaan napi teroris yang terpusat, proses deradikalisasi bisa lebih baik.

Presiden SBY menyatakan, setuju ide tempat khusus untuk menahan para napi teroris. Ia mengaku mengerti yang dikhawatirkan BNPT.

"Saya mengerti persoalan ini. Tapi kita akan bicarakan dalam waktu enam minggu yang tersisa ini. Yang jelas, jangan jadi seperti Guantanamo, kita harus mendukung sisi-sisi human right (hak asasi manusia)," kata Presiden.  (AntaraNews | Viva )

KSAU: Kuasai Global Position System untuk Pertahanan

Posted: 07 Sep 2014 08:52 PM PDT

SAAT ini masyarakat dengan mudah memanfaatkan Global Position System (GPS) sebagai salah satu dari penguasaan media udara. Kalau dapat menguasai itu dan memanfaatkan tentunya akan menjadi sumber yang dapat menghasilkan untuk kesejahteraan rakyat serta tidak kalah pentingnya adalah untuk pertahanan.

Global Position System

Demikian dikatakan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Masekal TNI Ida Bagus Putu Dunia usai membuka kejuaraan 16th Asiania   Parachuting Championship and Indonesia Internasional Open 2014 di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Sabtu (6/9).

Dikatakan KSAU, sebagai mana kita ketahui bahwa di darat, laut kita sudah biasa, namun udara sesuatu yang masih perlu kita gali dan di kembangkan. Sebab negara-negara lain sudah memanfaatkannya sehingga potensi ini kedepan juga kita bisa memanfaatkan ruang angkasa kita.


"Dari bibit-bibit inilah kecintaan kepada matra udara akan lebih naik lagi hingga ruang angkasa," ujar KSAU Marsekal TNI IB Putu Dunia melalui siaran pers Kadispenau, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto diterima Jurnas.com.

Menurutnya, dengan dipercaya sebagai tuan rumah yang kedua kalinya, berarti Federasi Aero Sport Indonesia (Fasi) sudah dapat berbicara di arena internasional, untuk itu mari kita membangun dan memajukan olah raga dirgantara.

Ia berharap kepada semua atlit supaya menunjukan prestasinya, seandainya belum  berhasil akan menjadikan suatu bahan evaluasi untuk mengkaji bagaimana untuk memajukan atlit kita kedepan.

Kejuaraan 16th Asiania  Parachuting Championship and Indonesia Internasional Open 2014 di ikuti oleh 303 atlet termasuk oficial dari 21 negara, terdiri dari Indonesia, Austria, Bahrain, China, Chech Republic, DFR Korea, Mesir, Jerman, Iraq, Malaysia, Belanda, Onam, Polandia, Rumania, Saudi Arabia, Singapura, Korea Selatan, Ukraina, Uni Arab Emirat dan Qatar.

Hadir pada kesempatan tersebut, Presiden South East Asia Aero Sport Federation Mr. Tengku Abdillah, Sekretaris Asiania Faye Cox, Vice Presiden Asiania Parachuting Federation Nisfu Hasbullah, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, para pejabat TNI dan polri. (Jurnas)

Kedatangan KRI Bung Tomo di Indonesia

Posted: 07 Sep 2014 08:47 PM PDT

KRI Bung Tomo (TOM-357) memasuki wilayah perairan Indonesia di sekitar Pulau Rondo, Minggu (7/9). Kedatangan KRI kelas Multirole Light Fregate (MRLF) buatan BAE System Maritime Naval Ship Inggris itu disambut oleh KRI Oswald Siahaan (OWA-354) di ujung paling barat pulau Sumatera, KRI TOM selanjutnya akan masuk ke jajaran Satuan Kapal Eskorta TNI AL bersama kapal fregate kelas Van Speijk.

Kedatangan KRI Bung Tomo di Indonesia





Sumber : MetroNews

Modernisasi Alutsista TNI Prioritaskan Produk Dalam Negeri

Posted: 07 Sep 2014 08:39 PM PDT

Panglima TNI, Jenderal TNI Dr. Moeldoko menyampaikan bahwa TNI memprioritaskan penggunaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) produk dalam negeri. Menurutnya, salah satu alutsista yang diproduksi dalam negeri adalah produk PT. Pindad termasuk amunisi kaliber besar.


"Karena itu diharapkan pengerjaannya dipercepat agar dapat mendukung kendaraan taktis maupun amunisi yang dibutuhkan TNI," kata Panglima TNI saat menerima audiensi dengan Direktur Utama (Dirut) PT. Pindad, Sudirman Said beserta dua orang staf, di Ruang Tamu Panglima TNI Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (3/9) lalu.

Panglima TNI yang didampingi Asrenum Panglima TNI Mayjen TNI Muktiyanto, Aslog Panglima TNI Marsda TNI Karibiyama, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya dan Waasops Panglima TNI Laksma TNI Darwanto, S.H., M.A.P tersebut juga mengapresiasi dan menyambut baik kedatangan Dirut PT. Pindad ke Mabes TNI.


Dalam kesempatan tersebut, Dirut PT. Pindad memperkenalkan diri sebagai pejabat yang baru sekaligus menyampaikan hasil produksi yang dibutuhkan TNI serta tantangan ke depan yang akan dihadapi.

Saat ini, kata Sudirman, PT. Pindad terus berbenah diri atas kepercayaan dan kesempatan yang sangat besar dari pemerintah. Disamping, berdasarkan Undang-Undang Industri Pertahanan juga memberikan peluang untuk terus meningkatkan tuntutan dari segi kualitas.

Untuk itu, PT. Pindad terus berbenah diri guna melakukan perbaikan baik kualitas produksi dan pembenahan organisasi.

Saat ini andalan produk PT. Pindad untuk jenis kendaraan adalah kendaraan taktis Anoa, Komodo dan menyuplai secara rutin senjata, amunisi kepada Kemenhan RI, Mabes TNI dan Angkatan. Penambahan produk untuk amunisi besar saat ini meriam 105 mm yang sedang dilakukan dengan harapan ke depan, amunisi tank juga dapat terpenuhi. Kemudian untuk saat ini, senjata SS2 yang terbaru dan ke depan ada kebutuhan senapan 7.62 mm, diharapkan akhir tahun ini dapat diproduksi.

Panglima TNI melalui siaran pers Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Inf Bernardus Robert, menyampaikan agar PT. Pindad mengoptimalkan waktu dalam memproduksinya sehingga kebutuhan Alutsista TNI khususnya amunisi ringan dapat terpenuhi.

"Kebutuhan TNI ke depan sangat banyak, sehingga PT. Pindad dapat memprioritaskan dan merealisasikan apa yang dibutuhkan TNI," ujar Jenderal TNI Dr. Moeldoko. (Jurnas)

3 Kapal Selam Akan Perkuat Alutsista TNI AL

Posted: 07 Sep 2014 05:23 AM PDT

3 Kapal selam akan memperkuat alat utama sistem pertahanan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Ketiga kapal selam itu akan tiba di Tanah Air pada 2017 mendatang.

3 Kapal Selam Akan Perkuat Alutsista TNI AL
Kapal selam KRI Nanggala 402

"Pada zaman jayanya dulu, Indonesia pernah memiliki 12 armada kapal laut. Saat ini, kita hanya memiliki dua. Di tahun 2017 akan datang 3 lagi. Sehingga nanti ke depannya akan kembali lagi ke arah 12," kata Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Chairul Tanjung usai mendapatkan penghargaan sebagai warga penghormatan dari TNI-AL di Pelabuhan indah Kiyat, Merak, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (6/9/2014).


Kapal selam merupakan alutsista strategis bagi sebagian besar negara di dunia, termasuk di Indonesia. Namun, kini keadaan alutsista bawah bawah laut ini sangat memprihatinkan.

Indonesia hanya memiliki 2 unit kapal selam jenis 209/1300 yang diberi nama KRI Nanggala 401 dan 402. Kapal selam ini merupakan produksi Howaldtswerke, Kiel, Jerman Barat tahun 1981.

Saat zaman kejayaan angkatan perang Indonesia, TNI AL sempat memiliki 12 kapal selam kelas Tjakra buatan Rusia (kelas Whiskey) yang dihapus tahun 1970-an. Kapal jenis ini pernah terlibat dalam penugasan perebutan Irian Barat agar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

"Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 17 ribu lebih pulau. Di mana dua pertiganya merupakan lautan, maka dibutuhkan angkatan laut yang kuat," terang dia.

KRI Nanggala 402 memiliki berat selam 1,395 ton dengan panjang 59,5 meter, lebar 6,3 meter dan tinggi 5,5 meter. Kapal selam ini digerakkan oleh tenaga mesin elektrik 4 diesel dengan kecepatan laju maksimal 21,5 knot.

Meski tua, kapal selam andalan Indonesia ini pernah ikut serta dalam latihan tempur bersama dengan Angkatan Laut Amerika Serikat, US Navy, dengan sandi Cooperation Afloat Readiness and Training/CARAT pada 27 Mei-3 Juni 2002 di perairan Laut Jawa dan Selat Bali. Selanjutnya dalam Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) XV/04 di Samudera Hindia pada 8 April-02 Mei 2004.  (Liputan6)

Unknown Monday, September 8, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


SBY "kebanjiran" tawaran berkarir di organisasi internasional

Posted: 05 Sep 2014 02:09 AM PDT

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal, mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mendapat tawaran karir di organisasi internasional pasca kepemimpinannya sebagai presiden Indonesia.


"Saya yakin Pak Yudhoyono akan mendapatkan banyak tawaran dari dunia internasional, bahkan sudah kebanjiran tawaran," kata Dino usai memberikan kuliah umum di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur pada Kamis petang.

Menurut Dino, Yudhoyono tidak berminat untuk menjabat kedudukan sebagai Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggantikan Ban ki-Moon yang sudah menjabat dua periode.


Selain itu, tambah Dino, jabatan Sekjen PBB sudah dua periode dipegang oleh warga Asia, sehingga dia menilai pada periode selanjutnya bukan dari Asia lagi.

"Namun jika masyarakat Indonesia bahkan dunia internasional beraspirasi Presiden SBY untuk maju menjadi Sekjen PBB, hal itu sah-sah saja," kata Wamenlu.

Menurut mantan dubes Indonesia untuk AS itu, kepercayaan masyarakat internasional kepada kiprah Presiden Yudhoyono merupakan refleksi dari reputasi SBY yang dinilai berprestasi dalam politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan mengedepankan demokrasi.

"Hal yang penting adalah bagaimana Indonesia bisa melanjutkan reputasi di dunia internasional sehingga memberikan keuntungan dari sisi ekonomi seperti bertambahnya investasi, kerja sama teknologi dan pendidikan," ujar Dino.

Sejumlah lembaga yang menawari jabatan karir bagi Presiden Yudhoyono berasal dari lembaga dan organisasi internasional yang bergerak di bidang lingkungan serta mitigasi konflik.

Presiden SBY telah menjabat sebagai Presiden RI selama dua periode sejak 2004 hingga 2014. (Antara)

Unknown Saturday, September 6, 2014