Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Anoa Buatan Pindad Dengan Kemampuan Amfibi

Posted: 20 Oct 2014 11:43 PM PDT

Memperoleh pesanan ratusan unit, tidak membuat PT.Pindad berhenti mengembangkan evolusi Ranpur Anoa. Setelah berhasil memadukan pelindung keramik tambahan, kini Pindad beranjak ke evolusi selanjutnya. Yaitu menjadikan Anoa spesies Amfibi. Dan inilah dia prototipe pertama Anoa Amfibi.

Anoa Buatan Pindad Dengan Kemampuan Amfibi

Prototipe pertama yang belum memiliki nama resmi ini, secara terbatas telah dipamerkan di sebuah acara di Sespim Polri Bandung beberapa waktu lalu. ARC pun berupaya mencari lebih tahu spesifikasi teknis ke kru Pindad. Menurut informasi terbatas yang diperoleh, Pindad melakukan upaya Re-enginering untuk membuat Anoa amfibi ini. Selain tentunya memasang perangkat yang dibutuhkan seperti Propeler di bagian belakang serta penahan ombak di bagian depan. Dari foto yang terlihat, Propeler yang terpasang memang cukup besar, namun bisa dilipat.








ARC juga diberi kesempatan melihat video uji coba yang dilakukan di Danau di Jatiluhur, Jawa Barat. Tampak sang Anoa melaju dari daratan menuju danau lalu mengapung. Sejurus kemudian Anoa itu melaju dan membuat beberapa manuver di air. Menurut Pindad, kecepatan mengarungs saat uji coba mencapai 4,5 knot. Namun sayangnya, video itu belum bisa dipublikasikan. (ARC)

Bangkai Kapal AS "Hantu Pesisir Jawa" Ditemukan di Selat Sunda

Posted: 20 Oct 2014 11:46 PM PDT

 Bangkai Kapal UUS Houston milik Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat yang ditenggelamkan Jepang saat Perang Dunia II ditemukan di dasar Laut Jawa. Kapal Houston, berjuluk "Hantu Pesisir Jawa" tenggelam dalam Pertempuran Selat Sunda pada 28 Februari 1942.

Pernyataan yang dikeluarkan AL AS menyebutkan, reruntuhan kapal itu tenggelam bersama sekitar 700 pelaut dan marinir awaknya.





Sejak 11 Juni lalu para perwira AS meletakkan karangan bunga di lokasi untuk mengenang tenggelamnya kapal itu, namun baru hari Senin (20/10/2014) kermarin Komando Sejarah dan Warisan Angkatan Laut AS mengukuhkan bahwa reruntuhan itu cocok dengan kapal perang USS Houston.

Para penyelam Amerika dan Indonesia menemukan bahwa puing-puing lambung kapal dan senjata yang tak meledak telah tak ada.


Kawasan itu merupakan lokasi menyelam yang populer, dan petugas berwenang sedang mengkoordinasikan pelestariannya.

"Dalam diskusi dengan mitra kami di Angkatan Laut Indonesia, mereka memahami kewajiban kami untuk melindungi lokasi ini dan yang sejenisnya," kata Laksamana Harry Harris, panglima Armada Pasifik AS.

Bangkai Kapal AS "Hantu Pesisir Jawa" Ditemukan di Selat Sunda

Sejarah Pertempuran Selat Sunda


Perwira komandannya, Kapten Albert Rooks, secara anumerta mendapat Medali Kehormatan, yang merupakan bintang kehormatan tertinggi dalam kemiliteran AS, untuk kepahlawanan yang luar biasa dalam pertempuran itu. Mulanya seluruh 1.068 pelaut dan marinir kapal itu dinyatakan tewas.

Namun tatkala perang berakhir pada tahun 1945, diketahui bahwa ternyata ada 291 orang yang selamat dan ditahan di kamp tawanan perang Jepang selama tiga tahun, dan lalu dikirim pulang ke Amerika.
(GFI)

TNI AL Pernah Ditakuti Belanda

Posted: 20 Oct 2014 11:09 PM PDT

Laksamana (Purn) Tedjo Eddy bercerita banyak bagaimana sulitnya menjaga wilayah Indonesia yang cukup luas baik daratan maupun lautan.
Salah satu ingatannya adalah bagaimana Belanda di zaman penjajahan takut dengan kekuatan TNI Angkatan Laut (AL) dekade 1960-an.


TNI AL Pernah Ditakuti Belanda
Laksamana (Purn) Tedjo Eddy

"Tahun 1960, kita ini punya kekuatan TNI AL, dan saat itu bersanding dengan Angkatan Udara terkuat di ASEAN," kata Eddy di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (16/10/2014).

Karena kuatnya, TNI AL dan AU Indonesia, Belanda saat itu meminta rekomendasi dari Amerika Serikat bagaimana caranya mendapatkan wilayah Papua. Namun AS saat itu merekomendasikan Belanda lebih baik menyerah dan menyerahkan Papua ke Indonesia daripada kalah di medan perang.


"Kita konfrontasi dengan Belanda lalu Belanda minta masukan AS dan AS bilang hati-hati. Lalu setelah itu tercapai kesepakatan Papua masuk ke Indonesia," kata pria yang disebut-sebut jadi calon Menko Maritim pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) ini.

Berbeda dengan kondisi sekarang, wilayah kelautan RI kerap dimasuki perahu-perahu asing yang masuk dan mencuri ikan di laut Indonesia secara ilegal.

Seiring makin majunya teknologi peralatan kapal, Eddy menyarankan pemerintah mendatang tak tanggung-tanggung mengawasi seluruh wilayah laut Indonesia. Konsekuensinya, membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai seluruh kegiatan operasional pengawasan kelautan.

"Pemerintah dan DPR harus menganggarkan dana yang cukup besar untuk mengawasi wilayah laut Indonesia yang cukup luas," tambah Ketua Umum DPP Ormas Nasional Demokrat ini.

Eddy beralasan tingginya biaya operasional pengawasan laut Indonesia karena berkaitan dengan pembelian infrastruktur penunjang seperti kapal patroli dan kapal perang. Belum lagi dana operasional untuk menambah petugas keamanan laut yang saat ini jumlahnya kurang ideal.

"Membangun kapal patroli butuh berapa, lalu untuk infrastruktur coast guard berapa, belum lagi sumber daya manusianya berapa, nanti kita hitung berapa kebutuhannya," jelasnya.
(Detik)

Tumpang tindih wilayah Natuna

Posted: 20 Oct 2014 11:03 PM PDT

Presiden Indonesia yang baru Joko Widodo akan dilantik di Jakarta hari ini dengan kemegahan dan iringan arak-arakan. Di Antara tamu yang akan hadir adalah Menteri Luar Negeri AS John Kerry.


Secara historis AS dan Indonesia mempunyai ikatan yang kuat, tapi dalam beberapa tahun terakhir AS tertarik untuk memposisikan Indonesia sebagai kekuatan baru di Asia Tenggara guna menghadapi China - terutama dalam konteks potensi bentrokan di Laut Cina Selatan.


Indonesia tidak mengklaim wilayah mana pun di perairan yang disengketakan tersebut, namun zona ekonomi eksklusif Indonesia yang berada di lepas pantai Kepulauan Natuna, tumpang tindih dengan klaim Cina.

Dari Kepulauan Natuna Editor BBC Karishma Vaswani melaporkan. (BBC)

Laboratorium Induk Senjata (Labinsen) lakukan uji penembakan Rudal AL-1M (Strella)

Posted: 20 Oct 2014 11:00 PM PDT

Bertempat di Puslatpur Marinir Karang Tekok Situbondo, tanggal 15-17 Oktober 2014, Laboratorium Induk Senjata (Labinsen) mengadakan uji penembakan Rudal AL-1M (Strella) dalam rangka uji litbang Modifikasi Rudal AL-1M. Uji litbang ini merupakan realisasi dari program kerja Labinsen tahun 2014 yang merupakan karya nyata dari Tim Litbang dari Labinsen. Sedangkan tujuannya untuk mengetahui sampai sejauh mana sistem penembakan lama dengan hasil modifikasi yang telah dihasilkan.

Laboratorium Induk Senjata (Labinsen) lakukan uji penembakan Rudal AL-1M (Strella)

Modifikasi yang dilakukan oleh Labinsen meliputi Inovasi pembuatan mounting yang tadinya harus ditembakan dengan cara dipanggul oleh penembak (man pad), sekarang dimodifikasi menggunakan mounting dengan 2 (dua) launcher. Mounting ini dapat bekerja sesuai dengan baringan dan elevasi yang diinginkan oleh penembak. Sedangkan cara penembakannya dilakukan dengan System Penembakan Remote Firing.


Pada Rudal itu sendiri telah dimodifikasi dengan menambahkan Proximity Fuse sehingga pada jarak tertentu, Rudal dapat meledak sendiri tanpa harus mengenai sasaran. Kelebihan system ini adalah untuk penghancuran sasaran udara yang sangat sulit apabila harus tepat mengenai sasaran (impact).

Setelah melalui uji laboratorium yang cukup panjang, akhirnya uji penembakan bisa dilaksanakan dengan baik dan lancar sesuai dengan yang diharapkan dalam pengujian. Penembakan dilakukan terhadap beberapa rudal AL1-M yg belum di modifikasi dan yang sudah dimodifikasi, kemudian dilakukan analisa terhadap hasil penembakan.

Uji litbang tersebut dipimpin langsung oleh Kalabinsen Kolonel Laut (E) Endarto Pantja I., S.T., M.T., turut hadir Kepala Arsenal Kolonel Laut (E) Kawahab, S.T. dan Komandan Puslatpur Letkol Marinir Hadi Santoso. (TNI AL)

PT PAL Berupaya Merampungkan Dua Kapal Perang

Posted: 20 Oct 2014 10:47 PM PDT

PT PAL Indonesia terus mengejar target bisnis di sisa 2014 ini. Pebisnis industri galangan kapal ini rupanya tengah berupaya merampungkan dua pesanan kapal dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (RI).

PT PAL Berupaya Merampungkan Dua Kapal Perang

Jenisnya adalah kapal perang. "Kami sedang fokus menyiapkan kapal selam dan menyelesaikan kapal perusak kawal rudal (PKR)," kata Firmansyah Arifin, Direktur Utama PT PAL beberapa waktu lalu kepada KONTAN.

Langkah ini sejalan dengan adanya suntikan dana segar dari pemerintah. Asal tahu saja, PT PAL belum lama ini mendapat penyertaan modal negara (PNM) senilai Rp 1,5 triliun. Limpahan dana yang sudah mendapat lampu hijau dari wakil rakyat ini sudah dialokasikan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014.


Rencananya PT PAL akan menggunakan dana tersebut untuk mengerjakan infrastruktur kapal selam mulai tahun depan. Selang satu tahun berikutnya, masuk ke tahap pembuatan.

Sedangkan untuk menyelesaikan pekerjaan kapal perusak kawal rudal (PKR), PT PAL tengah menanti sekitar 70 karyawan PT PAL yang tengah menimba ilmu pembuatan kapal ini di Belanda.
Rencananya, PT PAL akan membut kapal perusak pesanan TNI AL tahun depan. Bila tidak ada halangan, pengerjaan kapal perang ini akan butuh waktu selama 48 bulan atau bisa selesai pada akhir Desember 2016 nanti.

Selain menyelesaikan pesanan kapal perang di tanah air, PT PAL rupanya sudah mulai menebarkan jangkar ke luar negeri. Salah satu produk andalan PT PAL  yakni kapal perang bersenjata atau kombatan, mulai dilirik negara tetangga. "Filipina sudah mulai pesan ke kami, artinya kami sudah mulai mengekspor kapal," imbuhnya tanpa merinci jumlah kapal pesanan berikut nilai pesanan dari Filipina.

PT PAL Indonesia menargetkan bisa mengantongi pendapatan dari industri galangan kapal sebesar Rp 1,7 triliun. Sedangkan untuk laba bersih, perusahaan ini membidik target Rp 300 miliar. Manajemen PAL pun optimistis target tersebut bisa tercapai. (Tribun)

Kodim Ngawi amankan senpi terduga teroris Suyitno

Posted: 20 Oct 2014 10:21 PM PDT

Komando Distrik Militer 0805 Ngawi, Jawa Timur, mengamankan sebuah senjata api milik terduga teroris Suyitno alias Guntur Pamungkas yang ditangkap Densus 88 Antiteror Polri pada Agustus 2014 lalu.

Kodim Ngawi amankan senpi terduga teroris Suyitno

"Senjata tersebut adalah air soft gun laras panjang jenis senapan serbu (SS) 1 dengan nomor seri Howa SS 2700 psi cal 177," ujar Komandan Kodim 0805 Ngawi Letkol Inf Sugiyono, kepada wartawan, di Ngawi, Senin.

Menurut dia, pengamanan senpi tersebut terjadi setelah pihaknya mendapat laporan tentang kepemilikan senpi dari Suyati (43) warga Desa Gendingan Kidul, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, yang merupakan tetangga Guntur.


Dalam laporan tersebut, Suyati mengatakan sekitar Juli 2014, ia menerima titipan dari Suyitno alias Guntur Pamungkas berupa barang yang dibungkus karung plastik.

Suyati menduga bungkusan titipan Guntur itu berisi senjata, karena sangat berat.

Apalagi setelah itu, Guntur akhirya ditangkap karena dugaan keterlibatan teroris pada Agustus lalu.

Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Suyati akhirnya memberikan bungkusan titipan Guntur ke istrinya, Sutiyah alias Sutiyem.

Tidak hanya itu, Suyati juga melapor ke Koramil Widodaren tentang kepemilikan senjata api tersebut.

Mendapati laporan tersebut, Kodim 0805 Ngawi langsung melakukan penyelidikan dan pemantauan.

Setelah melakukan pendekatan ke istri terduga teroris, senjata api tersebut akhirnya diserahkan ke pihak berwajib untuk diamankan.

Setelah dibuka, ternyata benar isi dari bungkusan titipan itu adalah senjata api yang telah dimodifikasi.

Barang atau senjata api itu akhirnya oleh tim Komando Distrik Militer 0805 dibawa ke markas komando untuk penanganan lebih lanjut.

Seperti diketahui, tim Densus 88 Antiteror, pada Agustus lalu berhasil menangkap dua orang warga Kabupaten Ngawi karena diduga terlibat dalam jaringan teroris.

Keduanya adalah, Suyitno alias Guntur Pamungkas dan Kardi warga Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Ngawi. Keduanya diduga merupakan anggota jaringan Teroris Santoso CS yang beroperasi di Poso, Sulawesi Tengah.  (Antara)

PM Australia undang Jokowi hadiri pertemuan G20

Posted: 20 Oct 2014 06:53 AM PDT

Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengundang Presiden Joko Widodo untuk menghadiri pertemuan G-20 yang diselenggarakan di Brisbane, Australia, November 2014.

"Yang utama itu, mengundang untuk hadir di G20," kata Presiden Jokowi kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin malam seusai mengantarkan PM Abbot.


PM Australia undang Jokowi hadiri pertemuan G20
Perdana Menteri Australia Tony Abbott menghadiri upacara pembukaan Presiden Indonesia yang baru Joko Widodo di Gedung Nusantara Kompleks Parlemen Senayan

Presiden menerima kunjungan kehormatan PM Abbott pada Senin malam sekitar pukul 19.00 WIB. Keduanya melakukan pembicaraan sekitar 30 menit.

Dalam pertemuan tersebut, PM Australia juga menyinggung sejumlah isu ekonomi. Diantaranya terkait subsidi BBM, listrik, investasi, reformasi birokrasi termasuk aturan-aturan yang menyulitkan dalam investasi dan infrastruktur.


"Karena keluhannya memang itu," katanya.

Ini merupakan pertemuan pertama Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Abbott yang juga turut hadir dalam pelantikan Jokowi-JK pada Senin pagi.

Baik Presiden Jokowi maupun PM Abbott juga membicarakan makin banyaknya pelajar Indonesia yang kini berada di Australia.

Jokowi dalam kesempatan itu mengatakan, tidak bisa berbicara banyak mengingat saat ini dirinya belum memiliki kabinet.

"Kita belum punya kabinet, jadi saya belum siap bicara," katanya.

Saat ditanya wartawan kapan akan mengumumkan kabinetnya, Presiden Jokowi masih merahasiakan. "Secepatnya," kata Presiden. (Antaranews)

Aneka Produk Alutsista Bikinan Pindad di Era SBY

Posted: 20 Oct 2014 06:36 AM PDT

PT Pindad (Persero) merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis yang memproduksi berbagai varian senjata hingga amunisi.

Senjata varian terbaru Pindad kini dipakai oleh pasukan elite TNI. Senapan unggulan tersebut seperti SS-2 hingga senjata untuk penembak jitu (sniper) tipe SPR-2 dan SPR-3.


Aneka Produk Alutsista Bikinan Pindad di Era SBY

Per tahun, Pindad mampu memproduksi sekitar 40.000 senjata berbagai tipe. Produk senjata hingga amunisi yang dibuat di Bandung dan Malang ini ternyata juga telah dieskpor ke beberapa negara.

Tidak hanya menjual senapan dan amunisi, Pindad berhasil menghasilkan produk kendaraan tempur seperti Panser ANOA hingga si Humvee "KOMODO". Varian panser ANOA merupakan produk laris Pindad dan telah diproduksi mencapai ratusan unit.


Panser ANOA juga dipakai oleh TNI untuk misi perdamaian di Libanon. Untuk varian Humvee made in Indonesia, kesatuan Brimob dan Kopassus menjadi konsumen pertamanya. Nama KOMODO berasal dari pemberian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Perkembangan terbaru, Pindad berhasil mengembangkan purwarupa (Prototye) tank bernama SBS. Tank ini mengadopsi desain dari Panser ANOA yang telah lebih dahulu diproduksi. Pindad juga bekerjasama dengan Turki mengembangkan medium tank. Selain itu, perseroan memperoleh order Kemenhan untuk merombak total dan meningkatkan teknologi tank lawas, AMX13. (Detik)

"Pak Jokowi, Kalau Bisa Mampir ke PTDI"

Posted: 20 Oct 2014 06:33 AM PDT

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat terbang, PT Dirgantara Indonesia (Persero) memiliki harapan besar kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

PTDI yang punya program pengembangan pesawat komersial dan militer ini berharap presiden baru RI tersebut bisa mampir untuk menengok fasilitas pengembangan dan pembuatan pesawat di Bandung, Jawa Barat.


Pak Jokowi, Kalau Bisa Mampir ke PTDI

"Belum pernah ketemu Pak Jokowi. Pak Jokowi kalau bisa mampir melihat PTDI," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisjahbana di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (20/10/2014).

Proyek terdekat yang dikembangkan PTDI adalah pesawat penumpang berbadan kecil, N219. Pesawat ini rencananya diluncurkan ke publik (roll out) mulai tahun depan.


"Kita akan aplikasi sertifikasi. Dilakukan di Kemenhub mulai awal tahun hingga tahun 2017. Sertifikasi perlu 3 tahun setelah itu langsung produksi," jelasnya.

Proses penjualan pesawat tentunya membutuhkan dukungan pemerintah seperti skema pembiayaan dari perbankan lokal layaknya diterima oleh produsen pesawat dunia.

"Kita belum mampu beri financing tapi kalau Lion beli pesawat dari Boeing, dia ada financing dari pemerintah AS," paparnya.

Andi mengaku pesawat N219 saat ini telah dilirik oleh beberapa maskapai dan pemerintah daerah. PTDI mengantongi niat pembelian (letter of intent) sebanyak 150 unit.

Burung besi N219 dipatok US$ 4 juta sampai US$ 5 juta per unit. Saat ini komponen lokal baru sekitar 40%.

"Yang letter of intent ada 150. Kemarin dapat order dari Pemda, Lion Group dan PT NBA (Nusantara Buana Air)," jelasnya. (Detik)

Presiden Joko Widodo Serukan Jalesveva Jayamahe Untuk Maritim Indonesia

Posted: 20 Oct 2014 06:25 AM PDT

"Kita telah terlalu lama memunggungi samudera, memunggungi laut, memunggungi teluk, memunggungi selat. Kita kembalikan kejayaan kita sebagai negara maritim. Jalesveva Jayamahe, di lautlah kita jaya," kata Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo Serukan Jalesveva Jayamahe Untuk Maritim Indonesia
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan pidato usai pelantikannya bersama Wapres Jusuf Kalla di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (20/10). Joko Widodo - Jusuf Kalla resmi menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia masa bakti 2014 - 2019. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Itulah salah satu penggalan pidato perdana Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sidang Paripurna MPR, Jakarta, Senin.

"Kita kembangkan jiwa pelaut kita, pelaut pemberani yang berani mengarungi laut dan samudera. Kita kembangkan layar. Saya berdiri di bawah kehendak rakyat dan konstitusi," kata Presiden RI ketujuh itu.


Dalam pidato dengan teks yang disiapkan sekira tujuh menit itu, Joko Widodo yakin Indonesia dapat menjadi bangsa besar kreatif yang bisa menyumbang keluhuran kepada dunia.

"Yakin kita semakin kuat dan berwibawa. Saya akan memastikan setiap rakyat di pelosok merasakan pembangunan. Semua instansi agar melakanakan tugasnya," kata Presiden.

Jokowi juga mengutip sesanti Proklamator bangsa, Soekarno, yang menjunjung tiga sila penting Trisakti, yakni  "berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam budaya." (AntaraNews)

Presiden Rusia Ingin Bertemu Jokowi

Posted: 20 Oct 2014 06:15 AM PDT

Salah satu utusan negara sahabat yang menghadiri pelantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla datang dari Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin secara khusus mengirimkan Menteri Perdagangannya Denis Manturov untuk menghadiri pelantikan Jokowi-JK di gedung MPR/DPR, Senin (20/10/2014) hari ini.


Kepada wartawan Manturov mengaku sungguh mendapat penghormatan yang luar biasa bisa menghadiri pelantikan Jokowi-JK. Sebagai utusan resmi, Manturov mengaku membawa pesan dari Presiden Rusia untuk Presiden Jokowi. Melalui Manturov, Putin berjanji akan segera berkunjung ke Indonesia menemui Presiden Jokowi.


"Dalam waktu dekat presiden Rusia akan bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo," kata Manturov kepada wartawan usai pelantikan Jokowi-JK di gedung MPR/DPR. Manturov berharap dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan antara Presiden Indonesia Joko Widodo dengan Presiden Rusia vladimir Putin.

Dia yakin dalam pertemuan kedua pemimpin negara itu akan ada kesempatan untuk membahas berbagai isu kerjasama bilateral di berbagai bidang. Seperti perdagangan maupun politik.

"Kita punya semua peluang untuk meningkatkan volume perdagangan, kami juga berminat meningkatkan kerja sama seperti metalurgi. Kami melihat ada potensi kerja sama peningkatan teknologi di bidang metalurgi," kata Manturov.  (Detik)

Unknown Tuesday, October 21, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Terima Kasih SBY

Posted: 19 Oct 2014 06:35 AM PDT

Terima Kasih SBY

Jokowi Ingatkan Australia agar Tak Langgar Perbatasan Maritim NKRI

Posted: 19 Oct 2014 07:06 AM PDT

Angkatan Laut (AL) Australia pernah menerobos perbatasan Indonesia tanpa izin untuk menghalau para pencari suaka pada awal tahun 2014 ini. Hal yang sama pernah dilakukan Australia tanpa terdeteksi, saat masa perjuangan kemerdekaan Timor Timur pada 1999 lalu. Apa reaksi presiden terpilih Jokowi?


"Kami akan memberikan peringatan bahwa ini tidak bisa diterima," tegas Jokowi dalam wawancara eksklusif dengan kelompok Fairfax Media menjawab pertanyaan terkait AL Australia yang pernah menerobos perbatasan dengan RI. Wawancara dilansir Sydney Morning Herald (SMH) edisi 18 Oktober 2014 yang ditulis detikcom, Minggu (19/10/2014).

"Kami memiliki hukum internasional, Anda harus menghormati hukum internasional," imbuh Jokowi.

Jokowi, dalam wawancaranya memaparkan rencana untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Australia, termasuk di bidang militer dan intelijen. Namun saat ditanya soal kedaulatan negara, Jokowi mengatakan dia bisa 'lebih kuat' bahkan dibanding dengan bekas rivalnya saat Pilpres lalu, Prabowo Subianto, yang seorang jenderal.


Hubungan Indonesia-Australia yang sempat rusak karena penyadapan pada telepon Ibu Negara dan soal pelanggaran batas wilayah kedaulatan, Jokowi mengatakan akan membangunnya kembali. Untuk pertama kalinya Jokowi mengatakan ia akan mendorong jalan baru kerjasama keamanan yang menguntungkan kedua negara, termasuk memerangi terorisme.

"Tidak hanya ke Australia, tetapi juga Indonesia," tuturnya.

Jokowi juga mengajak Australia untuk menengahi masalah multilateral yang terjadi di Laut China Selatan. "Dua pertiga wilayah Indonesia itu lautan, perairan. Di Laut China Selatan, saya pikir Indonesia bisa berperan sebagai perantara yang jujur," jelasnya.

Di bidang pendidikan, Jokowi mendorong generasi muda di Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi di Australia, di mana salah satu putranya telah menyelesaikan pendidikannya di sana. Dan dia berharap Australia juga bisa mengirimkan generasi mudanya untuk belajar di Indonesia, dalam Colombo Plan di bawah Menlu Julie Bishop.

"Hubungan business-to-business dan people-to-people adalah penting. Kami akan mengirimkan pelajar kami dari sini ke Australia," tuturnya.

Jokowi juga mendorong warga Australia mengeksplorasi daerah wisata selain Bali, di negara paling besar dengan keragaman terbanyak di muka bumi ini. (Detik)

Kolonel Hersan, Eks Komandan KRI Diponegoro Jadi Ajudan Jokowi

Posted: 19 Oct 2014 06:53 AM PDT

Jokowi telah resmi memilih tiga ajudan dari kalangan TNI AD, AU, dan AL. Kolonel Laut Hersan terpilih menjadi ajudan presiden ketujuh itu yang berasal dari kalangan AL.

"Dari AL yang terpilih adalah Kolonel Laut (P) Hersan, SH," kata Kadispen TNI AU Laksamana Pertama Manahan Simorangkir saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (19/10/2014).


Kolonel Hersan, Eks Komandan KRI Diponegoro Jadi Ajudan Jokowi

Kolonel Hersan merupakan alumni Akademi Angkatan Laut tahun 1994. Dalam perjalanan kariernya, Hersan pernah menjadi Komandan KRI Diponegoro.

"Lahir tanggal lahir 7 Juli 1970, dua jabatan terakhir adalah Komandan KRI SRI-352 dan Satkor Koarmatim," jelas Manahan.


Hersan pagi tadi sudah mengikuti proses gladi resik pelantikan Jokowi sebagai presiden. Mulai besok, Hersan bersama tiga ajudan lain akan selalu berada di dekat Jokowi.

Dari kalangan TNI, Jokowi sudah memilih tiga ajudan. Ketiga ajudan itu yakni, Letkol Inf Widi Prasetejiono dari TNI AD yang pernah menjabat debagai Danrem Surakarta. Dari TNI AU, Jokowi memilih Kolonel Toni Haryono yang pernah menerbangkan pesawat tempur Sukhoi.

Sementara itu, hingga sore ini, mantan Gubernur DKI itu belum menentukan ajudan dari kalangan Polri. (Detik)

Unknown Monday, October 20, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


SBY Resmikan Markas F-16 Terbaru dan Yonif 10 Marinir

Posted: 19 Oct 2014 12:33 AM PDT

Penguatan pertahanan di wilayah perbatasan kembali ditingkatkan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan pembentukan dua markas tempur terbaru, yakni Batalion Infanteri (Yonif) 10 Marinir/Satia Bhumi Yudha di Pulau Setokok, Batam, Kepulauan Riau dan Skuadron Udara 16/ Vijayakantaka Abhyasti Virayate di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekan Baru, Riau.


Peresmian Batalion Infanteri dan Skuadron Udara tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti di Akademi Militer, Magelang, Jumat (17/10/2014). Pembentukan dua kekuatan baru ini sebagai respon atas perkembangan lingkungan strategis yang dinamis dan multidimensional, khususnya dalam mengamankan wilayah perbatasan.

Presiden mengaku menyambut baik hadirnya kekuatan baru TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara tersebut. Menurut dia, di era modern, kekuatan angkatan udara harus semakin tanggung dan modern untuk bisa menjaga wilayah udara nasional.


Sedangkan, keberadaan Batalion Infanteri Marinir ini akan memperkuat pengamanan wilayah perbatasan, terutama di Kepulauan Riau. Skuadron Udara 16 di Pekanbaru, saat ini juga sudah siap untuk menjadi markas pesawat tempur F-16 C/D 52ID asal Amerika Serikat.

Beberapa persiapan terus dilakukan sehingga skuadron ini sempurna sebagai home base pesawat tersebut. Adapun untuk pesawatnya sendiri, sekarang ini sudah ada lima unit dari 24 unit yang dipesan.

Sementara itu, menurut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio, Batalion Infanteri 10 Marinir ini dibangun TNI AL sebagai salah satu upaya meningkatkan keamanan d kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan dengan negara-negara kawasan ASEAN.

Pembangunan ini merupakan program prioritas TNI AL sebagai tindak lanjut atas perintah Presiden SBY untuk membangun dan membentuk Satuan Marinir baru di Kepulauan Riau.

Peletakan batu pertama pembangunan markas batalion tersebut telah dilakukan 5 Juni 2013 silam. Batalion Infanteri 10 Marinir yang menempati lokasi seluas 37 hektare ini merupakan salah satu lokasi strategis untuk pertahanan keamanan di wilayah perbatasan.

"Karakteristik wilayah Kepulauan Riau pada umumnya terdiri dari banyak pulau dan berbatasan dengan beberapa negara tetangga, sehingga sangat strategis untuk dibangun satuan markas pengamanan untuk pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya dalam siaran pers kepada Sindonews, Jumat (17/10/2014).

Fasilitas yang dibangun pada markas meliputi pembangunan gedung batalyon, gedung kompi markas, gedung kompi senapan, gudang senjata, rumah dinas, mess perwira, garasi angkutan, dermaga, lapangan tembak, dan helipad. Batalion Infanteri 10 Marinir di Pulau Setokok ini diperkuat dengan satuan-satuan kecil dengan keahlian khusus atau pasukan khusus. (SindoNews)

Ribuan Polisi dan Tentara Mulai Berjaga di Kompleks Parlemen

Posted: 18 Oct 2014 11:34 PM PDT

Ribuan personel pengamanan pelantikan Jokowi-JK mulai dikerahkan ke Gedung MPR/DPR/DPD, Minggu (19/10/2014). Setidaknya, 9.000 personel gabungan dari TNI dan Polri sudah mulai menempatkan diri di kompleks ini.


Para petugas tersebut berasal dari kesatuan Brimob, Sabhara dari Pasukan Anti Huru-Hara (PHH), Pengendalian Massa (Dalmas), dan pasukan satwa seperti K9 dan pasukan berkuda.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, pada Minggu pagi dilakukan Geladi Lapang 2, atau Geladi Pengerahan Pasukan. Kapolda Metro Jaya Irjen Unggung Cahyono mengecek langsung pelaksanaan geladi.


"Kapolda hari ini mengecek anggota yang sudah di-ploting di titiknya masing-masing," ujar Rikwanto, Minggu.

Titik-titik pengamanan di Kompleks Parlemen untuk hajatan nasional ini adalah pintu masuk depan dan belakang, area masuk gedung, dan sebagian di ruangan pelantikan.

Mulai H-1 pelantikan presiden dan wakil presiden, semua anggota bersiaga dan dilarang meninggalkan titik penjagaan. Lalu, tujuh jam sebelum pelantikan, Kompleks Parlemen harus dipastikan steril. (Kompas)

TNI AL: Menara Suar di Tanjung Datuk Telah Dibongkar

Posted: 18 Oct 2014 10:47 PM PDT

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Manahan Simorangkir, mengatakan menara suar yang sempat dibangun oleh Malaysia di Tanjung Datuk, Kalimantan Barat, sudah dibongkar mulai hari ini.

Menurut laporan yang diterima oleh Manahan, Malaysia sendiri yang membongkar bangunan setinggi 13 meter tersebut. 


TNI AL: Menara Suar di Tanjung Datuk Telah Dibongkar
Tiang pancang mercusuar dicat merah putih di perairan Tanjung Datuk, Kalimantan Barat
Demikian ungkap Manahan yang dihubungi VIVAnews melalui telepon pada Jumat 17 Oktober 2014. Atas tindakan Negeri Jiran itu, Pemerintah Indonesia menyatakan apreasiasi yang tinggi.

"Karena itu berarti, mereka memegang komitmen dan niat baik untuk tetap menjalin hubungan baik dan menjaga keamanan regional. Kami berikan apreasiasi yang tinggi kepada Malaysia," kata Manahan.


Sementara itu, terkait wilayah lautnya, tambah Manahan, masih tetap menjadi status quo. Artinya, tidak boleh ada kegiatan apa pun di sana yang dapat memprovokasi. "Masing-masing pihak, tetap saling menjaga stabilitas wilayah," ujar dia. 

Sementara itu, Duta Besar Kerajaan Malaysia untuk Indonesia, Zahrain Mohamed Hashim, hanya menyebut bahwa kasus sengketa di Tanjung Datuk telah selesai.

"Kasus pembangunan menara mercusuar di Tanjung Datuk sudah selesai. Penyelesaiannya sudah ada dan diterima kedua pihak," kata Zahrain yang ditemui VIVAnews dalam pertemuan media terbatas di Gedung Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta Selatan.

Namun, dia tidak menjelaskan lebih lanjut, penyelesaian macam apa yang diterima oleh kedua pihak. Zahrain menjelaskan, selain Tanjung Datuk, masih terdapat tiga area lainnya yang disengketakan. Ketiga area tersebut yakni, wilayah di Sulawesi yang disebut Indonesia sebagai Ambalat, area di Selat Malaka, dan sebelah timur Singapura.

Isu sengketa di Tanjung Datuk ini dimulai dari keresahan warga di sana yang melihat adanya aktivitas pembangunan mercusuar oleh Malaysia. Kepala Dusun Mauluddin, Desa Temajuk, Zamri, mengaku melihat sendiri aktivitas pemasangan tiang pancang mercusuar oleh Malaysia. Namun, dia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena takut.

TNI AL akhirnya turun tangan berpatroli, karena bangunan mercusuar itu berdiri di perairan Indonesia. (VivaNews)

Unknown Sunday, October 19, 2014
Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia

Strategi Militer - Informasi Pertahanan dan Keamanan Indonesia


Pelantikan Jokowi, 23 Personel Khusus Jaga Perbatasan Jakarta

Posted: 16 Oct 2014 08:12 PM PDT

Jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo-Jusuf Kalla, aparat gabungan TNI Polri mulai bersiap melakukan serangkain prosedur pengamanan.

Tak hanya di ibu kota, di Depok Jawa Barat pun berbagai persiapan terkait pengamanan juga mulai dilakukan kepolisian setempat. Ini mengingat Depok adalah salah satu kota yang strategis lantaran bersinggungan langsung dengan Jakarta.


Pelantikan Jokowi, 23 Personel Khusus Jaga Perbatasan Jakarta

Dengan keterampilan dan keahlian khusus, Polresta Depok menyiapkan 23 personelnya yang disiagakan di sejumlah wilayah pinggiran atau perbatasan Depok-Jakarta hingga Bekasi dan Bogor.

Tim khusus ini, tak hanya piawai dalam menggunakan senjata namun juga memiliki kemampuan untuk melakukan pertarungan jarak dekat.


"Timsus yang kita bentuk dibekali keahlian khusus dalam menghadapi pelaku kejahatan jika terjadi perlawanan. Selain itu dipersenjatai dengan jenis  senjata laras panjang SS1, flash bool pemecah massa dan kemampuan untuk bertarung jarak dekat," kata Kabag Ops Polresta Depok, Kompol Tri Yulianto pada VIVAnews, Jumat 17 Oktober 2014.

23 Personel timsus yang terdiri dari anggota Serse, Intel dan Sabara itu dipimpin oleh Wakasat Sabara Polresta Depok, AKP Ahmad Yani. Dengan Komandan Tim (Dantim), IPDA Agus Winam, 23 pasukan elite Polresta Depok ini diharapkan juga mampu menekan aksi kejahatan lainnya seperti pencurian dengan kekerasan.

Dengan dilengkapi seragam khusus, mengenakan helm taktis, rompi peluru dan body protek vass siku, mereka juga akan melakukan patroli ke sejumlah titik rawan.

"Supaya tidak terjadi yang tidak diinginkan terhadap anggota di lapangan, sudah kami persiapkan keamanan lengkap mulai dari senjata dan pengamanan diri. Tujuan pembentukan timsus juga untuk meningkatkan pelayanan masyarakat dalam mengurangi aksi kriminalitas," jelas Tri.

"Kasus masih kami dalami. Sejumlah saksi sudah kami mintai keterangan," kata Johan. (VivaNews)

Panglima TNI Lepas Pasukan Perdamaian ke Lebanon

Posted: 16 Oct 2014 07:45 PM PDT

Panglima TNI Jenderal Moeldoko melepas keberangkatan Satgas Maritime Task Force Kontingen Garuda XXVIII-G/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Panglima TNI Lepas Pasukan Perdamaian ke Lebanon
Panglima TNI Jenderal Moeldoko melepas keberangkatan Satgas Maritime Task Force Kontingen Garuda XXVIII-G/UNIFIL.(Ilustrasi/SINDOnews).
Satgas MTF Konga XXVIII-G/UNIFIL pimpinan Letkol Laut (P) I Gung Putu Alit Jaya ini berkekuatan 100 personel TNI AL, terdiri dari 88 personel awak kapal perang, pilot dan tujuh personel kru Heli, perwira kesehatan, Kopaska, penyelam dan perwira intelijen serta perwira penerangan masing-masing satu orang.

Dalam sambutannya, Moeldoko mengatakan, misi ini merupakan misi ketuju bagi Indonesia, setelah Dewan Keamanan PBB memperpanjang mandat tugas UNIFIL hingga 31 Agustus 2015. Mandat itu berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2172 tahun 2014.


"Resolusi tersebut mendorong negara anggota PBB untuk meningkatkan kemampuan Tentara Nasional Lebanon dan menegaskan pembentukan zona bebas senjata di Lebanon Selatan," kata Moeldoko di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (16/10/2014).

Moeldoko berpesan, prajurit yang sedang melaksanakan tugas operasi di lapangan harus selalu membekali diri dengan pengetahuan terkait role of engagement yang terkait dengan otoritas UNIFIL.

Peraturan itu, kata dia berguna untuk mengambil tindakan yang diperlukan di daerah operasi dan menghindari kerugian personel dan materil.

"Pahami aturan pelibatan, komando dan kendali komando CTF-448 guna menghindari kesalahpahaman antar unit tugas," kata Moeldoko. (Sindo)

Tank Amfibi Marinir Kena Ranjau Darat Saat Evakuasi Korban

Posted: 16 Oct 2014 07:43 PM PDT

Kendaraan tempur (ranpur) Amfibi Korps Marinir TNI AL LVT-7A1 terkena ranjau darat saat mengevakuasi korban di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya.

Sebelumnya, Ranpur LVT-7A1 sedang dalam perjalanan mengevakuasi seorang prajurit Korps Marinir TNI AL yang mengalami luka tembak. Di tengah perjalanan, kendaraan tempur Korps Marinir TNI AL tersebut terkena ranjau darat sehingga tidak dapat meneruskan perjalanan.


Tank Amfibi Marinir Kena Ranjau Darat Saat Evakuasi Korban
Kendaraan tempur (ranpur) Amfibi Korps Marinir TNI AL LVT-7A1 terkena ranjau darat saat mengevakuasi korban di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya. (Istimewa)

Setelah koordinasi dengan satuan atas, datanglah bantuan satu buah Heli Bell dari Pusat Penerbangan TNI AL yang membawa prajurit Taifib-1 Marinir untuk melaksanakan evakuasi korban yang berada di LVT-7A1. Dengan seutas tali, prajurit Taifib-1 Marinir berhasil membawa naik prajurit yang luka tembak dari dalam LVT-7A1 ke Heli Bell, kemudian heli terbang membawa prajurit yang luka menuju RSAL Dr. Ramelan Surabaya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Kejadian tersebut merupakan sebagian dari skenario evakuasi medis di medan pertempuran yang dilaksanakan prajurit Korps Marinir TNI AL pada peringatan Hari Kesehatan TNI AL tahun 2014 di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis (16/10/2014).

Asisten Personel Kepala Staf Angkatan Laut (Aspers Kasal) Laksamana Muda TNI Djoko Teguh Wahojo bertindak sebagai inspektur upacara.

Dalam amanatnya, Aspers Kasal mengatakan bahwa peringatan Hari Kesehatan TNI AL yang dilaksanakan secara terpusat di Surabaya tersebut pada hakikatnya merupakan momentum bagi seluruh anggota dan keluarga TNI Angkatan Laut.

Selain itu, sebagai wahana yang tepat bagi jajaran kesehatan TNI AL untuk melaksanakan introspeksi serta evaluasi dalam melaksanakan tugas dan pengabdiannya, terutama  tugas dalam mewujudkan anggota dan keluarga TNI AL yang sehat jasmani dan rohani melalui dukungan pelayanan kesehatan secara profesional, dengan mengutamakan pelayanan yang optimal kepada seluruh anggota beserta keluarganya.

Menurutnya, pembinaan kesehatan bukanlah menjadi tanggung jawab jajaran kesehatan TNI Angkatan Laut semata, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh personel TNI Angkatan Laut termasuk peran keluarga para prajurit dalam membina kesehatan diri sendiri.

"Sehingga, seluruh personel dan keluarga TNI Angkatan Laut tertanam dalam dirinya kebiasaan untuk berperilaku hidup sehat," kata Djoko.
(Sindo)

Drone Buatan AS Tercanggih di Dunia, Bagaimana dengan Drone RI?

Posted: 16 Oct 2014 07:36 PM PDT

Drone atau pesawat tanpa awak merupakan alat pertahanan canggih yang ada saat ini. Drone tercanggih di dunia saat ini masih diproduksi Amerika Serikat (AS) dengan harga yang cukup mahal.

Drone Buatan AS Tercanggih di Dunia, Bagaimana dengan Drone RI?
Drone LSU Buatan Lapan

"Drone itu, Pak Jokowi mengatakan harganya Rp 3 triliun/unit. Mahal karena memang alat UAV pertahanan yang dibuat Amerika. Di Amerika dia bisa mengontrol sampai ke Afghanistan dan menghancurkan musuh," kata Laksamana (Purn) Tedjo Eddy di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (16/10/2014).

Sementara itu, Eddy mengakui, perusahaan lokal juga telah dapat memproduksi drone. Namun dalam hal teknologi, drone dalam negeri tidak secanggih AS.

"Kita ada industri dalam negeri yang mampu membuat drone dengan teknologi yang sudah ada. Mereka sudah hadir kemarin dan sudah diperlihatkan drone jaraknya baru 50 km, tetapi kan bisa dikembangkan," papar pria yang disebut-sebut jadi calon Menko Maritim pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) ini.


Walaupun teknologi drone dalam negeri masih terbatas, tetapi ia tetap bangga perusahaan lokal sudah bisa memproduksi drone. Apalagi dengan harga yang lebih murah, industri drone lokal dinilai akan semakin berkembang.

"Kita sudah bisa buat itu sehingga anggaran bisa dihemat," cetus Ketua Umum DPP Ormas Nasional Demokrat ini.

Drone atau pesawat tanpa awak di dalam negeri salah satunya sudah diproduksi oleh Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan). Lapan sudah membuat pesawat tanpa awak atau disebut Lapan Surveillance Unmanned (LSU) Aerial Vehicle.

Lapan sudah memulai memproduksi pesawat tanpa awak sejak 2011, seiring pengembangan program penerbangan nasional. Pesawat tanpa awak pertama yang dibuat dan dikembangkan Lapan adalah jenis Lapan Surveillance UAV-01X.

Lapan Surveillance UAV-01X adalah jenis pesawat tanpa awak berukuran kecil yang membawa kamera seberat 1,5 kg. Cara menerbangkan pesawat ini cukup hanya dilempar dan dapat mengudara selama 30 menit sepanjang 40 km, dengan daya tinggi jelajah 500 meter.

Setelah itu, Lapan kemudian mengembangkan LSU 02 dengan ukuran dan tingkat daya jelajah lebih besar dibandingkan 01X. Teknologi yang digunakan juga jauh lebih tinggi dibandingkan 01X.

Lapan Surveillance Unmanned Aerial Vehicle-02 atau LSU 02 terbang sejauh 200 kilometer dengan kecepatan terbang mencapai 100 km/jam. LSU 02 memiliki bentang sayap 2.400 mm dengan panjang beda 1.700 mm. Pesawat tanpa awak ini dapat digunakan untuk keperluan Airbone Remonte Sensing dengan tinggi daya jelajah 3.000 meter. (Detik)

Khafids, Prajurit yang Sering Juara Menembak

Posted: 16 Oct 2014 06:05 PM PDT

Selain menjadi salah satu prajurit TNI AD, Sersan Satu (Sertu) Abdullah Khafids, juga sukses mengukir prestasi yang cukup mentereng di bidang menembak. Bati Protokol Staff Personil Kodam IV Diponegoro ini ternyata banyak menjuarai berbagai perlombaan di bidang menembak reaksi. 

Sersan Satu (Sertu) Abdullah Khafids. foto : andika prabowo/sindonews.com
Antara lain, menjadi juara 1 Divisi Standar Grade C lomba tembak terbuka International Practical Shooting Confederation (IPSC) Kandang Menjangan Campionship yang diselenggarakan Danjen Kopassus Cup tahun 2013. Juara 3 Divisi Standar Jateng & DIY, serta berhasil menjadi juara dua kelas Grade C Kepulauan Riau Open pada September 2014 lalu.

Saat ditemui usai acara peringatan HUT ke-69 TNI dan HUT ke-64 Kodam IV/Diponegoro beberapa waktu lalu, Khafids menceritakan kisah suksesnya itu. Menurutnya, keberhasilannya itu tidak dicapai dalam waktu singkat dan memerlukan latihan ekstra keras setiap hari.


"Untuk berprestasi seperti sekarang ini, saya terus latihan selama empat tahun terakhir. Setiap hari saya terus melatih kemampuan menembak saya agar lebih baik lagi," kata Khafids mengawali obrolan.

Awalnya, suami dari Ekawati ini mengaku cukup terkendala untuk mengembangkan bakatnya di bidang menembak itu. Sebab, sarana prasarana yang tidak mendukung waktu itu untuk berlatih.

"Sehingga saya berlatih dengan sarana seadanya. Tapi setahun terakhir saya bersyukur sudah mendapat fasilitas dari Kodam IV Diponegoro dan dari Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) Jateng sehingga membuat latihan saya semakin mudah," imbuhnya.

Meski telah mencatatkan prestasi cukup mentereng di bidang kejuaraan menembak reaksi, namun semangat Khafids belum juga terpuaskan. Ia mengaku akan terus berusaha dan berlatih untuk menjadi yang terbaik.

 "Setiap ada kejuaraan saya usahakan bias mengikutinya. Yang saya impikan adalah menjadi pemenang dalam perlombaan menembak reaksi internasional," papar ayah dari Ade Muhammad Iqbal dan Nauval Aidtya Rahman ini sambil tersenyum.

Khafids tak menutupi perasaan bangganya atas hasil dari jerih payahnya itu. Menurutnya, prestasi yang diraihnya selama ini dapat membanggakan diri dan keluarganya sekaligus membanggakan kesatuannya yakni Kodam IV Diponegoro dan TNI.

Tak lupa, ia juga berpesan kepada seluruh jajaran tentara terutama yang masih muda untuk mengikuti jejaknya. Menurutnya, semua dapat mengikuti jejaknya dalam rangka menjadi tentara yang berprestasi tidak hanya dalam tugas resmi Negara.

"Selain menunaikan kewajiban sebagai tentara, kita juga dapat berprestasi di berbagai bidang lainnya. Tentunya harus dilakukan dengan tekun dan terus berlatih. Pesan saya, keinginan dan motiviasi tinggi adalah kunci untuk meraih prestasi," pungkasnya sambil tertawa. (Sindonews)

Pengamat - Ketahanan Ideologi RI Rapuh

Posted: 16 Oct 2014 01:51 AM PDT

Disampaikan oleh Letnan Jenderal TNI (Purn) Suharto, mantan komandan Korps Marinir ke 12, dalam Seminar Terbatas Global Future Institute (GFI) bertajuk: "Menuju Ketahanan Nasional di bidang Pertahanan, Energi dan Pangan," Kamis 9 Oktober 2014.

 
Letnan Jenderal TNI (Purn) Suharto

Ketahanan atau resillience  itu adalah tugas dari semua unsur. Memang ketahanan yang kita butuhkan sekarang ini ketahanan pangan dan energi. Tapi di balik itu kalau kita mau tahu, mungkin yang paling rapuh adalah ketahanan ideologi kita. Ideologi kita sangat rapuh. Semua sudah menuju kepada liberalisme. Tersinggung sedikit kita (main) hajar. Pemuda dengan pemuda berantam. Kampung dengan kampung berantam. Tersinggung berantam. Karena apa ini terjadi? Pengaruh daripada HAM.

Sebetulnya kita punya HAM lebih bagus, yaitu Kemanusian yang Adil dan Beradab. Waktu saya selesai menjabat Dankommar, saya dipanggil oleh Komnas HAM. Waktu Gus Salahudin Wahid. Saya katakan, "Gus saya datang kali ini, tapi berikutnya saya ingin datang bila Komnas HAM ini berubah menjadi Komnas Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ini lebih mulia. Karena disini melekat bukan cuma hak, tetapi melekat juga kewajiban kita. Kewajiban sebagai manusia dan kewajiban kita sebagai bangsa. Jadi HAM kita harus dalam kerangka hak azasi bangsa."  Dan Gus Sholah katakan, "Tidak akan panggil lagi Pak Harto. Saya sudah tahu posisi Anda."
 


Sedangkan pada waktu perdebatan calon presiden berlangsung, saya melihatnya agak aneh. Kita sama-sama tau, apalagi yang pernah di Lemhanas. Kalau kita bicara dalam konstalasi politik dan hubungan internasional, memang kita harus berangkat dari tiga unsur, yaitu Geostrategi, Geopolitik dan Geologistik (Geoekonomi).

Dengan mengupas ketiga hal ini, akhirnya kita bisa membuat suatu konstruksi dari perkembangan lingkungan strategik. Baik yang ada di luar, di regional maupun di nasional. Atas dasar itu baru kita tau strategi ini akan olah menjadi seperti apa taktik kita,  utamanya dalam menghadapi ancaman. Kemarin saat debat berlangsung saya tidak melihat itu. Baik dari pihak Prabowo apalagi dari pihak Jokowi.

Kemudian saya tanyakan kepada Prabowo, kenapa tidak kupas hal itu. Apa jawaban Prabowo? "Mas, (alasan) saya tidak mengupas (Geostrategi, Geopolitik dan Geologistik) bukan apa-apa. Rakyat di daerah tidak mengerti kalau saya bicara geopolitik. Rakyat tidak mengerti kalau saya bicara geostrategi dan lain-lain. Jadi saya berusaha untuk mendekatkan dengan bahasa rakyat."

Tapi lebih aneh lagi Jokowi. Tiba-tiba saja dia bicara poros maritim. Apa itu? Saya orang maritim, saya tahu. Luas Indonesia itu satu setengah kali dari Eropa. Padahal Eropa yang hanya dua pertiga dari Indonesia itu diisi oleh 27 negara. Saya berpikir yang dimaksud dengan poros maritim itu apa. Indonesia itu adalah benua maritim, bukan negara maritim. Poros itu opo, saya tidak mengerti. Lebih lagi ketika dia ngomong tol laut. Itu tidak tepat.

Lebih tidak tepat lagi dia bicara soal tank Leopard. Yang lebih lucu Leopard dibandingkan dengan Anoa. Leopard itu main battle tank, sementara Anoa itu panser. Saya nggak mengerti dia mengatakan seperti itu. Tetapi saya tahu siapa yang mengusulkan itu.

Jadi, kalau saya bicara Sishankamrata (Sistem Pertahanan-Keamanan Rakyat Semesta),  bukan saya bermaksud membingungkan rakyat, tetapi juga tidak ingin membingungkan Jokowi juga. Akhirnya saya mengambil jalan tengah, dan tidak boleh terkesan mengadili. Begitu kata Prabowo Subianto kepada saya.

Sistem pertahanan kita sebenarnya sistem Hankamrata, yaitu sistem pertahanan rakyat semesta. Jadi kalau kita mau jujur, alutsista kita yang paling utama, bukan lagi kita bicara pada main bettle tank, bicara kapal yang tangguh dan lain-lain. Alutsista yang paling pokok adalah rakyat.

Undang-undang wajib militer itu harus ada. Bukan berarti negara kita akan dijadikan negara militerisme, tidak.  Kita ingin menjadikan rakyat kita mempunyai kemampuan membela negara dan mempunyai satu sikap disiplin.

Perlu Membangun Komando Pasukan Pengamanan Perbatasan

Kepada Prabowo ketika itu, saya katakan pertama yang perlu dibuat adalah komando pasukan pengamanan perbatasan. Sepanjang 2010 kilometer itu minimal mempunyai lima divisi. Tentara ini jangan disuruh berkumpul semua di Jakarta. Seharusnya ditempatkan diperbatasan. Rakyatnya diberikan lahan tiap orang diberi tiga hektar, ditanami kelapa sawit disepanjang itu. Ini artinya ada transmigrasi.

Yang dilontarkan Jokowi itu adalah konsep dari kami. Delapan program aksi yang kami buat ketika tahun 2009-2010. Sekarang dilengkapi oleh mereka dan menjadi sembilan program aksi.

Kita mengusulkan harus ada satu kementerian kependudukan. Disitu ada dirjen transmigrasi, disitu ada dirjen TKI, organisasi dan lain-lain. Jawa ini sudah terlalu penuh. Sudah menjadi kota pulau. Ini harus dikeluarkan. Inilah salah satu konsep ketahanan.

Jadi manusia yang ada di Indonesia ini harus kita diversifikasi ke keluar. Berikut juga tentaranya. Sekarang ini kita masih menggunakan konsep Belanda. Konsep Belanda itu dipakai untuk menguasai Indonesia, kuasailah pulau Jawa. Sehingga tentara itu terkonsentrasi di Jawa semua. Padahal semua persoalan pertahanan nasional kita justru terjadi di wilayah  peripheral atau pinggiran. Wilayah periferal tidak ada yang ngawal. Kesalahan kita adalah, kekuatan nasional tidak divifersifikasi. Sehingga kekuatan nasional kita tidak menyebar secara merata.  

Jokowi pernah bicara tentang drone. Drone itu cuma mampu terbang selama empat jam. Drone itu hakekatnya hanya sebuah pesawat tempur, jadi tidak cocok untuk didayagunakan di medang peperangan.  Sebagai pesawat tempur, Kalau Drone itu hanya bisa mengambang empat jam. Setelah itu, harus diganti lagi, daya jangkaunya terbatas. Jadi untuk memperkuat pertahanan nasional kita, bukan itu sebenarnya yang kita perlukan.

Yang betul itu seharusnya kita harus punya satelit untuk pengawasan. Di ABRI dulu, di setiap pos-pos komando besar ada yang namanya SBK (Satelit Bumi Kecil). Kita bisa langsung mengetahui bila ada pencuri ikan dari mana saja. Dan itu cukup dipantau dalam satu malam oleh empat sampai lima orang saja. Bukan pakai Drone.

Sayangnya satelit Palapa itu dulu dijual oleh Megawati ketika masih menjadi presiden. Tadi pak Dirgo D Purbo katakan kapal tanker yang ke Indonesia dikawal oleh tentara Srilangka. Saya Cuma mikir, itu kapal siapa? Soalnya tanker itu juga dijual oleh Megawati. Saya tidak tahu. Bukan saya anti Megawati. Saya Nasionalis, saya pengikut ajaran bapaknya, Bung Karno.  Sebagai nasionalis yang sedjati,  seharusnya kita mempunyai konsep seperti beliau.

Sistem Bernegara Harus Dibenahi dari Atas

Ketahanan kita luntur karena sistem bernegara kita hancur. MPR kita dibuat sebanci-bancinya. Sehingga MPR harus membuat GBHN. GBHN harus dikerjakan oleh mandataris. Sekarang ini tidak. Presiden punya rencana, kerjakan sendiri dan pertanggungjawabkan sendiri. Ini yang disebut tirani. Harusnya tidak seperti itu.

Sama juga kalau kita lihat Pertamina. Pertamina kita lemahkan, kita lepas BP Migas. Saya tidak tahu gimana. Akhirnya media dikuasai para pengelolanya yang berorientasi komersial, sehinga media kita dikuasai orang lain, akhirnya selesailah kita semua.

Kita punya ketahanan dipreteli. Pernah angkatan laut di Banyuwangi membuat kapal laut, yang tidak bisa dipantau dari atas. Tetapi kemudian  dibom. Seratus persen saya tahu itu. Saya tahu siapa yang  punya ide membomnya. 

Ketika saya masih memimpin Komandan Korps Marinir, saya tahu ini adalah kesatuan yang paling Sukarnois. Ora dibandhani opo-opo (Tidak pernah diberi anggaran yang cukup memadai untuk memperkuat dirinya) dari mulai kemerdekaan sampai sekarang. Tank saya itu adalah tank buatan tahun 1958-1960. Supaya 700 tank jalan waktu itu, saya utus perwira ke Belanda, ke tempat rongsokan bekas perang dunia ke dua untuk mencari spare part. 

Ketahanan kita sangat kurang. Sehingga kita bisa dilecehkan Malaysia. Kalau ditanya apa yang dipakai untuk pertahanan, saya tidak mau membeli barang yang mahal semua, seperti Scorpion, Leopard, Shukoi. Saya cukup beli Surface to Surface Missile (SSM). Pasang di sepanjang pantai timur Sumatera. SSM kita beli aja. Kalau tidak boleh beli dari Cina, beli dari Rusia. Masih tetap saja tidak  boleh, kita bisa beli dari Ukraina. Bila perlu beli dari Korea Utara yang punya kemampuan 300 sampai 400 kilometer. Murah kok itu. Untuk apa harus beli mahal-mahal.

Sekarang ini yang harus dibenahi adalah sistem bernegara dari atas. Jadi sistem bernegara kita harus kita tempatkan rakyat setinggi-tingginya. MPR jangan seperti pemilihan ketua beberapa waktu yang lalu, saya malu.

MPR harus kembali menjadi lembaga tertinggi. Untuk bisa menghapus undang-undang pro asing itu, harus kita kembali kepada undang-undang 1945. Dan kita kembali berdayakan MPR.

Pertamina supaya dijadikan betul-betul perusahaan negara, harus kembali pada Pasal 33 UUD 1945. Itu baru bisa kita menjadi berdaulat. Kembali menjadi jati diri kita sendiri. Harus berani, kalau tidak sudah terus kita dikerjain.

Pertahanan dan ketahanan kita harus kembali kepada konsep dasar kita, yaitu Hankamrata. Dimana sebetulnya pertahanan ini adalah kewajiban daripada seluruh rakyat Indonesia. Jangan kita cepat sekali terpengaruh, misalnya shukoi lebih baik atau F16 lebih baik. Tidak usah.

Shukoi, F16  dan F15 tidak pernah bisa mengalahkan Vietnam. Tidak pernah bisa mengalahkan Iran. Tidak pernah bisa mengalahkan Venezuela. Karena ketiga negara itu bukan kekuatan alutsista seperti itu yang diutamakan, tetapi yang diutamakan adalah disiplin rakyatnya.

Bicara pertahanan negara, kita harus kembali kepada pertahanan hati kita. Kita melihat banyak pemimpin kita berbohong. Padahal seharusnya tidak seperti itu. Pemimpin boleh salah, tetapi tidak boleh berbohong. Kalau salah itu manusiawi.

Kalau pemimpin kita berbohong, kita tidak perlu memikirkan alutista, tidak perlu bicara pertahanan. Sepuluh tahun lagi negara kita ambruk dengan sendirinya. 

Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Dirgo, terkait food and energy. Kemudian juga paparan terkait dengan 3G. Memang ini konsep umum kita.

Kita harus mengetahui bahwasannya tahun 1945 sampai dengan 1975, itu adalah era Atlantik. Di tahun itu semua negara di sekitar Atlantik menjadi negara yang makmur. Tahun 1975 sampai dengan 2005, itu era Pasifik. Semua negara di sekitar Pasifik makmur, kecuali Indonesia. Tahun 2005 sampai 2025, itu adalah era lautan Hindia. Harusnya Indonesia ikut makmur. Apabila kita mendapatkan jati diri bangsa dan apabila kita mendapatkan kepercayaan, bahwa bangsa kita mampu untuk berdiri sendiri.

Oleh karenanya di bidang pertahanan, saya pertama-tama hanya ingin berbicara masalah bagaimana kita membangun manusianya. Bukan persenjataannya. Jadi manusia yang mengawasi persenjataan. (GFI)

Perbandingan Anggaran Pertahanan Negara ASEAN

Posted: 16 Oct 2014 01:37 AM PDT

Anggaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) memang lebih kecil jika dibandingkan dengan negara Adidaya seperti Amerika Serikat (AS). Lantas, bagaimana kekuatan TNI di Asia Tenggara (ASEAN)?

Perbandingan Anggaran Pertahanan Negara ASEAN

Berikut komparasi anggaran pertahanan di negara ASEAN pada 2013, seperti dilansir dari data World Bank. Anggaran pertahanan tersebut, merupakan persentase dari pertumbuhan domestik bruto (PDB) yang dikonversi dengan kurs APBN-Perubahan sebesar Rp11.600 per USD.

Singapura
Sebesar 3,3 persen dari USD297,941 miliar, yakni USD9,832 miliar atau sebesar Rp114,051 triliun.

Brunei Darussalam
Sebesar 2,6 persen dari USD16,111 miliar, yakni USD418,886 juta atau sebesar Rp4,859 triliun.


Vietnam
Sebesar 2,2 persen dari USD171,391 miliar, yakni USD3,770 miliar atau sebesar Rp43,738 triliun.

Kamboja
Sebesar 1,6 persen dari USD15,249 miliar, yakni USD243,984 juta atau sebesar Rp2,830 triliun.

Malaysia
Sebesar 1,5 persen dari USD312,435 miliar, yakni USD4,686 miliar atau sebesar Rp54,363 triliun.

Thailand
Sebesar 1,5 persen dari USD387,252 miliar, yakni USD5,808 miliar atau sebesar Rp67,381 triliun.

Filipina
Sebesar 1,3 persen dari USD272,017 miliar, yakni USD3,536 miliar atau sebesar Rp41,020 triliun.

Indonesia
Sebesar 0,9 persen dari USD868,345 miliar, yakni USD7,815 miliar atau sebesar Rp90,655 triliun.

Laos
Sebesar 0,2 persen dari USD11,141 miliar, yakni USD22,282 juta atau sebesar Rp258,471 miliar.

Dari data tersebut, tercatat anggaran Indonesia merupakan anggaran paling besar kedua, setelah Singapura. Hanya saja, jika melihat persentase terhadap PDB, maka Indonesia memiliki persentase kedua paling kecil.  (Okezone)

Unknown Friday, October 17, 2014