Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Kehadiran Tank Leopard Membuat Indonesia Sejajar Negara Lain

Posted: 25 Jun 2014 07:55 PM PDT

Sebanyak 26 dari 180 Tank Leopard pesanan Indonesia diserahterimakan pabrik pembuatnya, Rheinmettal Defence kepada Pemerintah Indonesia. Kehadiran Tank Leopard merupakan bagian penguatan postur pertahanan Indonesia.

Kehadiran Tank Leopard Membuat Indonesia Sejajar Negara Lain

Penyerahan Tank Leopard dilakukan Direktur Pelaksana Rheinmettal Land Systems Harald Westermann kepada Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Unterluss, Jerman, Senin (23/6/2014) lalu. Hadir dalam acara di pabrik Tank Leopard itu Duta Besar Indonesia Fauzi Bowo dan mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo.

Wamenhan menjelaskan, sebagai bagian dari rencana strategis pembangunan angkatan pertahanan Indonesia digariskan untuk membangun kekuatan pokok minimum yang memiliki mobilitas tinggi dan daya pukul yang dahsyat.


"Apabila penguatan Angkatan Udara dilakukan dengan pengadaan pesawat F-16 dan Sukhoi, Angkatan Laut dengan pengadaan kapal selam dan kapal perusak, maka Angkatan Darat dilakukan dengan pengadaan Tank Leopard. Kita memang tidak bermaksud untuk berperang, tetapi kita harus bersiap untuk menghadapi keadaan yang tidak diinginkan," kata Sjafrie.

Menurut Wamenhan, kehadiran Tank Leopard merupakan sejarah baru bagi angkatan pertahanan Indonesia, karena baru pertama kalinya Indonesia memiliki "main battle tank". Selama ini tank-tank yang dimiliki Indonesia jenisnya ringan, seperti AMX dan Scorpion.

"Di antara negara-negara ASEAN, kita yang terakhir memiliki Tank Leopard. Dengan kehadiran Tank Leopard, maka kita sejajar dengan negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand," kata Sjafrie.

Direktur Pelaksana Rheinmettal, Harald Westermann mengatakan, keputusan Rheinmettal untuk memenuhi permintaan pembelian Tank Leopard oleh Indonesia didasarkan atas pembangunan demokrasi di Indonesia. Jerman sangat mengharapkan peran Indonesia untuk menjaga perdamaian di kawasan.

Tank Leopard sendiri, menurut Westermann, dibangun dengan kemampuan teknologi yang tinggi. Meski berat matinya mencapai 62 ton, namun tekanan per sentimeter perseginya sangatlah ringan.

"Saya bisa pastikan bahwa tekanan untuk satu sentimeter persegi pada kaki perempuan yang menggunakan highheels jauh lebih berat daripada Tank Leopard. Tekanan pada sumbu dari Tank Leopard ini hanya 0,69 kg per cm2," kata Westermann.

Atas dasar itu tidak ada masalah dengan penggunaan Tank Leopard di Indonesia, karena negara-negara lain di Asia Tenggara pun sudah menggunakannya. "Asal tidak di rawa, Tank Leopard bisa dipakai di mana saja," kata Westermann.

Baik Sjafrie maupun Westermann sepakat bahwa kerja sama tidak hanya terbatas pada pembelian Tank Leopard. Rheinmettal setuju untuk melakukan kerja pembuatan munisi dengan PT Pindad.

Menurut Sjafrie, diharapkan dalam waktu dekat kebutuhan munisi bagi Tank Leopard sudah dibuat di PT Pindad. "Bahkan diharapkan bukan hanya kebutuhan Tank Leopard Angkatan Darat yang akan dipasok PT Pindad, tetapi juga kebutuhan untuk negara-negara di kawasan," kata Sjafrie.

Westermann mengajak Direktur Utama PT Pindad Sudirman Said untuk merealisasikan kerja sama pembangunan industri pertahanan. Ia bersemangat untuk menjadikan PT Pindad sebagai basis produksi dari Rheinmettal untuk kebutuhan alat utama sistem persenjataan di kawasan Asia Tenggara.

Sudirman Said yang ikut hadir di Unterluss berharap bisa memetik ilmu dari Rheinmettal. Ia kagum dengan cara kerja di Rheinmettal yang tidak terlalu modern, tetapi produktivitasnya tinggi.

"Fasilitas yang ada di PT Pindad jauh lebih modern dari Rheinmettal. Tetapi kita bisa melihat bagaimana mereka lebih efisien dan produktif dalam bekerja," kata Sudirman ketika meninjau lokasi pabrik. (Metro)

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin berharap Nextel Systems berkerjasama dengan Pindad

Posted: 25 Jun 2014 07:41 PM PDT

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berharap Nextel Systems, Prancis membantu meningkatkan kemampuan profesional PT Pindad. Kerja sama antara Nextel dan Pindad akan memperkuat kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis.

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin berharap Nextel Systems berkerjasama dengan Pindad
Amunisi Buatan Pindad

SJafrie menyampaikan harapan tersebut saat menerima empat unit persenjataan artileri medan, Caesar 155 mm di Roanne, Prancis, Rabu (25/6). Indonesia memesan 37 unit Caesar untuk memperkuat TNI Angkatan Darat.

"Hari ini kita menyaksikan penyerahan pertama unit Caesar yang dipesan Indonesia. Saya berharap agar ini baru awal dari kerja sama pertahanan dan industri pertahanan antara Indonesia dan Prancis," kata Sjafrie.


Menurut Wamenhan, rencana strategis yang ditetapkan pemerintah Indonesia ditujukan untuk juga memperkuat  industri pertahanan dalam negeri. Pindad sendiri sedang dalam tahap pengembangan untuk menjadi pemasok bagi TNI AD.

 Sebagai perusahaan yang sudah berdiri satu abad, Sjafrie mengakui bahwa Nexter sudah sampai pada penguasaan teknologi tinggi. Pengalaman Nexter itu diharapkan bisa ddibagi dengan Pindad dengan membangun industri bersama bagi pemenuhan kebutuhan alat utama sistem persenjataan untuk Indonesia dan ASEAN.

 Kerja sama antara Nexter dan Pindad tidak hanya terbatas pada pengembangan peralatan taktis tempur dan persenjataan, tetapi juga munisi. Kebutuhan munisi tidak kalah dibandingkan dengan alutsista itu sendiri.

Didukung pemerintah
 Wakil Presiden Direktur Nexter, Mike Duckworth sangat antusias untuk mengembangkan kerja sama dengan Pindad. Apalagi Nexter mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Prancis dan AD Prancis.

"Permintaan Indonesia untuk mendapatkan Caesar disampaikan pada bulan September 2011. Kami baru bisa memprosesnya setelah mendapatkan lampu hijau dari Pemerintah Prancis dan Angkatan Darat Prancis," kata Duckworth berterus terang.

Ia melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan antara Nexter dan Pindad. Pengadaan Caesar yang baru pertama kali dilakukan Nexter untuk Indonesia, bisa menjadi awal bagi kerja sama lebih lanjut.

Indonesia merupakan negara keempat setelah Prancis, satu negara Timur Tengah, dan Thailand. Caesar mempunyai keunggulan mampu bergerak sendiri karena larasnya berada di atas kendaraan. Setiap kendaraan mampu membawa maksimum 32 munisi yang siap ditembakkan.

Menurut Komandan Pusat Persenjataan Artileri Medan Brigjen Sonhadji, TNI AD akan menerima total 37 unit Caesar hingga tahun 2016. Alutsista ini akan ditempatkan di Batalion Armed di Purwakarta dan Ngawi. Caesar selama ini sudah dipergunakan Tentara Prancis di Afganistan, Lebanon, dan Mali. Daya jangkau tembakan Caesar bisa mencapai 39 km dan bahkan diperjauh hingga 42 km. (Tom | Metro)

Caesar 155 mm Lengkapi Artileri TNI

Posted: 25 Jun 2014 07:34 PM PDT

TNI Angkatan Darat mendapatkan penguatan pada alat utama sistem persenjataan dengan menerima empat unit artileri medan, Caesar 155 mm. Indonesia merupakan negara keempat pengguna alutsista buatan Nexter, Prancis.

Caesar 155 mm buat Nexter

Caesar mempunyai keunggulan mampu bergerak sendiri karena larasnya berada di atas kendaraan. Setiap kendaraan mampu membawa maksimum 32 munisi yang siap ditembakkan.


Menurut Komandan Pusat Persenjataan Artileri Medan Brigjen Sonhadji, TNI Angkatan Darat akan menerima total 37 unit Caesar hingga tahun 2016. Alutsista ini akan ditempatkan di Batalion Purwakarta dan Ngawi.

Caesar selama ini sudah dipergunakan Tentara Prancis di Afganistan, Lebanon, dan Mali. Daya jangkau tembakan Caesar bisa mencapai 39 kilometer dan bahkan diperjauh hingga 42 kilometer. Selain Prancis, sekarang ini yang menggunakan Caesar adalah satu negara Timur Tengah dan Thailand. (Tom | Metro)

Rheinmetall Gamdeng Pindad Bangun Pabrik Amunisi Leopard untuk Asia

Posted: 25 Jun 2014 07:27 PM PDT

Ada maksud strategis yang dilakukan pemerintah dalam pengadaan 180 unit tank Leopard dan Marder, produk Rheinmetall dari Jerman. Ternyata dalam pembelian tank berat ini pemerintah tidak hanya sekadar belanja, tapi juga bermaksud untuk pengembangan PT Pindad di masa yang akan datang.

Amunisi Tank Leopard Buatan Rheinmetall
Amunisi Tank Leopard Buatan Rheinmetall
Karena itu, dalam peninjauan ke pabrik Rheinmetall di Unterluss, Jerman, Wakil Menteri Pertahanan (Wamen) Sjafrie Sjamsoeddin mengajak serta Dirut PT Pindad Sudirman Said. Diharapkan, Sudirman Said yang baru dilantik awal Juni lalu itu bisa mendengar dan melihat bagaimana Rheinmetall memproduksi Leopard dan bisa segera merealisasikan kesepakatan kerjasama Rheinmetall dengan PT Pindad yang telah diteken sebelumnya.

"Kerjasama tidak hanya membeli senjata, tapi ada transfer teknologi untuk membangun kemampuan industri pertahanan dalam negeri," tegas Sjafrie dalam jumpa pers seusai penyerahan simbolis tank Leopard dan Marder tahap pertama di pabrik Rheinmetall, Unterluss, Senin (23/6/2014) sore.


Menurut Sjafrie, Rheinmetall bersama PT Pindad akan mengembangkan pabrik amunisi kaliber besar, sehingga amunisi Leopard yang memiliki canon 120 mm itu akan diproduksi di Indonesia. Bahkan, lanjut Sjafrie, nantinya PT Pindad akan menjadi pusat distribusi amunisi Leopard di seluruh Asia.

"Inilah yang menjadi target strategis dalam pengadaan alutsista kita. Kita tidak hanya membeli senjata, tapi juga menyerap sistem, sehingga kemandirian industri pertahanan itu bisa mendukung kemampuan pertahanan kita. Kita akan mandiri dan bebas dari kemungkinan-kemungkinan restriksi dari luar negeri," ujar dia.

Saat ditanya kapan realisasi PT Pindad membangun pabrik untuk amunisi Leopard, Sjafrie menyatakan MoU terkait kerjasama ini sudah ditandatangani. "Jadi nanti secara bertahap akan dilangsungkan kegiatan Dirut Pindad dan Rheinmetall," kata Sjafrie.

Dari kerjasama dengan Rheinmetall, diharapkan kualitas teknik dari industri pertahanan dalam negeri Indonesia juga akan semakin bertambah baik. "Kalau nanti Indonesia bisa menjadi pasar di Asia, kita bisa menjadi regional power di dalam market industri pertahanan. Ini yang kita jalankan," tegas dia.

Local Content untuk Leopard


Dalam pembuatan Leopard yang dipesan Indonesia, PT Pindad yang selama ini sudah berpengalaman dalam membuat tank dan panser Anoa, juga akan dilibatkan dalam pemasangan beberapa bagian, termasuk dalam sistem pendingin dan sistem komunikasi. Pelibatan ini merupakan bagian dari upaya mencari nilai tambah keuntungan untuk Indonesia dan transfer teknologi.

"Jadi, bagian-bagian yang belum dipasang di Jerman, akan dilaksanakan di PT Pindad, terkait local content-nya. Kalau kita beli persenjataan, kita harus pikirkan bagaimana industri pertahanan dalam negeri dapat nilai tambah. Nah salah satu nilai tambah itu adalah kegiatan-kegiatan teknik yang belum selesai di sini akan dilakukan di PT Pindad. Kita tidak keluarkan biaya, karena itu bagian dari kontrak," ujar Sjafrie. (Detik)

Leopard Merusak Jalan? Direktur Rheinmetall: Oh, Tidak!

Posted: 25 Jun 2014 02:46 AM PDT

Anggapan bahwa tank Leopard yang berbobot 62 ton akan merusak kondisi jalan dan jembatan ditepis oleh Managing Director Rheinmetall Landsysteme, Harald Westerman. Dengan teknologi, beban 62 ton akan dibagi dalam banyak titik, sehingga beban per 1 cm persegi hanya 0,69 Kg.

Harald Westerman Bersama Wamenhan RI

"Beban ini lebih ringan dibanding beban sepatu hak tinggi yang dipakai seorang perempuan," kata Harald Westerman memberikan perbandingan serius terkait beban tanka Leopard. Penjelasan ini disampaikan Westerman seusai penyerahan simbolis tank Leopard dan Marder tahap pertama di pabrik Rheinmetall, Unterluss, Jerman, Senin (23/6/2014) sore.


Pembagian beban Leopard yang hanya 0,69 kg per 1 cm persegi terjadi karena Leopard menggunakan roda rantai yang bisa membagi beban dalam banyak titik. Beban per cm persegi ini akan semakin berkurang tatkala Leopard dalam keadaan bergerak. Semakin Leopard bergerak lebih cepat, maka beban terhadap permukaan akan semakin kecil.

Karena itu, Westerman membantah keras anggapan bahwa Leopard tidak cocok digunakan di Indonesia karena bisa merusak jalan raya dan jembatan sebagaimana yang disampaikan capres nomor 2 Joko Widodo (Jokowi) dalam debat Capres pada Minggu (22/6/2014). Menurut dia, tank Leopard cocok digunakan di berbagai medan, termasuk di Indonesia. Leopard tidak akan membuat jalan beraspal maupun tanah ambles. "Hanya di rawa saja Leopard tidak bisa digunakan," kata dia.

detikcom bersama Dirut PT Pindad Sudirman Said mendapat kesempatan menjajal tank Leopard di lahan uji coba di pabrik Rheinmetall sekitar 20 menit. Leopard dipacu dengan kecepatan rendah kemudian meninggi sekitar 60 KM/jam di jalan berpaving blok, jalan tanah, jalan beraspal dan jalan berumput. Leopard juga bermanuver di jalan agak meninggi dan menurun. Di semua permukaan jalan itu, Leopard tidak merusak jalan berpaving blok dan aspal. Leopard juga tidak ambles di jalan tanah maupun jalan berumput.

Pemantauan detikcom, roda rantai Leopard juga dilapisi bantalan karet, sehingga yang bergesekan dengan permukaan jalan adalah bantalan karet, bukan baja. Bantalan karet di roda berantai ini juga yang mengakibatkan jalan permukaan keras aman-aman saja.

Sebelumnya Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa Leopard merupakan tank berat yang sangat dibutuhkan dalam sistem pertahanan Indonesia. "Leopard sangat penting untuk operasi militer perang," kata Sjafrie.

Dia menjelaskan pengadaan alutsista yang diputuskan pemerintah sudah mempertimbangkan dua misi operasi TNI dalam pertahanan, yaitu operasi militer perang dan operasi militer nonperang. Pengadaan pesawat tempur F-16 untuk TNI AU dan kapal selam untuk TNI AL juga bertujuan untuk operasi militer perang. (Detik)

Rusia Siap Rangkul RI Kembangkan Teknologi Drone

Posted: 25 Jun 2014 02:42 AM PDT

Isu pesawat nirawak untuk pertahanan Indonesia mencuat dalam debat calon presiden (Capres) Indonesia Minggu malam lalu. Dari isu itu, Rusia siap merangkul Indonesia untuk bekerjasama mengembangkan drone yang bisa digunakan untuk memantau wilayah maritim Indonesia.

Rusia Siap Rangkul RI Kembangkan Teknologi Drone

Kesiapan Rusia untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam mengembangkan drone disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y Galuzin. Menurutnya, Rusia dan Indonesia sudah lama bekerjasama dalam bidang alutista. Siapa pun presiden Indonesia yang terpilih nanti, dia harapkan untuk melanjutkan kerjasama alutsista dengan Rusia.
 


"Jika kami (Rusia) mendapatkan proposal dari Indonesia untuk bekerjasama dalam hal pengembangan drone, tentu saja kami akan sangat senang untuk bekerjasama," ucap Galuzin, saat ditemui Sindonews, Selasa (24/6/2014).

Galuzin mengakui Rusia memiliki beberapa drone.Tapi, menurut dia penggunaan drone sangat jarang dilakukan oleh Rusia. Dia menyatakan Rusia hanya menggunakan drone di saat-saat penting, yang memang mengharuskan pemerintah untuk menerjunkan pesawat tanpa awak itu.

Isu drone untuk memantau wilayah maritim mencuat, ketika kedua Capres Indonesia, yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo menyampaikan visi misi dan adu argumen tentang alutsista Indonesia. Joko Widodo memunculkan isu drone untuk memantau dan melindungi wilayah maritim Indonesia. (Sindo)

Unknown Thursday, June 26, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Kementrian pertahanan Blusukan Meninjau LST, CN-295 dan Tank AMX-13 Retrofit

Posted: 24 Jun 2014 10:24 AM PDT

Menjelang akhir-akhir masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Kementrian Pertahanan mengebut sejumlah proyek pengadaan alutsista, terutama dari Industri Dalam Negeri. Sebelum bertolak ke Jerman, Wamenhan Sjafrie Sjamsoedin blusukan ke sejumlah Industri pertahanan. Dalam sehari, mantan Pangdam Jaya itu memantau proses produksi alutsista di PT.DI, Pindad dan Lampung. Dan tampak dalam foto di bawah ini adalah Kapal Angkut Tank produksi Daya Radar Utama yang hampir rampung.

Kementrian pertahanan Blusukan Meninjau LST, CN-295 dan Tank AMX-13 Retrofit

Tampak memang LST yang dibangun khusus untuk mengangkut MBT Leopard II ini berukuran sangat besar. Dalam spesifikasinya, direncanakan LST ini mampu mengangkut 10 MBT sekaligus. Namun demikian, pengerjaan LST yang dilakukan secara paralel dengan Dok Kodja Bahari ini mengalami keterlambatan. Saat ini proses pengerjaan sudah 88%. Mesin dan kabel-kabel sudah terpasang. Yang perlu dilakukan saat ini memasang piringan putar, pintu rampa, serta propeller.  Sementara direncanakan LST itu akan dipasang senjata 2x40mm di haluan serta 12,7mm di buritan.


Sebelum ke PT.DRU, Wamenhan juga sempat mengunjungi PT.DI dan PT.Pindad di Bandung Jawa Barat. Di PT.DI, wamenhan meninjau final assembly dari CN-295 ke-8 pesanan Pemerintah. Bodi utuh, sayap serta sirip CN-295 ke-8 ini aslinya dibawa langsung dari Spanyol. Namun perakitan, wiring, pemasangan mesin hingga test terbang semua dilakukan di Bandung. Ini adalah bagian dari Transfer Teknologi yang dijanjikan pihak Airbus kepada Indonesia.

Di Pindad, Wamenhan meninjau proses retrofit Tank AMX-13. Saat ini sedang dilakukan retrofit 4 unit Tank buatan Prancis tersebut. Selain versi Kanon, Retrofit juga menyentuh AMX-13 versi Angkut Pasukan dan Komando. Direncanakan pada 5 Oktober nanti 9 unit Tank AMX-13 Retrofit Pindad itu akan ikut berparade. (ARC)


 








26 Tank Leopard dan 26 Tank Marder Tiba di Indonesia Sebelum 5 Oktober

Posted: 24 Jun 2014 09:58 AM PDT

Saat ini Rheinmetall Defence sedang memfinalisasi sebagian dari 180 unit tank Leopard dan Marder pesanan pemerintah Indonesia. Tahap pertama, yang terdiri 26 Leopard dan 26 Marder akan dikirim dalam dua tahap dan akan tiba di Indonesia sebelum perayaan HUT TNI 5 Oktober 2014.

26 Tank Leopard dan 26 Tank Marder Tiba di Indonesia Sebelum 5 Oktober

Penyerahan dua jenis tank itu secara simbolis telah diupacarakan resmi di pabrik Rheinmetall di Unterluss, Jerman, Senin (23/6/2014) sore waktu setempat. Unterluss, merupakan kota kecil yang berjarak sekitar 100 KM dari Hamburg. Pabrik Rheinmetall yang merupakan perusahaan swasta produsen persenjataan dan peralatan militer ini bertempat di pedesaan, jauh dari pemukiman warga.

Hadir dalam roll-out delegasi Indonesia yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Anggota delegasi antara lain Duta Besar RI untuk Jerman Fauzi Bowo, mantan KSAD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo, Kabaranahan Kemhan Laksda TNI Rachmad Lubis, Asops KSAD Mayjen TNI Sonny Wijaya, Danpusenkav Brigjen TNI Mulyanto, Dirrenbanghan Kemhan Marsma TNI Safii, Kapusada Marsma TNI Asep S, dan Dirut Pindad Sudirman Said.


Upacara penyerahan secara simbolis Leopard dan Marder ini dihadiri para pejabat Rheinmettal yang dipimpin Harald Westerman, managing director Rheinmetall Landsysteme. Acara ini diawali dengan sambutan Westerman mewakili Rheinmetall. Dalam sambutannya, Westerman menjelaskan kemajuan proses pembuatan 180 unit tank Leopard dan Marder.

Menurut Westerman, Leopard merupakan main battle tank (MBT) yang memiliki berat 62 ton dan merupakan generasi baru berteknologi tinggi. MBT Leopard telah digunakan banyak negara di dunia dalam memperkuat sistem pertahanan negaranya. Dia berterima kasih kepada pemerintah Indonesia atas hubungan kerja sama ini dan berharap kerja sama akan terus berlanjut. "Nanti akan ada kerjasama dengan PT Pindad terkait hal ini," kata dia. Rheinmetall berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini pada 2016 sesuai dengan kontrak yang diteken.

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin juga memberikan sambutan mewakili pemerintah Indonesia. Dia menyatakan dengan memiliki tank Leopard dan Marder, sistem pertahanan Indonesia akan memulai babak baru. Kini, Indonesia sudah memiliki MBT sebagaimana beberapa negara lain di Asia Tenggara lainnya yang sudah memilikinya lebih dulu, seperti Singapura dan Malaysia. "Karena itu, bagi kami Rheinmettal merupakan partner sangat penting dalam rangka modernisasi alutsista Indonesia," kata Sjafrie.

Sjafrie menjelaskan 26 Leopard dan 26 Marder ini akan ditampilkan dalam defile saat peringatan HUT TNI 5 Oktober yang akan digelar di Surabaya. Karena itu, Sjafrie berharap pengiriman 52 unit tank dari Rheinmetall ini bisa tepat waktu.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis. Dimulai dengan lagu nasional Jerman dan lagu Indonesia Raya, dokumen penyerahan Leopard dan Marder ini diserahkan Westerman kepada Sjafrie. Setelah itu, Sjafrie menyerahkannya kepada Asops KSAD Mayjen TNI Asep Wijaya yang mewakili TNI AD sebagai pengguna Leopard dan Marder. Tanpa jeda lama, Mayjen Asep menyerahkan dokumen itu kepada pihak kavaleri TNI AD yang diwakili Kolonel Suharto Lebang.

Setelah itu, Rheinmetall memperlihatkan 1 tank Leopard dan 1 tank Marder yang sebelumnya tertutup tirai. Begitu tirai dibuka, para undangan bertepuk tangan dengan gegap gempita. Mesin kemudian dinyalakan, Leopard dan Marder warna hijau itu pun dioperasikan ke halaman gedung tempat acara ini berlangsung. Dua tank beratraksi singkat, bergerak dengan kecepatan agak tinggi sejauh 150 meter dan belok berputar berkali-kali.

Tank Leopard merupakan tank berat yang digunakan untuk menyerbu musuh dengan memiliki canon kaliber besar berukuran 120 mm. Tank ini memuat 4 prajurit. Ini merupakan tank ber-canon paling besar yang dimiliki Indonesia. Sedangkan tank Marder berfungsi sebagai penyerbu dan juga digunakan untuk membawa personel.

Sebelum penyerahan secara simbolis ini, Wamenhen Sjafrie bersama delegasi juga diajak berkeliling pihak Rheinmetall ke pabrik untuk melihat proses pembuatan Leopard dan Marder sekitar 1 jam. Rheinmetall memperlihatkan beberapa tank yang tengah dirakit dan menjelaskan prosesnya.

Dikirim dalam 2 Tahap


Di tempat yang sama, Senior Vice President Integrated Logistic Support Divisian Combat Systems Rheinmetall Karl Ulrich Zulauf mengatakan pengiriman 26 Leopard dan 26 Marder akan dilakukan dua tahap. Tahap pertama akan dikirim dari Jerman sekitar akhir Juli dan tahap kedua akan dikirim akhir Agustus. "Pengiriman dengan kapal ini membutuhkan waktu sekitar 5 minggu dari Jerman sampai ke Indonesia," kata Zulauf.

Hingga saat ini, Zulauf yakin proses pembuatan Leopard dan Marder tahap pertama ini akan selesai sesuai waktu yang telah direncanakan. Sedangkan sisanya akan diselesaikan hingga 2016. Dalam waktu dekat Rheinmetall dan pemerintah Indonesia akan segera membahas mengenai teknis pengiriman. (Detik)

Wamenhan: Tank Leopard Sangat Penting untuk Tugas Operasi Militer Perang

Posted: 24 Jun 2014 09:50 AM PDT

Pemerintah telah memutuskan pengadaan 180 unit tank Leopard dan Marder buatan Rheinmetall Jerman untuk modernisasi alutsista Indonesia. Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan kembali kehadiran Leopard sangat penting untuk Indonesia, terutama untuk tugas operasi militer perang.

Wamenhan saat berbincang dengan jajaran Rheinmetall
Wamenhan saat berbincang dengan jajaran Rheinmetall

"Jadi, Leopard adalah bagian kekuatan TNI dalam rangka pertahanan militer untuk tugas melakukan operasi militer perang. Misi TNI itu ada dua, operasi militer perang dan operasi militer non perang. Alustista strategis seperti Leopard, kapal selam, dan pesawat tempur F16 digunakan untuk operasi militer perang dalam menghadapi operasi lawan, bukan digunakan untuk kebutuhan non militery operation," tegas Sjafrie.

Penegasan Sjafrie ini disampaikan dalam jumpa pers seusai penyerahan simbolis Leopard dan Marder tahap pertama di pabrik Rheinmetall, Unterluss, Jerman, Senin (23/6/2014) sore. Sjafrie yang didampingi Dubes RI untuk Jerman Fauzi Bowo dan para delegasi Indonesia menanggapi polemik mengenai Leopard yang kembali muncul di dalam negeri setelah tank berjenis main battle tank ini dibahas dalam debat Capres hari Minggu (22/6/2014).


Sebagaimana diketahui, dalam debat itu capres nomor urut 2 Joko Widodo (Jokowi) tidak setuju dengan pengadaan Leopard karena tank ini tidak sesuai kondisi jalan dan jembatan di Indonesia. Menurut Jokowi, bobot tank seberat 62 ton itu bisa merusak infrastruktur jalan di Indonesia.

Sjafrie menjelaskan banyak kelebihan yang diperoleh Indonesia setelah memiliki Leopard. "Kita bisa menunjukkan keunggulan operasional dalam menghadapi operasi militer perang dan menghadapi operasi non perang. Inilah fungsi alutsista strategis dalam operasi militer perang," tegas Sjafrie.

Menurut dia, salah satu persyaratan negara kuat, harus mampu mempunyai peralatan operasi militer perang. "Sebagaimana kita ketahui, suatu negara memiliki kewajiban peralatan pertahanan yang kuat, bukan untuk ofensif, tapi merupakan suatu bagian daripada atribut bangsa dan negara untuk menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa, menghadapi lawan dalam operasi militer," tegas jenderal purnawirawan bintang tiga ini.

Dengan demikian, kata Sjafrie, pesanan 180 unit Leopard dan Marder ini merupakan wujud modernisasi peralatan militer Indonesia dalam membangun kemampuan pertahanan untuk mendukung terjaganya kedaulatan RI. "Ini merupakan salah satu bagian kecil dari sejumlah modernisasi yang dilakukan, baik dari alutsista yang diproduksi dalam negeri maupun luar negeri untuk memperkuat kekuatan militer kira, sehingga kekuatan militer kita memenuhi kebutuhan bangsa dan negara untuk memangun suatu negara kuat. Inilah wujud dari dedikasi sistem pertahanan negara kepada bangsa dan negara," ujar dia.

Karena itu, Sjafrie memastikan bahwa pengadaan Leopard akan terus dilakukan pemerintah Indonesia hingga tuntas. Proses pengadaan Leopard dan Marder ini akan selesai pada 2016. (Detik)

Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Cipayung

Posted: 24 Jun 2014 09:46 AM PDT

Terduga Teroris Berencana Bakar Pos Polisi di Depok dan Jakarta

Penangkapan terduga teroris di Kelurahan Munjul, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (24/6/2013) diawali dari penangkapan terduga teroris di Jati Padang, Jakarta Selatan, Kamis (19/6/2014).

Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Cipayung
BNPT sudah punya catatan tentang AW dalam kaitannya dengan aksi terorisme

Kabiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar menjelaskan, penangkapan terhadap Mury alias Donal di rumahnya RT 11 RW 5 Nomor 55, Kelurahan Munjul, berdasar pengembangan terduga teroris sebelumnya.

"Keterlibatannya tergabung dalam kelompok Syariatul Irhab pimpinan Arif Budi Setyawan alias Arif Tuban yang sudah ditangkap 19 Juni 2014 di Jati padang Jakarta Selatan," kata Boy dalam pesan tertulisnya kepada wartawan, Selasa (24/6/2014).


Kelompok Arif Tuban ini, dikatakan Boy, merencanakan untuk menyerang sebuah pos polisi di Depok, dan Jakarta. "Mereka telah merencanakan aksi teror dengan membakar Pos Polisi di Depok dan DKI Jakarta," terang Boy.

Seorang terduga teroris diamankan tim Densus 88 Antiteror Polri sekitar pukul 17.45 WIB di Jalan Dalang RT 11 RW 05, Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (24/6/2014). Pria yang ditangkap bernama Akbar alias Muri alias Donal.

Adapun beberapa barang bukti yang diamankan diantara selongsong senapan yang sdh dirakit menjadi munisi, dua buah laptop, pipa paralon yang sudah dirakit, buku ajaran jihad dan tasawuf, serta senapan angin. "Sudah diamankan di Mabes Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut," ungkapnya. (Tribun)

Indonesia Akan Jadi Pusat Produksi Suku Cadang Leopard di Asia

Posted: 24 Jun 2014 09:38 AM PDT

Roll out and hand over batch pertama tank Leopard dilakukan, Selasa (24/6/2014),  di fasilitas pabrik pembuatan tank Leopard yang dimiliki Rheinmettal Landsysteme GmbH.

Indonesia Akan Jadi Pusat Produksi Suku Cadang Leopard di Asia

Pada upacara roll out dan handover ini diluncurkan secara simbolis 1 unit Leopard main battle tank (mbt) dan 1 unit marder yang dilakukan oleh Harald Westermann, Managing Director Rheinmettal Landsysteme GmbH, kepada Wamenhan, Letjen (Purn) TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

"Revitalisasi dan modernisasi alutsista militer Indonesia adalah dalam rangka menjalankan tugas negara menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI," ujar Sjafrie dalam keterangannya.


Dikatakan menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah suatu negara adalah sebuah hasil kerja militer dan non militer. "Kehadiran main battle tank Leopard di wilayah Indonesia ini   adalah bagian penting dalam menjalankan tugas ini," kata Sjafrie.

Sjafrie juga menyampaikan bahwa apa yang dilakukan hari ini merupakan catatan sejarah tersendiri dalam hubungan bilateral Indonesia-Jerman.

"Pembelian unit tank Leopard diikuti oleh Nota Kesepahaman antara Rheinmettal dengan PT PINDAD (Persero) untuk Indonesia dapat memproduksi beberapa suku cadang tank Leopard," ungkap Sjafrie.

Ditegaskan kerjasama antara Pemerintah Jerman dan Indonesia ini diikuti oleh alih teknologi yang menguntungkan industri persenjataan, amunisi dan kendaraan alat tempur dalam negeri.

"Pindad akan kami jadikan pusat produksi dan distribusi suku cadang tank Leopard untuk wilayah Asia," ujar Sjafrie.

Dalam kesempatan yang sama Sudirman Said, Presiden Direktur PT PINDAD (Persero) menyatakan bahwa MoU sedang dipersiapkan antara kedua belah pihak. "Target kami MoU bisa ditandatangani kedua belah pihak di akhir Juli 2014," kata Sudirman.

Dalam pidato sambutanya Sjafrie juga mengapresiasi inisiatif yang telah dilakukan mantan KSAD, Jendral (Purn) Pramono Edhie Wibowo. "Pak Edhie selaku KSAD TNI saat itu mengajukan peremajaan alutsista dan mengusulkan pembelian main battle tank yang sebelumnya tidak dimiliki Indonesia," tutur Sjafrie.

Rencananya 26 main battle tank dan 26 marder Leopard akan tiba di Indonesia di September 2014. Total pengiriman 164 unit tank Leopard akan selesai hingga 2016. (Tribun)

Unknown Wednesday, June 25, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Panglima TNI minta prajurit jaga stabilitas politik

Posted: 23 Jun 2014 08:23 PM PDT

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko minta prajurit ikut menjaga stabilitas politik menjelang Pemilu Presiden 2014 dengan bersikap netral dan profesional.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)

"TNI tetap bertekad menjaga netralitas dan menjadi prajurit yang profesional," kata Moeldoko di Hanggar Skadron Pendidikan (Skadik) 101 Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto Yogyakarta, Senin.

Saat memberikan pengarahan kepada prajurit TNI AD, TNI AL, dan TNI AU se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ia mengatakan dalam proses Pemilu Presiden 2014 ada purnawirawan TNI yang terlibat.


Menurut dia, keterlibatan purnawirawan TNI dalam dunia politik merupakan hal yang wajar karena mereka juga warga negara yang memiliki hak berpolitik.

"Namun, purnawirawan TNI itu tidak bisa mempengaruhi prajurit karena prajurit tidak bisa dipengaruhi oleh mereka," katanya.

Ia mengatakan mereka tidak lagi menyandang pangkat dan jabatan sehingga prajurit tidak perlu bingung dan was-was menyikapi hal itu.

"Prajurit harus menyikapi hal itu dengan tenang. Prajurit tidak perlu bingung terhadap situasi seperti itu," katanya. (Antara)

40% Komponen Pesawat Tanpa Awak Buatan Lapan Masih Impor

Posted: 23 Jun 2014 07:21 PM PDT

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) sudah mampu membuat dan membangun pesawat tanpa awak atau Lapan Surveillance Unmanned (LSU) Aerial Vehicle. Komponen produk pesawat tanpa awak ini tidak sepenuhnya buatan lokal. Masih ada yang harus diimpor, seperti mesin dan motor penggerak.

40% Komponen Pesawat Tanpa Awak Buatan Lapan Masih Impor
Pesawat Tanpa Awak Lapan

"Komponen impor masih ada karena memang keterbatasan kita seperti motor dan mesin," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan Jasyanto saat ditemui detikFinance di Kantor Pusat Lapan, Jalan Pemuda Persil, Rawamangun, Jakarta, Senin (23/06/2014).

Selain motor dan mesin, komponen lainnya murni dibuat di Indonesia. Porsi komponen lokal pesawat tanpa awak yang dibuat Lapan jauh lebih besar dibandingkan komponen impornya.


"Kalau untuk kerangka badan pesawat, bentang sayap hingga program dibuat di dalam negeri semua. Porsinya 60% komponen dari dalam negeri sisanya impor," imbuhnya.

Di tempat yang sama, Deputi bidang Teknologi Dirgantara Lapan Rika Andiarti mengakui, masih ada beberapa komponen pesawat yang masih harus diimpor dari negara lain. Impor dilakukan karena keterbatasan industri yang ada di dalam negeri.

"Masih ada komponen yang harus kita impor terutama dari sisi elektronik. Tetapi kita juga mampu membuat alat elektronik lainnya yang dibutuhkan pada jenis pesawat ini," katanya.

Seperti diketahui, Lapan hingga saat ini telah mempunyai 3 jenis pesawat tanpa awak yaitu pesawat tanpa awak jenis Lapan Surveillance UAV-01X dan LSU 02, dan LSU 03. Di tahun ini, Lapan juga sedang mengembangkan jenis pesawat tanpa awak terbaru dengan series LSA 05.

Nantinya pesawat tanpa awak jenis LSA 05 bisa digunakan untuk pemadaman kebarakan hutan dan keperluan pemantauan strategis lainnya. Pesawat ini mampu terbang non-stop 6-8 jam dengan jangkauan tempuh hingga mencapai 1.300 km dan tinggi hingga 5.000 km serta mampu membawa beban hingga 160 kg. (Detik)

Anggaran Terbatas, Lapan Belum Bisa Produksi Satelit Nasional

Posted: 23 Jun 2014 07:14 PM PDT

Keterbatasan dana yang diberikan pemerintah kepada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) membuat sejumlah program termasuk pembuatan satelit belum berjalan optimal.


Tahun ini Lapan mendapatkan alokasi anggaran Rp 800 miliar. Sementara rata-rata biaya pembuatan satelit mencapai Rp 2,5 triliun.

"Kami juga prihatin dengan anggaran untuk antariksa yang besar itu jauh dari semestinya. Kita dengar bank nasional membeli satelit sendiri dengan harga Rp 2,5 triliun untuk 7 sampai 15 tahun ke depan. Dengan anggaran Lapan hanya kurang dari Rp 1 triliun, saya anggap anggaran masih sangat kecil dibandingkan harga satu satelit komunikasi saja," kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin saat melakukan kerjasama penandatangan penggunaan teknologi dengan Pemerintah Daerah di Gedung Utama Lapan, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (23/06/2014).


Thomas menjelaskan, kepemilikan satelit bagi Indonesia penting, untuk berbagai tujuan, seperti untuk komunikasi, kerahasiaan informasi negara, informasi cuaca dan manfaat lainnya. Bila kebutuhan yang besar ini tidak dipenuhi dari produksi dalam negeri, maka Indonesia akan sepenuhnya menumpang satelit dari organisasi atau negara lain.

"Kebutuhan satelit informasi dan penginderaan jauh kita masih bergantung dari negara lain. Satelit sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari negara kita. Satelit jelas membantu mengembangkan daerah. Kalau begitu kita harus mandiri. Sejak tahun 1976 kita menjadi pengguna satelit komunikasi dan hingga saat ini masih bergantung dari negara lain," tuturnya.

Ia sangat berharap pemerintah mendatang bisa membuat program pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Salah satu harapan dia adalah pemerintah mendatang memberikan porsi anggaran yang jauh lebih besar untuk membangun dan mengembangkan IPTEK di dalam negeri.

Lapan bermimpi bisa meluncurkan satelit penginderaan jarak jauh sendiri. Kemudian merancang, membuat, meluncurkan, dan mengorbitkan sendiri. Selain itu Lapan juga berharap sama untuk membangun satelit komunikasi dengan wahana sendiri dan mempunyai bandara sendiri.

"Itu cita-cita besar kami. Mudah-mudahan janji capres dan cawapres untuk mengembangkan IPTEK bukan hanya sekedar janji. Kita harap tahun 2015 pengembangan IPTEK akan tinggi lagi," cetusnya. (Detik)

Helikopter ASW Panther AS565 MB Perkuat Skadron Anti Kapal Selam TNI AL

Posted: 23 Jun 2014 07:08 PM PDT

Rasa gembira menaungi Skadron Udara 400 (Anti Kapal Selam) TNI AL. Pasalnya sebagian rekan mereka tengah berada di Prancis untuk menguji coba dan memilih spesifikasi Helikopter Anti Kapal Selam (AKS) Panther AS-565 MB yang sedang dibeli Kementerian Pertahanan. Gembira karena ada alutsista baru yang segera menemani helikopter AS332 Super Puma, Bell 412EP dan BO-105c, milik Skadron 400. Gembira karena kapal perang mereka akan semakin gahar dan diperhitungkan lawan.

Panther AS-565 MB Perkuat Skadron Anti Kapal Selam TNI AL
Helikopter anti kapal selam AS-565 Panther (photo:eurocopter)

Helikopter AS 565 MB merupakan multi purpose: naval version, serach and rescue, berbasiskan AS 365 N3 (maritime patrol and surveillance platform).

AS 565 MB, bisa digunakan untuk misi: fire support, Anti-Submarine (ASW) dan Anti-Surface Warfare (ASuW), yang bisa dipersenjatai dengan: AS15TT anti-ship missiles, searchlight, Magnetic Anomaly Detector (MAD), dipping sonar, search radar, anti-tank missiles, gun pods, rockets, torpedo dan lain sebagainya. Panther juga dijual oleh Eurocopter ke Amerika Serikat untuk United States Coast Guard (USCG) sebagai HH-65 Dolphin.


Dari 11 helikopter yang dibeli TNI AL, tidak semuanya untuk AKS, namun ada juga versi AKPA dan versi Intai Taktis. Helikopter Panther AS-565 MBe yang dibeli seharga 23 USD/unit ini, sedang disiapkan oleh Skadron 400 TNI AU dan pihak Prancis, untuk mendapatkan spesifikasi yang terbaik, bagi Indonesia.

Untuk misi operasi Naval, AS565MB bisa dikatakan nyaris sempurna: senyap, biaya perawatan murah, multi purpose untuk: surveillance kapal permukaan, Anti-Surface unit Warfare (ASuW) dan Anti-Submarine Warfare (ASW).

Anti Kapal Permukaan

Dengan durasi terbang selama 4 jam, AS565MB masuk kedalam kelas helikopter medium. Helikopter ini dapat melakukan misi Over-the-Horizon Targeting (OTHT) dengan membawa rudal jarak jauh, sehingga efektif sebagai anti-surface warfare (ASUW).

Apalagi jika helikopter ini didukung oleh rudal generasi baru seperti MBDA's Future Anti Ship Guided Weapon (FASGW), maka AS565MB dapat melakukan pencarian, memilah sasaran, serta membayangi atau menyerang sasaran dari balik lengkung bumi (OTHT) secara presisi, tanpa mampu dideteksi oleh kapal musuh. Kapal musuh akan terkendala oleh pola lengkung bumi (OTHT). Ketahanan terbang helikopter ini mencapai waktu 4 jam dengan kecepatan medium (14o km/jam) atau terbang dengan mode OTHT.

Anti Kapal Selam

Sonar yang dipasang di badan kapal laut memiliki kemampuan deteksi yang terbatas, akibat gangguan temperatur maupun tingkat keasinan permukaan air. Daya endusnya sekitar 18 km, untuk melacak kapal selam. Perbedaan permukaan air laut membuat posisi kapal berubah-ubah yang menghasilkan suara dan kecepatan kapal yang berubah-ubah, sehingga mempengaruhi daya endus sonar kapal.

Jangkauan yang terbatas ini bisa tangani lewat helikopter seperti AS565MB yang terbang jauh dan memiliki variable-depth and towed sonar arrays untuk menyelidiki setiap layer, sehingga daya deteksi bisa berkembang jauh mencapai 185 km dan mampu mendeteksi lokasi kapal selam musuh dengan presisi.

Helikopter ini tinggal menunggu agar kapal selam masuk jangkauan torpedo untuk melakukan penembakan "fire and forget". Tentu ada pula kapal selam yang memiliki rudal anti udara, namun umumnya masih jarak pendek.

Dengan peralatan anti kapal selam yang dibawa oleh helikopter, kapal teman dapat melakukan pelacakan dengan radius yang lebih jauh terhadap kapal selam musuh, dibandingkan mendeteksi tanpa menggunakan helikopter.

Mengisi KRI Diponegoro Class.

AS 565MBe mampu melakukan misi Anti Kapal Selam dan Anti Kapal Permukaan selama 4 jam ketika terbang dengan kecepatan 140km/jam. Helikopter ini memiliki kecepatan maksimum +300 km/jam dengan daya jelajah 792 km dengan tanki standar.

Helikopter ASW Panther AS565 MB, akan ditempatkan di KRI Korvet Diponegoro Sigma Class, untuk memperkuat mata dan telinga kapal tempur tersebut.



Sejumlah senjata akan melengkapi helikopter Panther TNI AL, antara lain Torpedo MU 90, Light Anti Ship Missile,maupun canon mounted 20 mm.

Jika TNI AL menggunakan Panther AS-565 MBe, maka Basarnas Indonesia juga menggunakan helikopter buatan Eurocopter ini, yakni versi Dauphin yang versi sipil.



Dari pembelian ini, Indonesia mendapatkan transfer of technology, yang akan diserap oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Selain TNI AL dan Basarnas, TNI AD juga membeli helikopter baru buatan Eurocopter yakni Fennec AS 550. Begitu pula dengan TNI AU yang membeli Eurocopter EC725 Cougar.

Semua angkatan membeli helikopter baru dari Eurocopter. Dengan demikian, perawatan helicopter tersebut semakin mudah dan bisa langsung ditangani di dalam negeri oleh PT DI yang memiliki kemampuan mumpuni, untuk urusan helikopter.

Kerjasama yang komprehensif antara TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Basarnas dengan Eurocopter, merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan Indonesia.

Helikopter-helikopter itu dikerjakan secara Co-Production dengan PT DI. Diharapkan kedepannya PT DI mampu mewujudkan helikopter buatan dalam negeri, antara lain melanjutkan proyek helikopter Gandiwa atau jenis lainnya.
(Sumber : Jalo dan Eurocopter | JKGR )

Kekuatan tank Indonesia kalah dari Singapura & Malaysia

Posted: 23 Jun 2014 09:37 AM PDT

Masalah pembelian tank kelas berat Leopard kembali disorot. Kali ini capres Joko Widodo mengkritik tank seberat 62 ton itu terlalu berat untuk jalan-jalan di Indonesia.

Di antara negara-negara Asia Tenggara, faktanya Indonesia tertinggal soal tank kelas berat. Singapura saja sudah memiliki tank kelas berat jenis Centurion sejak 1975. Singapura membeli 63 Centurion Mk3 and Mk7s buatan Inggris untuk memperkuat pertahanan korps lapis bajanya.


Kekuatan tank Indonesia kalah dari Singapura & Malaysia

Tank bermesin Rolls Royce dengan kekuatan 650 tenaga kuda ini berbobot 51 ton. Senjata andalannya kanon 105 mm dan senapan mesin browning.

Tahun 1993 kembali Singapura membeli beberapa buah tank Centurion dari Israel. Seluruh tank Centurion milik Singapura sudah diupgrade sesuai standar militer Israel.


Tahun 2010 Singapore mulai memensiunkan barisan tank Centurion miliknya. Mereka membeli 93 Tank Leopard 2A4S eks Jerman. Dibanding Centurion, Leopard lebih unggul. Tank ini memiliki berat 62 ton dengan kanon 120 mm, proteksinya pun lebih baik.

Kini Singapura diketahui memiliki 182 Tank Leopard. Cukup bergigi jika dibandingkan luas negaranya yang tak seberapa dibanding Indonesia.

Malaysia juga memiliki PT-91M Pendekar sementara Thailand memiliki T-84 Oplot dari Ukraina.

Sementara Indonesia baru membeli tank Leopard tahun 2013. Indonesia akan memiliki 114 Tank Leopard eks Jerman dan 50 tank marder untuk pengangkut pasukan. Namun baru dua unit yang dikirim. Sisanya akan diterima Indonesia secara bertahap.

Selama ini Indonesia mengandalkan kekuatan lapis bajanya pada Tank Scorpion (8,7 ton) dan tank AMX buatan Prancis (13,7 ton). (Merdeka)

Pembelian Tank Leopard babak baru hubungan militer RI-barat

Posted: 23 Jun 2014 09:17 AM PDT

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal (Purn) TNI Pramono Edhie Wibowo bersama rombongan High Level Committee (HLC) Kementerian Pertahanan yang dipimpin oleh Wamenhan, Letjen (Purn) TNI Sjafrie Sjamsoedin berkunjung ke Jerman. Rombongan akan mengikuti upacara pelepasan 52 Tank Leopard yang akan dikirimkan ke tanah air.

Pembelian Tank Leopard babak baru hubungan militer RI-barat

"Kerjasama militer dengan negara barat seperti Jerman menunjukan kepercayaan dunia yang makin tinggi terhadap Indonesia," ujar Pramono dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/6).

Menurut Pramono, peluncuran 52 tank Leopard paket pertama ini terkait kontrak pembelian 164 unit yang telah dilakukan November 2013 lalu. Pramono mengklaim dirinya yang menginisiasi modernisasi alutsista sewaktu masih menjabat Kasad.


Dia menegaskan pembelian sejumlah Tank Leopard dari Jerman ini adalah babak baru hubungan kerjasama militer Pemerintah Indonesia dengan negara barat, khususnya Jerman.

Pramono menambahkan, pembelian 164 unit Tank Leopard itu merupakan bagian penting dari penyegaran alutsista yang terahir dilakukan 30 tahun lalu. Penyegaran ini diperlukan Indonesia dalam menjamin kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Rencananya 52 Tank Leopard jenis MBT dan Marder ini akan tiba di Indonesia di kisaran bulan September 2014." ujar Danpusenkav Brigjen TNI Mulyanto. (Merdeka)

Danjen Akademi TNI : Perang Modern Butuh Kecanggihan Otak

Posted: 23 Jun 2014 07:38 AM PDT

KOMANDAN Jenderal (Danjen) Akademi TNI Marsda TNI Bambang Samoedro, S.Sos.,M.M memberikan pembekalan kepada 453 orang Calon Perwira Remaja (Capaja) lulusan Akmil, AAL dan AAU di Gedung Graha Sabang Merauke (GSM) Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Minggu (22/6/2014).

Danjen Akademi TNI - Perang Modern Butuh Kecanggihan Otak

Marsda TNI Bambang Samoedro mengatakan, perkembangan globalisasi dunia saat ini sangat dinamis, termasuk didalam  teknis strategi perang. Perang modern kedepan sarat dengan upaya adu domba dan provokasi.

"Paradigma perang modern  adalah  perang kecanggihan otak, kecanggihan sistim, kecanggihan peralatan tempur dan juga  kecanggihan logistik, bukan lagi hanya perang secara konvensional atau tradisional," ujar Danjen Akademi TNI.


Karena itu, katanya, para Capaja harus mempersiapkan diri secara maksimal  agar mampu memahami dan berperan serta mengantisipasi segala efek yang mungkin diakibatkannya.

Disadari atau tidak, bahwa  pengetahuan dan  kemampuan  yang  saudara peroleh selama mengikuti pendidikan  di Akademi TNI, tentunya masih sangat jauh dari cukup apalagi sempurna.

"Oleh karenanya, tidak ada kata cukup untuk ilmu pengetahuan dan wawasan, jangan pernah berhenti dalam menggali dan menimba ilmu," pungkasnya.

Gubernur Akademi TNI didampingi Gubernur AAL Laksda TNI Taufiqoerrochman, S.E., Gubernur AAU Marsda TNI Tabri Santoso, S.E. dan Wagub Akmil Brigjen TNI Sumedy, S.E.,M.M. (POL)

Unknown Tuesday, June 24, 2014